Cerpen

WARUNG SAYUR BU SARIYAH – Episode 8 – Penculikan

January 8, 2019

Aris sekarang sudah kelas 1 SMP bersekolah di SMP Institut Indonesia jadi tak begitu jauh dari rumah dan tinggal jalan kaki saja. Membantu pekerjaan ibunya yang sangat ia sukai dan sangat diperhatikan , jadi sepulang sekolah Aris melanjutkan pekerjaan ibunya dan bu Sariyah bisa tidur siang selama satu atau dua jam lumayan pikir Aris dan memang demikian sebaiknya . Ada tiga orang masuk warung makan meminta disediain makanan. ” Mas Aris minta sayur sama telur dadar dan sambal, minumnya es teh” pinta orang itu tapi Aris heran dia tahu nama saya darimana…? ” Sayurnya pilih sayur bayam , oseng kacang panjang , apa sayur boros pak..?” tanya Aris. ” Saya sayur bayam, mereka tanyain sendiri dik” dan Aris menanyakan pada yang lainnya ” Kuahnya dipisah apa campur nasinya pak ?” dan dijawab ” campur saja, biar lebih segar”. Mereka makan sangat menikmati dan menambah sambalnya . Bu Marzuki datang dan belanja beras, minyak goreng , telur dua kg dan ayam setengah kilo ditambah kangkung dua ikat ” Berapa mas Aris..?” ” Seratus empat puluh empat ribu buk ” dan bu Marzuki memberikan seratus lima puluh ribu ” Ini masih sisa enam ribu buk ” ” di kasih bawang merah saja mas seadanya” Aris menimbang bawang merah dapat seperempat kilo kurang sedikit. ” Mas seperempatnya berapa sih..? ” tanya bu Marzuki. ” Seperempatnya tujuh ribu lima ratus buk ” ” Ya sudah ibu tambahin seribu lima ratus biar dapat seperempat ” Aris menimbang dengan pasti dan bu Marzuki menerimanya. Ibu Sariyah bangun dengar suara ibu Marzuki, dan membicarakan arisan RW besok sore, kepalanya melongok ke tempat makan karena ada orang asing di warung makan . Loh…itu kan pak Marbun ..? ada apa kok sampai ke Semarang pakai preman lagi, Lalu bu Marzuki memanggilnya ” Pak Marbun..? betulkan pak Marbun …maaf..?” yang dipanggil berdiri dan menemui bu Marzuki. ” Inggih , benar bu..” Lalu berjabat tangan, Bu Sariyah ikutan ke warung makan dan kaget. ” Loo…pak Marbun…tumben mampir sini..sayang pak Bambang masih narik angkot sore baru pulang..” bu Sariyah menyalaminya pula , pak Marbun memperkenalkan dua orang temannya pada bu Sariyah dan bu Marzuki.

” Sekarang bu Sariyah jualan , dan rumahnya jadi toko besar lengkap lagi ada warung makannya juga.” kata pak Marbun . Bu Sariyah hanya tersenyum ternyata pak Marbun itu tetangga lamanya yang pindah dinas di Magelang dan ditugaskan ke Semarang di Rumah Sakit Kasih Ibu sampai kasus selesai. ” Buk Sariyah itu tadi Aris …? sudah besar dan pintar melayani pelanggan dengan baik, ramah lagi kayak ibuknya….” ” He..he…iya pak , sudah SMP sekarang ” Bu Sariyah memanggil Aris yang sedang mencuci sepatu olah raganya. ” Ini pak Marbun tetangga kita dulu, dan kamu masih kecil sekali masih umur dua tahun dan sering diuyel-uyel pak Marbun yang dulu tinggal di rumah bu Marzuki bersama ayah ibunya setelah menikah pindah diasrama dan selanjutnya dimutasi di Magelang sampai sekarang , O..pantas pak Marbun kenal aku ternyata tetangga lama, fikir Aris ia manggut-manggut sambil menyalami dan mencium tangan pak Marbun dan kawan-kawannya. ” Buk tolong jangan kasih tahu siapapun kalau saya ada disini dan rencana saya mau kos yang aman disini dimana ya buk ? ” ” Ditempat pak Sastro saja, orang baru yang buka kosan dan bersih tempatnya , kosannya ada disebelah kiri rumah saya pak Marbun” jelas bu Sariyah . ” Baik bu biar saya saja yang kesana, tolong di hitung bu..berapa habisnya” ” Ala sudah pak kayak siapa saja lo pak Marbun ini…” ” Buk ini kedinasan jadi tolong jangan bawa-bawa yang lainnya, maaf ya buk…maaf kebaikan ibu terpaksa belum bisa saya terima mungkin suatu saat saya mampir akan kesini lagi, terima kasih buk Sariyah, buk Marzuki, dik Aris terima kasih Asalamu’Allaikum ” Pak Marbun meninggalkan uang di meja lima puluh ribu rupiah. Bu Sariyah membalas salam pak Marbun ” WaAllaikum salam…matur nuwun pak Marbun ” Ketika bu Marzuki membicarakan Arisan sore nanti bu Santo datang untuk kolakan banyak belanjanya dan membawa becak dari jalan Maluku ” Buk ini catatannya saya minta dibikinkan dulu mie kuah sama telur rebusnya buk, ” Bu Sariyah memasakkan mie dulu dan Aris membantu mengambilkan pesanannya. ” Bu Santo berasnya ini delapan apa tiga ” tanya Aris , ” Delapan mas Aris…oh ya tambahin minyak gorengnya yang setengah literan 12 sama makanan bayi lima renteng ditulis di catatan ya mas Aris ” ” Beres bu sudah saya tulis dibawah tambahannya..” Sambil makan bu Santo diajak ngobrol sama bu Marzuki karena belanjaan bu Santo banyak jadi ikut ngecek bantu Aris. Mie instan yang dimakan bu Santo sudah habis dan Aris masih menghitung sama bu Sariyah ” Bagaimana bu sudah selesai menghitungnya..?” dan dijawab bu Sariyah ” Sudah mas totalnya 4.790.000 rupiah. Bu Santo langsung membayar tunai dan memanggil pak becaknya untuk mengangkati barang-barangnya. Bu Santo membaca pesanannya dan Aris menunjukkan barang tersebut agar pak becak mengambil dan mengangkatnya.

Rupanya bu Bandriyah dan pak Rasuan sudah menunggu dengan memberikan catatannya. “Tumben sore hari bu Badriyah ” kata Aris ” Iya nih bareng sama pak Rasuan bisanya sore hari” jawab bu Badriyah ” Semoga laris ya pak Rasuan warungnya…” kata bu Sariyah menerima kertas pesanan bu Badriyah dan pak Rasuan . ” Bu nanti pembayarannya jadi satu gih…?!” ” Inggih pak sudah hafal kecuali kalau datang sendiri-sendiri he..he…” bu Sariyah sedikit bergurau ” Iya buk saya masih belajar dan kelihatannya belanjaan saya banyak kok ini nanti ” kata pak Rasuan yang kadang datang sendiri bawa motor ke warung bu Sariyah. ” Lumayan pembelian disini bisa laku keras dan lumayan untungnya karena kalau tempat saya gak ada terus lari ke bu Badriyah demikian pula sebaliknya kalau tempat bu Badriyah habis mereka lari ke warung saya dan jadi saling menguntungkan. Pak Anwar pelanggan baru bu Sariyah belanja minta didahulikan karena cuma sedikit cuma tiga item dan pak Rasuan memperbolehkan Aris segera mengambilkan sirup enam botol mie instan rasa ayam bawang satu dos, rasa soto satu dos dan mie goreng satu dos dan tepung tapioka seperempatan sebanyak duabelas bungkus. dan langsung tunai, pak Anwar memakai motor dan istrinya yang mengaturnya sebagian di tenteng dengan tas belanjaannya yang kuat. Bu Badriyah kehausan dan minta dibuatkan ice juice melon bersama pak Rasuan. Setelah selesai belanjaan dimasukkan ke becak belanjaan pak Rasuan minta tambahan Mie instant satu dos rasa ayam bawang karena barusan dapat sms dari anaknya , pembelinya menunggu pak Rasuan pulang . Pulang sudah pak Rasuan dan bu Badriyah, bu Sariyah minta mandi duluan karena kegerahan , Aris mengecek kelihatannya sirup tinggal rasa Leci yang lainnya habis dan Aris memasukkan ke daftar pesanan segera, ternyata banyak bahan food and drink yang harus dipesan dan juga sembakonya, pas besok mas Penky yang datang, kalau sirupnya menunggu Selasa sekalian. Ibu sudah selesai dan gantian Aris yang mandi. Ibu mengecek daftar pesanan yang dibuat Aris dan mencocokkannya, datang mbak Ratna mau membeli sayur dan gorengan tapi gorengannya sudah habis maka bu Sariyah menggorengkan nya. ” Tumben banyak belinya mbak Ratna ada acara apa nih…?” tanya bu Sariyah. ” Teman-teman suami pada main ke rumah buk..tolong ya tahu susur lima belas, bakwan toge kubis lima belas, pisang goreng lima belas. Bu Sariyah membuat pisang goreng dulu dan sambil menunggu matang mempersiapkan bakwan toge kubis, wortel dan membaginya dua untuk tahu susur, pak Bambang pulang dan membantu mengiris iris wortel dan kubis sebelumnya pak Bambang cuci tangan dulu. Sambil menunggu, mbak Ratna melihat-lihat kue keringan untuk mengisi cemilan karena ini arisan kantor, Bu Sariyah sedang membuat bubur canil untuk persiapan jajan malam hari nanti dan sudah jadi bau harumnya tercium oleh mbak Ratna ” Bu itu bau apa kok wangi banget ..gurih kelihatannya ” ” Owh …itu bubur canil…enak dan gurih mbak…mau coba…?” Bu Sariyah memberikan incip satu mangkok tanggung, dan memang enak sekali lalu mbak Ratna memborongnya untuk tamu-tamu arisan. Bu Sariyah, Aris dimintai tolong untuk mengantar bubur canil dan santan instantnya. Mbak Ratna membayarnya dan segera pulang sambil membawa gorengan dan meminta wedang serbat untuk penghangat badannya.

Pagi itu mas Pengky datang membawa pesanan bu Sariyah dan menurunkan barang-barang seperti telur, tepung , beras , gula pasir , kopi kemasan , minyak goreng , mie instant dan lainnya. ” Bu…ini notanya dan tukar sama yang kemarin totalnya 11 juta ya buk” ” Iya mas ini lunas yang kemarin dan yang sekarang belum dilaporkan kantor, ibu bisa cek dahulu seperti biasanya gak apa” Mas Pengky memasukkan kedalam warung ketika mangangkat terigu tiba-tiba terdengar letusan senjata di rumah pak Sastro, Mas Pengky kaget dan lemes Bu Sariyah segera tersadar dan mengambilkan minum untuk mas Pengky, setelah sadar ibu membuatkan teh manis hangat biar diminum dan menyiapkan mie instant kesukaan mas Penky dicampur telur rebus. Orang-orang berlarian menuju rumah pak Sastro , ternyata pak Marbun menangkap dua orang laki-laki dan seorang perempuan dan seorang balita menangis ketakutan yang digendong temannya pak Marbun, Mas Raka yang barusan pulang jaga malam dan masih memakai seragam security langsung menuju rumah pak Sastro. Mas Raka memberi hormat pada pak Marbun yang sudah memakai pakaian dinas. dan memborgol kedua laki-laki tersebut sedangkan yang wanita menangis ketakutan dan tangannya sudah diborgol, Raka diperintahkan memanggil mobil patroli dan mengamankan penduduk yang memenuhi halaman rumah pak Sastro kebetulan pak Sastro dan ibu sedang di Pekalongan menghadiri pernikahan saudaranya. Mobil Patroli sudah datang dan penculik balita naik mobil tersebut mereka ditonton penduduk. Raka ikut naik dimobil patroli tersebut dan mengawasi tersangka penculikan balita sampai di Polsek Semarang Timur dan ikut mendampingi pak Marbun. Jam 12 siang Raka djemput oleh pihak Rumah Sakit Kasih Ibu dan diberi penghargaan karena penuh kesadaran membantu Abdi Negara dalam menangani kasus Penculikan Balita.

Bersambung…