Rombongan kantornya mas Santosa bezuek Bu Tatik ,  mengucapkan turut berduka cita kepada Bu Tatik dan bapak Santosa . Pak Manager  memberi libur dua hari pada pak Santosa , pasangan kerja pak Santosa mas Yeyen memeluk Pak Santosa dan mengucap turut berduka cita dan semoga lekas sembuh buat istrinya

” Pak Bro yang Kudus sudah aku kabari dan mereka mengerti keadaan sampeyan, mereka menyampaikan ucapan turut berduka cita dan ini amplop dari mereka dititipkan ke saya.”kata mas Yeyen lirih khawatir didengar orang.

” Terima kasih mas Yeyen, atas bantuannya , dan aku dapat libur dua hari bisa mengurusi Rumah Sakit istriku ”

” Sama-sama pak Santosa, sementara saya hanya  mengerjakan rekapitulasi juga bantu mbak Sinta di bagian umum nunggu Pak Santosa masuk kerja baru bisa bantu Luar Kota lagi ” Rombongan dari kantor Pak Santosa pulang dan Bu Tatik merasa kecapekan tapi Pak Santosa menyuapin istrinya dulu  agar segera meminum obat dan beristirahat. Ibu mertua Santosa menata pakaian bu Hartatik karena besok pagi sudah pulang.

Pagi itu Bu Tatik masih murung saja, sambil tiduran di rumahnya, sementara suaminya sudah berangkat kerja.

” Ayok Tik.. kita jalan-jalan sambil cari belanjaan ke pasar,…” pinta Ibunya

” Buk , kita dekat belanjaannya kok di sebrang sebelah itu ada warung lumayan besarnya belanja apa saja disana ada…nanti Tatik temenin dan ibu yang belanja ya…?”

” Baiklah ayuk kita jalan..” Bu Tatik dan Bu Rahmawati (nama ibu kandungnya) menuju warung bu Sariyah. Bu Rahmawati sangat senang berbelanja di Warung Bu Sariyah yang serba ada , juga ada warung makannya dan Bu Rahmawati mencoba sarapan pagi di Warung bersama anaknya pas cocok dengan masakannya orak-arik pedo disana juga bareng sarapannya dengan bapak dan ibu Sastro sebelah rumah Bu Sariyah.

” Bu Rahma ini belanjaannya saya taruh di meja sayur nanti dicek lagi ya..?”

” Inggih Bu , Oya berasnya dua zak  sekalian , buah apel merahnya dua bungkus dan nambah orak-arik pedonya dua porsi untuk mantu saya bu…”

” Waaah….sayang mantu  Bu Rahma ini..ya Jeng Tatik…?”

” Iya buk, Ibuk saya ini sukanya mbuatin donat untuk dibawa di kantor suami buat sarapan di kantor, takut kalau menantunya kelaparan di jalan” cerita Bu Tatik tentang ibunya.

” Jeng ..kalau kandungan panjenengan itu lemah mbokyao bu Rahma nemeni dulu sampai benar-benar sehat begitu ya bu Rahma,,ini cuma usulan saja kok jangan diambil hati dan maaf sebelumnya.” bu Rahma yang memperhatikan pembicaraan itu langsung tanggap, ” Iya bu Sariyah gak apa-apa nunggu bapaknya Tatik pensiun dua bulan lagi, dan saya bisa nitip donatnya di warung ini kan bu ?”

” O ..boleh,,,boleh sekali asal harganya klas mahasiswa, maksudnya harganya murah dan perutnya kencang”

” Beres…beres bu,,saya setuju sekali, kira-kira kapan nitipnya….?” Tiba tiba terdengar suara geluduk diikuti rintik hujan. .. Bu Tatik dan Bu Rahma segera menghitung belanjaan dan meninggalkan warung Bu Sariyah. Hujan begitu deras tapi pelanggan yang mau belanja di warungpun  tak mau berhenti, sambil membuat kolak pisang bu Sariyah  melayani pembeli .

” Bu, harumnya…buat kolak pisang ya…?”

” Iya ni bu baru masak sebentar saya pindah dulu di meja tandon  ”

” Saya boleh beli gak bu..?”

” Ya boleh dong …berapa maunya bu Santo..? ”

” Lima Ribu boleh buk…?”

” Iya boleh gak apa..dapat satu gelas ukuran standart bu ..”

” Hmmm harumnya ada buah nangkanya, kolang-kaling, pisang kepok pipit, dan ada ketela rambatnya, tambah satu gelas lagi bu…jadi mbandil nih…?” Bu Sariyah tersenyum dan memberikan satu gelas plastik lagi. Bu Santo membayar belanjaannya dan pulang sambil membawa payung untung tas belanjaan bu Santo besar hingga  tidak mengganggu perjalanannya karena hujan deras sekali dan rumah bu Santo ada di gang Maluku agak jauh dari warung bu Sariyah.

Pak Bambang pulang dan menanyakan apakah Aris sudah pulang..? dan Bu Sariyah mengatakan belum pulang , maka pak Bambang segera menjemput anak lelakinya menggunakan angkot. Sekolahan Aris di Karang tempel, pak Bambang menunggu agak lama karena murid berada di dalam kelas tidak boleh hujan-hujanan nunggu jemputan datang, Pak Bambang menyusul masuk karena perutnya sudah lapar dan bu Guru menyuruh Aris segera keluar,…tapi teman-teman Aris ikut keluar..dan ingin nunut sampai angkot pak Bambang penuh dan bu Guru Hesty minta nanti balik lagi untuk mengantarnya pulang.

Semua pada berhenti di rumah Aris, pakaian mereka ada yang kebasahan, sementara hujan angin masih kencang sekali dan anak-anak itu masuk ke warungnya Aris, karena perutnya lapar untung bu Sariyah membuat kolak pisang lumayan bisa menghangatkan badan mereka, Pak Bambang mengambil sendiri kolak pisang dan gorengan dan di bungkus kolak pisangnya dimasukin ke tepak , Mas Raka dan Mas Untung ikutan nimbrung sambil lari-lari. ” Buk kolaknya buk dua…”

” Tumben …siang gini bangun tidur…memang masuk apa Mas..?”

” Malem buk…bareng dinas sama Untung ” Raka dan Untung makan kolak pisang dengan nikmatnya .

” Buk kira-kira nanti kolaknya masih ada gak ya buat sangu kerja, kalau hujan gini malas keluar-keluar ”

” Nanti ibuk bikin lagi gak usah khawatir sama dengan kolak ini ”

” Asiiik nanti saya ambil kalau pas mau berangkat biar anget sampai Rumah Sakit ”

” Nanti tak pinjamin tepak yang tahan panas sampai pagi mas ,  gak usah khawatir saya ada banyak tepak ” Demikian bu Sariyah membantu agar mereka tak usah bingung menyimpannya.

Pak Kamto , juragannya pak Bambang telpon ” Pak Bambang mau narik lagi enggak..?

” Bingung bos, hujannya makin deras, enaknya bagaimana ya bos..?”

” Jangan narik dulu…. angkot biar dirumahmu saja ini pak Subkhan kena mogok dan macet  total di Pandanaran.. sebenarnya kasihan dia kelaparan..mana warung pada tutup, angkot mogok lagi..coba kamu hubungi siapa tahu kamu ada ide..”

” Gih pak…nanti saya hubungi ini saya mau jemput bu Guru Hesty dulu, trima kasih pak. ”

Aris selesai mandi ketika bapaknya mau berangkat jemput bu Hesty

” Bapak gak makan siang dulu…ntar kembung lo perutnya.., ” Bapak akhirnya makan dan diambilkan Aris ” Nih pak lodeh dan sambel terinya ada telur dadar juga ” Bapak melahapnya, fikirannya kasihan kalau bu Guru Hesty nunggu kelamaan, dan pak Subkhan kedinginan.

Pak Bambang sudah sampai sekolahan dan bu Hesty bersama bu guru yang lainnya ikut sekalian. Hujan semakin sore semakin kencang, pak Bambang membuka gorengan buat ibu-ibu guru…

” Terima kasih pak …masih panas ini baru goreng ya pak..?”

” Iya bu… gaorengan ibuknya Aris…”

” La anak-anak tadi masih di rumah pak Bambang ?” tanya bu Hesty sambil nyemil tahu susur

” Masih buk..sudah makan kolak dan gorengan, ini saya antar arah mana bu..?”

” Ini bu guru semua arah Karang Ayu yang lain sudah pada pulang pak ”

” Baik bu nanti saya drop ke Pasar KarangAyu dan di jalan Pandanaran macet, tapi angkot saya tinggi gak kena macet InsyaAllah tapi kita lewat Kusuma wardani karena Simpang Lima mobil banyak yang mogok bu..?!”

” Iya  pak lewat mana saja asal sampai rumah, ini kita pada gak bawa payung habis kemarin panas kok tiba-tiba tadi hujan tumpah-tumpah, anginnya besar lagi ” sahut bu Hesty sambil melihat banjir diseputaran RRI kadang mereka tertawa tergeli-geli karena pada bengong, …tiba-tiba bu Guru Amelia melihat keponakannya kebasahan sambil jalan dan meminta pak Bambang mengambil ponakannya itu.

ponakan bu Amelia menggigil dan bu Amelia memberikan jaketnya,  bu Hesty memberi gorengannya pak Bambang untuk dimakan angkot pak Bambang melaju karena tinggi dan sudah sampai Pandanaran ketemu dengan pak Subkhan sedang njedindil didalam angkotnya yang sudah setinggi ban ,  pak Subkhan tak bisa kemana-mana hanya duduk di sopiran nunggu pak Bambang.

” Pak Subkhan , ini dimakan dulu kolak pisang ibuknya Aris dan ini ada gorengan dua buah dimakan  nanti aku jemput sesudah ngantar ibu guru di Karang Ayu ”

” Pak Bambang terima kasih, itu handuk kamu aku pinjam dulu …aku kedinginan….” Pak Subkhan badannya gemetaran dan pucat sekali, pak Bambang gak tega dan menyerahkan handuk yang ia pakai di leher.  Pak Subkhan kelaparan dan melahapnya.

” Aku antar buGuru pulang dulu ya pak…?!” pak Subkhan melambaikan tangan dan salam hormat sambil menganggukkan kepala pada bu Guru-bu Guru.

” Pak saya di Banjirkanal itu suami saya sudah nunggu ” teriak bu Amelia, pak Bambang berhenti. Bu Melati dan Bu Lastri berhenti di Amarta, Bu Hesty dan bu Nurul berhenti di pasar karangayu karena mau ambil belanjaan sambil memberikan uang charteran.

” Teima kasih pak, atas bantuannya dan gorengannya semoga Allah membalas budi baik pak Bambang ”

” Sama-sama bu…mari…Asalamu Allaikum….”

” WaAllaikum salam ” balas  bu Hesty dan pak Bambang segera melaju ke arah Pandanaran memutar arah. sampai Pusponjolo dicegat penumpang meminta tolong mengantarkan ke Puskesmas Pandanaran karena istrinya mau melahirkan, pak Bambang tanpa menawar menyuruh istrinya masuk dan mengantarkannya bersama suaminya dan kedua mertuanya. Sampai sudah di puskesmas sang suami memberikan uang dan bilang ” Terima kasih pak uang kembaliannya dibawa saja pak terima kasih.” Alhamdulillah….Subkhan  aku segera sampai….fikir pak Bambang

Pak Bambang membawa tali untuk menarik angkot pak Subkhan ke rumahnya di jalan Kijang Pedurungan, ketika sampai di Pandanlamper angkot pak Subkhan sudah bisa di stater mereka berdua senang sekali dan laporan kepada pak Kamto kalau pak Bambang sudah membantunya pak Bambang dan pak Subkhan berpelukan dan segera pulang kerumah.

Bersambung…