Cerbung

WARUNG SAYUR BU SARIYAH episode 9 – Serangan DBD

April 26, 2019

Dua hari anak mbak Erna yang baru berumur tiga tahun mengalami panas dan tidak turun-turun, setelah diperiksa ternyata terserang DBD Pak Marzuki ayah Erna melaporkan ke pak Adnan sebagai ketua RT dan mengajak lapor Kelurahan , ternyata banyak yang melaporkan kejadian ini. Pak Lurah melaporkan ke Dinas Kesehatan dan saaat itu juga segera dilakukan fogging untuk memberantas nyamuk dan jentiknya. Bu Sariyah dan pak Bambang memberesi dan mengamankan dagangannya dari pengaruh fogging , cuaca panas dan hujan yang mulai tak beraturaan membuat nyamuk merajalela bu Sariyah menyetok obat nyamuk bakar banyak sekali untuk mengatisipasi terjadinya DBD karena obat nyamuk semprot sudah kebal dan hanya membuat pingsan nyamuk tersebut . Bu Sariyah mencari benda-benda yang tak terpakai dan sekiranya cocok untuk bertelur nyamuk-nyamuk untuk dimusnahkan . Hasil rapat kelurahan RTnya pak Marzuki mendapat giliran Minggu ke 2 jatuh hari Jum’at . Fogging berlangsung pukul 09.00 sampai pukul 12 untuk masing-masing RW dimulai dari yang terbanyak terserang DBD dalam satu kelurahan. Kebetulan saat ini masih giat-giatnya kampanye pilpres / pilleg dan dimanfaatkan mereka para pendukung partai mencari simpatisan masyarakat. Pak lurah membagi tugas masing-masing partai untuk membantu pemerintah sehingga dalam waktu kurang dari satu bulan kelurahan tersebut bebas DBD. Sekolahan Aris pun mendapat giliran fogging juga dan Aris masuk panitia pelaksanaannya. Pak Bambang bangga pada Aris yang begitu tanggap dan cekatan membantu sekolahnya yang masih dalam satu rayon. Pak Lurah meminta bantuan PMI [ Palang Merah Indonesia ] untuk memberikan pelayanan pemeriksaan gratis pada rakyatnya berpusat dikelurahan , karena asumsi masyarakat begitu besar maka PMI menambah dokter dan perawat. Obat-obatannya pun gratis tapi juga menyediakan obat siap layak beli langsung sesuai kebutuhan masyarakat

Rumah Sakit Kasih Ibu membantu Palang Merah Indonesia / PMI karena banyak pasien yang diluar dugaan ditemukan penyakit yang ternyata harus ditangani secara intensive sehingga disediakan ambulan untuk membawa pasien ke RS terdekat. Dr Kurniawati yang berpraktek di Gajah Raya amat kaget ditelepon RS Kasih Ibu yang mengabarkan kalau putrinya yang bernama Yulia opname, terserang DBD stadium III yang terjaring waktu pemeriksaan PMI dan dirujuk RS Kasih Ibu . Tiga puluh menit kemudian dr Kurniawati sudah sampai di RS Kasih Ibu dan konsul langsung Pof. Doktor Soemantri. dr. Kurnia menangis melihat putrinya yang terkulai lemas dan memohon prof Soemantri menangani Yulia putri bungsunya. Murni pembantu dr Kurnia menjaga Yulia seperti adiknya sendiri , dia takut karena membawa Yulia ke pengobatan gratis tadi siang dan malah Yulia jatuh sakit mondok pisan.Begitu bayangan yang difikirkan Murni setiap Yulia merintih. Wajah bu Wayan tetanga dr Kurnia membayang ketika mengajak Murni menemani berobat saat masih bermain dengan Yulia momonganya.

Dr. Kurnia bersama petugas laboratorium menuju ruangan Yulia , dr. Kurnia memeluk Yulia mencium serta memeluk penuh kasiih. ” Sayang… mama ambil obat dulu ya…. Yulia sama mbak Murni dulu ya sayang..” Yulia masih memeluk ibunya dan tiba-tiba hidung Yulia mengeluarkan darah menempel dipipi dr.Kurnia yang sontak membuat strees dan memanggil petugas laborat memberikan blanko permintaan darah dari prof Soemantri dengan jenis Thrombocyte Concentrate ke PMI. “Mas ditunggu cito ini, darah sudah disiapkan PMI saya sudah telpon” .Petugas segera berangkat , Prof Soemantri mendekati dr Kurnia dan berkata ” Sabar ya.. untung ada mbaknya itu yang memeriksakan di PMI meskipun hampir terlambat masih bisa kita tangani” , dr Kurnia baru sadar dari tadi Ia bingung dan tak menyapa Murni sedangkan Murni sendiri ketakutan kalau dr Kurnia marah . Infus ditambah sambil menunggu darah, thrombocyte Yulia semakin turun kondisi Yulia semakin lemah dan Kurnia memeluknya terasa badan Yulia yang panas membuat hati Kurnia serasa teriris. Murni izin keluar mau cari makan, dr Kurnia memberikan uang sambil minta dibelikan juice jambu merah . Yulia gelisah panasnya tinggi memanggil-panggil papanya yang masih tugas belajar di Belanda . Kurnia meminta perawat menungguinya tak tahan dia mendengar tangisan putri terkecilnya mengigau, tangisnya meledak ketika telpon tersambung dengan suaminya di Den Haag Belanda. ” Mas ….pokoknya kamu cuti dulu , Yulia butuh kamu…” pinta Kurnia pada Salman suaminya yang sedang mendapat tugas belajar. Salman berjanji malam ini segera pulang setelah memperoleh izin. Anak-anak dr.Kurnia datang sambil membawa pakaian ganti dan meminta Murni istirahat di rumah. Sarju si sulung dan Sayid adik Sarju memeluk Kurnia dan mencium Yulia bergantian. Setelah Murni makan segera pamit pulang dan Sarju mengantarkan . Bu Wayan sudah menunggu kepulanngan Sarju untuk menanyakan keadaan adiknya Yulia dan Murni menyuruh masuk tamu-tamu yang sedari tadi menunggu. ” Maaf ibu-ibu , kami amat capek insyaAllah besok pagi saja bagaimana ? ” kata Sarju. ” Mas kami mau ngomong sama Murni boleh kan ?” kata bu Wayan, dan Murni mempersilakan duduk diteras. Murni menceritakan keadaan momongannya. ” Owh jadi keluar bintik-bintik merahnya ya…kasihan sekali” begitu komentar bu Zamroni yang ikut nimbrung di RT sebelah dalam hati bu Zamroni akan mengabarkan berita ini ke bu Adnan dan bu Marzuki di Warung bu Sariyah malam ini mumpung mereka sedang kumpulan. Bu Zamroni pamit pulang dan lansung ke bu Sariyah.

“Bagaimana kabarnya Yulia bu ?” tanya bu Adnan pada bu Zamroni “Kata Murni masih di Rumah Sakit bu, ruang Bougenvile lantai IV . Bu Adnan dan yang lainnya berencana bezoek besok jam 10 pagi. Perkumpulan itu selesai dan mereka pulang sementara itu bu Sariyah mulai mencatat rencana blanja besok pagi dan meracik sayur untuk besok juga.Ibu menuju kamar Aris yang masih terbuka, ternyata Aris masih belajar. Pak Bambang menyuruh bu Sariyah tidur duluan karena ada pak Sastro dan mas Gandung minta dibuatin mie kuah dan warung akan ditutup nanti saja sambil ngobrol. Hand Phone pak Bambang berdering ternyata dari mbokde Sumalem dari Desa Purwodadi. “Nopo Dhe kok bengi-bengi telpon ? ” ” Pakne Aris aku sido budal Semaranng subuh ngesok, aku di pethuk ning pasar Mranggen jam songonan yo..sampekno Sariyah mau tak bel hapene mati ” Pak Bambang senang sekali istrinnya sudah ada yang bantu tapi dia tak membangunkan istrinya . Mas Gandung dan pak Sastro pamit karena sudah ngantuk dan pak Bambang segera menutup warung matanyapun sudah mulai pedas tapi tak bisa tidur dan melihat ruang dapur tempat jemuran serta cucian sampai kekamar Aris , pak Bambang menggunakan meteran mengukur area tersebut dan ia manggut-manggut membuka buku tabungannya ” insyaAllah cukup ,”begitu gumannya. Setelah shollat subuh buSariyah mulai aktivitas dibantu suaminya , pak Bambang menceritakan kalau mbokdhenya Sumalem akan membantu Sariyah dan juga akan merenovasi bagian belakang sekalian di tingkat yang nantinya warung depan akan di tingkat juga sambil nunggu tabungan. ” Baik pak terserah sampeyan trus kamar Dhe Sumalem juga akan dibuat kan pak ?” bu Sariyah memastikannya. ” Justru adanya dhe Malem itu bapak merenovasi rumah bune , agar kamu tak capek” jelas pak Bambang dan bu Sariyah senang sekali mendengarnya.

Tossa Hercules pak Dalijo masuk , bu Sariyah langsung menemui sambil membawa catatan dan dompet, pak Bambang menggoreng mendoan dan tahu isi sambil menunggu sayur lodeh masak. Aris sudah mandi dan ia minta bapaknya untuk membuatkan telur ceplok dua katanya lapar banget dan pak Bambang membuatkan telur permintaan Aris. Bu Sariyah membayar semua kiriman pak Dalijo dan memasukan ke warung sekalian mengatur dagangan tersebut. Aris membantu sebentar dan segera pamit berangkat sekolah setelah mendapat uang saku dari ibunya. Mas Raka dan mas Untung datang untuk minta sarapan ” Selamat pagi semuanya…” begitu sapaan Raka yang dihafalin bu Sariyah dan Pak Bambang, hafal dengan ucapan itu bu Sariyah langsunng jawab ” Selamat pagi juga mas Raka dan mas Untung mau sarapan apa pagi ini ?” “Mi kuah pakai telur yang pedas minumnya teh hangat” kata mas Untung cepat dan Raka meminta telur dadar, plus sambal terong. Ibu segera melayaninya. Telepon pak Bambang bunyi rupanya dari dhe Sumalem yang minta dijemput cepat. Pak Bambang segra pamit dan menstater angkotnya. Bu Marzuki datang melihat keperluan perlengkapan yang akan dibawa bezoek nanti. ” Loh pak Bambang kemana bu ? ” tanya bu Marzuki ” Jemput mbokdhenya yang akan bantu di warung bentar lagi sampai” jawab bu Sariyah. Mas Raka dan mas Untung membayar makananya dan segera pamit.. “Naah itu mereka sudah datang bu Marzuki” teriak bu Sariyah. “Iya bu, kita segera persiapan jam 10 sudah kumpul, tapi saya mau beli beras sama telur juga sayur dulu ya bu ” kata bu Marzuki. Mereka menuju warung sementara dhe Malem mengangkat bentoel dan rengginan oleh-oleh dari Purwodadi. ” Sariyah iki krupuk rambak gaweane Asih mantuku bojone Budi, enakke puol tenan, tak gorenge yo…?” “Iyoo dhe goreng saiki …marai pingin ” Bu Marzuki kenalan sama dhe Malem dan dibawakan rengginan sama bentoel . Bu Marzuki sudah selesai berbelanja dan segera pulang, bu Sariyah menyuruh dhe Malem membuat sayur bening bayem, sambal dan gorengan juga goreng krupuk serta mengajarinya kebiasaan memasak juga melayani pelanggan ” Ra usah ngedoli yen ora pakem regone, sing ngerti wae mbok layani yo dhe ? ” Dhe Malem mengangguk-anngguk sambil menghafalkan harga. Pak Bambang membersihkan angkotnya pak Kamto,sementara bu Sariyah siap-siap ke Rumah Sakit . Bu Zamroni sudah datang dan melihat parcel buah yang akan dibawanya juga Bolu Pandan dan juice melon yang dibuat bu Sariyah barusan.

Jam 10 mereka berangkat menuju Rumah Sakit Kasih Ibu, dhe Malem sendirian, dia bingung lihat uang dikotak duwit banyak banget dan belum digendeli dan menutupnya lagi sambil goreng tahu isi dan mendoan dhe Malem meladeni mas Raka dan empat temannya minta dibuatkan mie instan pakai telur minumnya es teh . ” dhe Malem saya Raka kosnya di depan itu rumah pak Adnan dan ini mas Untung kosnya disamping di rumah pak Sastro dhe Malem jangan bingung dan gak perlu takut tadi saya ketemu bu Sariyah di Rumah Sakit waktu mau pulang habis rapat dan katanya suruh nemeni mbokdhe sampai bu Sariyah pulang” “Beneran mas , mbokdhe goreng krupuk rambak mongo diincip ” Dhe Malem senang ternyata mereka petugas rumah sakit. “La yang sakit iku omahe ngendi mas Raka ” tanya dhe Malem. Dalam hati Raka berfikir kalau dhe Malem bahasa Indonesianya jelek. “Omahe konno bangjoo ngulon sing sakit bocah cilik anake dokter keno Demam Berdarah ” Dhe Malem mantuk-mantuk. ” Mas karo tak sambi gorengi gih ?” ” Gih dhe…krupuke enak nyampleng tenan ” Dhe Malem mesem sambil membalik gorengan. Sementara itu di Rumah Sakit Yulia ditunggui Salman papanya yang baru pulang dari Den Haag Belanda dokter Kurnia masih dipanggil Profesor Agus Soemanti. Pak Salman mempersilahkkan tamunya masuk. Yulia kelihatanya sudah sehat dan bu Sariyah memberikan juice melon untuk diminum. Pak Salman ngobrol dengan pak Bambang. ” Juicenya enak bisa tambah lagi ?” kata Yulia. Bu Sariyah senang sekali dan membukakan juice lagi, Pak Salman terharu melihat Yulia meminum habis dan minta nambah lagi. Mbak Ratna mendokumenkan kegiatan bezoek berfoto dengan pak Salman dan Yulia kebetulan dokter Kurnia sudah datang jadi bisa berfoto bersama. “Kelihatannya Yulia sudah boleh pulang besok Minggu sambil cek thrombocyte sekali lagi besok ” begitu ucap dokter Kurni pada Salman suaminya dan didengar ibu-ibu . Dokter Kurnia mengucapkan terima kasih atas perhatian ibu-ibu semua. ” Mama , Yulia suka juice melon ini nanti belikan seperti ini lagi ya…?” Yulia memandang bu Sariyah dan memohon. “Iya nanti bude Sariyah titipkan mas Raka atau mas Untung ya” “Horeee…terima kasih bude Sariyah” Mereka semua senang melihat Yulia tertawa dan bergairah lagi.

Bersambung…