Cerbung

WARUNG SAYUR BU SARIYAH episode – 12 – kuda lumping

September 23, 2019

Siang ini begitu panas, pulang sekolah Aris ke Simpang Lima karena akan membeli buku di toko buku Merbabu, Aris bersama Gozali teman sekelas di klas xA. Di lantai dua mereka mulai asik membaca dan mencatat. Aris melihat keluar dan melongok ke halaman toko buku gak biasanya jalan Ahmad Yani begitu ramai siang ini. Gozali ikut memperhatikan dan bertanya pada penjaga stand : ” Ada apa ya mbak kok ramai banget jalanan, tadi kelihatannya tak seperti ini? ” . Mbak Lilis pun ikut melongok dari lantai dua melihat keluar. ” Emmm ada apa ya..? kalau urusan sama simpang lima sih macem-macem dik..?! Oo… mungkin kemarin ada pengumuman pesta seni dari Wonosobo akan berlangsung besok hari Minggu peserta pertama dalam festival seni tari anak negeri se Jawa Tengah yang ada selebarannya.. coba mbak cari dilaci sepertinya masih ada… Nah ini dik selebarannya coba kalian baca.” Aris menerima selebaran itu juga Gozali. ” Waaah… ini pas banget dengan tugas kita Bahasa Indonesia membuat ulasan / liputan kesenian Yang dilengkapi foto atau video , makasih mbak Lilis “. ” Terus bukunya jadi beli gak…? ” tambah Lilis. Ooo.. ya pasti bagaimana nanti kita nyusunnya kalau gak ada panduan bukunya”. Aris dan Gozali membaca dan memeriksa isi selebaran tersebut. “Kita pilih beda keseniannya ya.. biar seminggu kita tiap sore nongkrong disini di Simpang Lima ” Aku akan pilih ini Kuda Lumping dulu yang pertama , nah bukunya aku dah dapat kamu pilih apa Li? ” Gozali memilih tari Rodat : “Tapi bukunya aku belum dapat” “Gak apa apa kita ulas saja semuanya lalu kita sortir mana yang terbaik, untung-untung buat pengalaman” kata Aris sambil memilih buku dengan judul Kerasukan. Mereka lalu membayar dan membawa selebaran yang diberikan mbak Lilis.

Aris dan Gozali turun dan memesan es buah dihalaman toko buku, sambil mengamati keramaian tersebut , motor yang dinaiki di parkirkan di Merbabu Aris dan Gozali lari ke Simpang Lima melihat pemasangan tenda dan crew penari yang dandan sendiri-sendiri. Aris memvideokan dan di bantu Gozali, rupanya kesenian itu nanti jam 16.00 akan tampil di pembukaan festival. Aris menelepon ibuknya kalau akan pulang telat karena masih disimpang lima meliput acara. Gozali ikut meliput dan membantu memvideokan mereka sedang berdandan dan Aris juga minta divideokan saat berbicara dengan salah satu crew sambil memakai pakaian seragam kuda lumping. Aris ikut dandan juga dan berfoto menirukan gaya yang diatur penari kuda lumping, dan pakaian itu segera dicopot lagi karena mau dipakai penari tersebut. Penonton pun sudah membeludak. Jalan pada ditutup, dengan membawa hape Aris kesana kemari meliput acara pembukaan. Ketika ditanya petugas Aris masih memakai seragam SMA nya dan menunjukkan kartu OSIS karena mendapat tugas meliput acara tersebut Aris diizinkan ” Wow maaan… ternyata sulit juga meliput acara ditanya macam-macam, dicurigai.. waaah untung kita diperbolehkan dan besok juga akan seperti ini lagi tapi kita jam 13.00 sudah harus melapor masak buku dan tas di cek segala seisi-isinya.” begitu mereka berdua dengan semangat mendapat kesempatan pelajar peliput berita dan memakai emblem. Aris dan Gozali selfi dengan latar belakang penari emblek dari Wonosobo. Jam 16.00 tepat bapak wali kota Hendrar Prihadi, S. E. M. M membuka Festival Seni Tari Anak Negeri se Jawa Tengah. Aris meliput acara bersama Gozali. Tiba-tiba hape Aris mati rupanya baterainya habis Aris lari keruang official untuk mencarger sebentar, dan menunggunya. Gozali masih meliput acara. Saat acara penilaian tampilan dari kabupaten Wonosobo. Aris mencabut cargernya dan menyuruh Gozali gantian mengisi baterainya. Aris amat puas dengan tampilan Emblek istilah Wonosobo alias kuda lumping . Dan ketika penari itu makan beling atau kaca Aris memvideokan miris kelihatannya Aris tak peduli tapi dia mulai menjauh saat penari itu matanya melotot mencari sesuatu. Aris gabung dengan penonton yang ada garis pembatasnya polici line. Dan penari itu tiba-tiba terjatuh karena dilempar bunga yang dimasukkan ke kain dan berbentuk bulat mengenai badan penari tersebut.

Aris memvideokan penari itu bangun dari pingsan serta menanyai bagaimana perasaanya… selelah sadar. Penari yang kerasukan tadi bernama Maulana asli Kalianget Wonosobo. Gozali merekam semua pembicaraan antara Aris dan Maulana. Rasanya puas sekali Aris mendengarkan rekaman tersebut, official mendatangi Aris dan mempertanyakan rekaman tersebut serta mengajak Aris masuk ke ruang official untuk diskusi, dan memberi surat agar ditanda tangani guru pembimbing dan besok diberikan kepada official jika ingin meliput lagi. Pembukaan selesai pukul 18.00 masyarakat pada bubar pak polisi membuka jalur lalin angkutanpun mulai masuk tapi belum begitu ramai. Aris dan Gozali mengembalikan emblem pengenal serta melapor kepada panitia besok akan meliput lagi dan akan melapor lagi. Ketua panitia memperbolehkan dan meminta tepat waktu. Aris dan Gozali solat maghrib di Masjid Baitul Rochman dulu lalu bergegas pulang dan menuju rumah masing-masing dengan perasaan senang bergairah penuh percaya diri. ” Tumben kok nganti wengi le.. ” bu Sariyah mengambilkan teh hangat dan menyiapkan makan . ” Waah seru banget buk, nanti Aris ceritain selesai mandi. ” Bu Sariyah menatap anaknya yang kini tingginya sudah melebihi pak Bambang suaminya, badannya tegap, gagah dan amat cekatan. Bu Sariyah ingat waktu Aris kecil yang meminta sangu sekolah gak diberi ibuknya karena pak Bambang masih nganggur.. Aris kecil menangis dan dibuatkan telo goreng buat sangu baru Aris diam dan menciun bu Sariyah ” Makasih buk….. Aris brangkat dulu. ” ” Bu Sariyah belanja.. ” suara bu Sastro memanggil dari luar yang hendak belanja. Pak Bambang pulang dari masjid menuju ruang makan. “AsalamuAllaikum pak. ” suara Aris mengagetkan bapak. “WaAllaikum salam Ris, kok sampai malem ada apa Ris..? tanya bapak. Aris menceritakan tugas dari sekolah untuk meliput suatu ulasan yang berhubungan dengan masyarakat. ” Hebat kamu Ris bapak suka dengan tugas kamu. ” Aris tersenyum lebar sambil makan pelan-pelan karena menunggu bu Sariyah masih meladeni pembeli, bu. Marzuki dan mbak Ratna datang ” Waaahh warung semakin ramai ayuuk makannya di selesaikan terus bantu ibuk karena dhe Malem juga masih repot sama Asih urusin pelanggan nasi goreng babat.

Di kamar Aris menyusun video yang diberikan Gozali dan di padu video miliknya dan meng edit beberapa yang perlu alhasil sukses sesuai urutan yang diinginkan Aris , selanjutnya disimpan ke dalam flashdisc. Aris turun membawa laptopnya dan meminta ibuk, bapak dan lainnya menyaksikan liputannya. ” Ooo ini to kamu jadi penyiar mas aris” kata Asih yang ngacungi jempol menonton emblek alias kuda lumping. “Alhamdulillah sempurna hasil kerjaku” Aris di telpon Gozali dan mengatakan ” Waah hebat kamu sudah jadi tugas terberatnya, jangan lupa aku besok dibantu ya brooo.. ” Aris tertawa dan ngobrol panjang sambil melihat liputannya. Warung makan sudah banyak yang ngantri dhe Malem minta bantuan Asih, Aris naik ke atas dan belajar lagi karena ada ulangan kimia, badan Aris capek banget dan tertidur di meja belajar. Bu Sariyah melihat anaknya kasihan sudah jam sebelas masih ngringkuk di meja dia tak melihat Aris sedang tidur. Ibuk membangunkan Aris ketika tahu Aris tertidur, Aris minta dibuatkan nasi goreng yang super pedas dan jeruk hangat, meskipun saat ini sudah jam 01.30 dan dhe Malem sudah tidur ibu tetap membuatkan nasi goreng babat untuk Aris dan menemani Aris makan.

Di sekolah pelajaran bahasa Indonesia sedang berlangsung, Bu Sulastri menanyakan tugas tersebut ada yang meliput kerja bakti di kampung, pasar murah, Aris dan Gozali menyodorkan laporan untuk ditanda tangani dari ketua panitia festival seni tari anak negeri se Jawa Tengah. Bu Sulastri tertarik dengan hasil pekerjaan Aris yang melibatkan banyak masyarakat dan meminta diputarkan flashdiscnya. Telihat Aris sedang melaporkan pembukaan festival dengan memakai seragam emblek dengan latar belakang penari yang sedang action sangat menarik sekali. Bu Lastri memberikan tepuk tangan ” Ini tugas yang baik sekali hasilnya, tolong dibantu teman-temanmu, kelas itu amat ramai dan pelajaran selesai. Tugas meliput diberi waktu seminggu, yang selesai tugas dan tuntas ada tujuh orang, yang masih dalam proses 27 orang termasuk Gozali. Pulang sekolah Aris dan Gozali langsung menuju festival. dan ketemu dengan ketua panitia pak Marwanto yang menanyakan tugas Aris. ” Mas Aris saya mau tanya liputan kemarin kamu ada flashdiscnya? ,tolong bantu saya untuk mengkopi milikmu karena peliput kemarin kecelakaan dan flashdiscnya hilang “. ” Aris memberikan flashdiscnya dan pak Marwanto nama ketua panitia itu membuka laptopnya. ” Waaa.. Bagus ini dik lengkap lagi sudah diedit. Bapak tayangkan hasil kerja kamu ya di TVRI jam 17.30 dalam acara pesona daerah, tak usah khawatir kamu dapat imbalannya sebagai ganti capek. ” Aris bingung pak Marwanto memberikan amplop berisi uang dan memaksa Aris menerimanya, juga meminta aris meliput semua liputan di festival. “Baik pak terima kasih atas kepercayaan bapak pada saya”.

Bersambung…