Semua yang terindah dan tak kan terlupakan kini tinggal kenangan. Itulah kalimat yang paling pas untuk mewakili kisahku. Aku yang terlanjur mendalam, meletakkan sepotong hati pada hati yang lain, dan saat dua potongan itu menyatu, halangan restu menjadikan kita harus sama-sama rela. Rela melepaskan semua rasa pada kisah yang terlalu indah.

Semua berawal dari masa putih biru. saat itu, dua puluh tahun yang lalu, dia memperkenalkanku pada rasa yang mulai asing. Getaran hati yang bahkan belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku yang pemalas jadi tiba-tiba rajin, aku yang pendiam tiba-tiba ceria. Tapi, kami masih berteman biasa. Hanya saja dia tahu kalau aku mulai menaruh hati. Ah, aku yang masih SMP naksir anak yang sudah lulus sekolah, aneh kan? Iya aneh karena biasanya anak seumuranku jalan sama cowok yang seumuran juga.

Rasa itu terpendam hingga aku berganti seragam putih abu-abu, dan kami masih berteman dekat. Hingga suatu hari, dia menyatakan rasa itu padaku. 20 September 2001, adalah hari bersejarah buatku dan dia. Inilah awal dari semua kisahku.

Seperti remaja lain waktu itu, kami belum mengenal teknologi komunikasi. Sudah ada HP, tapi kami belum punya. Dan berkirim surat juga puisi adalah salah satu cara kami berpacaran. Masih sangat lugu.

Pertemuan hanya nongkrong dirumah temen, atau depan sekolah. Ah, begitu saja sudah bahagia.

Dia selalu menyemangatiku untuk belajar, tapi rasa malasku kambuh lagi. Aku yang sebenarnya memang ga mau sekolah, hanya formalitas saja jika setiap hari pakai seragam, masuk kelas hingga keluar lagi. Jika ada ilmu yang nyangkut, adalah bonus yang sangat berharga.

🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Nduk, aku mau kerja keluar kota dulu ya?” Pamitnya saat itu, aku hanya mengangguk. Namun didalam dadaku ada rasa tidak rela. Tapi, ya sudahlah, biarkan dia mencari masa depannya.

Hari yang kulalui menjadi sepi, hanya sepucuk surat yang dikirimkan beberapa kali menjadi penawar rindu bagiku. Kalimat puitisnya sering menghipnotisku, dan aku pun jadi suka merangkai kata menjadi puisi.

Jangan heran, jika semua buku pelajaranku isinya puisi, bukan catatan materi yang disampaikan guru. Ah, betapa dulu aku tuh sangat memalukan ya.

Hari berganti bulan, akhirnya dia pulang. Kembali lagi menemani hariku yang sepi. Memberi warna indah dalam setiap kisah. Dia beberapa kali berkunjung kerumahku, dan disambut suasana tidak enak oleh keluarga. Sayang sekali kan, Alasannya? Sebatas penampilan dan kondisi keluarganya yang terbilang sedang morat-marit, dia korban broken home. Meski itu tidak menghalangi sedikitpun rasa dihati, tapi apalah daya jika tak ada dukungan.

Hingga suatu malam, saat udara begitu dingin merasuk ketubuhku. Aku disidang oleh orang tuaku. Bapak, emak, dan abangku. Kudekap erat kedua kaki yang terlipat, demi mengurangi rasa takut yang menyerang. Pasalnya, selama ini aku anak penurut yang tak pernah membuat masalah.

Broookkk, suara meja beradu dengan tangan mengepal. Mengawali persidangan yang tak kuinginkan.

“Sampai kapanpun, Bapak tidak ridho kamu berpacaran sama dia!” Suara Bapak memecah keheningan.

“Kamu mau sekolah apa nikah?” Sebuah pertanyaan dari abang yang sangat menyudutkan. Berbagai pertanyaan lain bertubi menyerangku, dan aku kalah dalam diam. Sedikitpun tak ada kesempatan untuk bersuara, bahkan membela diri. Hanya tetesan air mata yang luruh mewakili perasaanku.

Suara jangkrik menemaniku membelai malam, menunggu pagi menjelang. Mata ini bahkan tidak mau terpejam hingga suara kokok ayam terdengar.

Dinginnya air mengguyur tubuh, lantas segera berseragam untuk berangkat ke sekolah. Tapi kemarahan bapak belum mereda, sehingga uang saku pun tak lagi kuterima.

“Mas, semalam aku disidang,” ucapku lirih. Dia yang menjemputku di jalan sepulang sekolah, terlihat biasa saja, tidak terkejut. Senyumnya tetap mengembang, untukku atau mungkin untuk mengurangi bebanku.

“Aku sudah tahu nduk, abangmu sudah menemuiku kok.” Tuturnya tenang, seperti tanpa beban apalagi rasa takut.

“Ngapain?”

“Ya menyuruhku ga ganggu kamu lagi, tapi kamu tidak merasa terganggu kan?” Aku menggeleng dan dia tersenyum lagi, lebih lebar hingga tertawa.

“Gitu doang sedih,” Tangannya mengacak-acak jilbabku. Aku pun bertambah manyun. Ah bisanya dia setenang itu, sementara aku semalaman tidak bisa tidur.

“Ya udah, aku ga akan kerumah kamu lagi, ketemuannya di luar ya.” Begitulah kami, akhirnya menjalani semua ini diam-diam, hingga setahun lamanya. Tapi yang namanya aroma tak sedap, disimpan pun lama-lama tercium juga.

🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Aku mulai badung, pulang sekolah selalu sore bahkan lebih sering tidak sekolah. Suasana rumah tidak lagi nyaman, ucapan keluargaku lebih banyak menyindir. Ingin rasanya kabur dari rumah, tapi kemana? Sementara uang pun aku tak punya.

Entah apa yang dilakukan keluargaku, hingga pacaran backstreet ini tercium juga oleh mereka. Emak menggenggam tanganku dan menangis, katanya tidak akan merestui hubunganku. Aku lunglai, bersimpuh menangis dihadapan emak. Aku minta maaf telah mengecewakannya.

Dua hari setelah kejadian itu, emak dipanggil olehNya. Penyakit yang dideritanya beberapa tahun terakhir akhirnya hilang. Emak tak lagi merasa sakit, tapi hatiku terluka. Aku menangis dalam diam, karena telah menjadi beban hati emak. Aku tidak tahu bahwa bapak dan emak sungguh tidak rela atas hubunganku ini.

Sepeninggal emak, aku mulai menjauhinya. Tapi hati ini tak kan bisa berbohong. Walau aku tak menemuinya agak lama, tapi hatiku selalu padanya. Detik, menit, jam hingga hari, namanya masih mengisi ruang hatiku.

Apa daya, pertemuan demi pertemuan terjadi lagi, hanya lebih hati-hati. Takut diketahui keluargaku. Setahun lamanya, backstreet kedua ini kami jalani.

Semakin aku berusaha menjauh, hatiku semakin erat terikat. Aku yang dari kecil memang haus kasih sayang, sebagai anak terkecil yang berubah jadi pesuruh. Aku yang sering tidak dihargai bahkan sering dicaci, tentu saja menemukan tempat nyaman untuk berbagi. Dia yang begitu sopan, lembut bahkan melindungi, telah meluluhkan seluruh hatiku. Meski restu itu tak kunjung kukantongi, tapi hati tak mau berpaling lagi. Saat aku gundah, dia selalu kocak dalam membersamaiku. Saat aku marahpun, dia hanya tertawa meledek. “Anak kecil mah ga usah manyun, cepet tua!” Begitulah dia yang menganggapku mainan lucu. Dia memang begitu pandai membuat hatiku berbunga.

Tapi sayang, rasa yang terlanjur mendalam ini harus aku ikhlaskan, saat keluargaku memberi pilihan berat dan palu telah terketuk, “pilih dia atau keluarga”

Selesai.