Brukk !

Suara buku berjatuhan tersebar dilantai, ku lipat sedikit kemeja dan mengikat hijabku untuk menunduk dan mengambil buku yang berserakan, satu persatu ku tumpuk ditangan kiri lalu ku letakan kembali di meja, beberapa ku masukan ke dalam rak di dinding dengan rapih, namun ketika hendak pergi kutemukan satu Buku berwarna abu yang tersisa dilantai, sepertinya ku kenal dengan Buku itu, perlahan ku mengambilnya, sedikit berdebu karena sudah lama sekali tidak terbuka.
Ternyata benar, Buku catatan ini adalah buku kesayanganku ketika SMA, Aku duduk dikursi lalu mengambil secangkir teh yang biasa ku seduh di sore hari, meneguk perlahan sambil melihat sampul Buku ini, tertera tulisan yang mengingatkan masa-masa indah dulu.

“Perempuan Terbenam”
“Araa Aulia”

Dua kata sederhana yang mengisyaratkan diriku ketika SMA, perempuan yang pendiam, lugu, juga polos apa adanya, segalanya tentang diriku tersimpan rapih di Buku ini, brangkas kecil yang sudah lama tidak terbuka dan bersabar menunggu pemiliknya datang.
Aku biasa mencatat segala hal dalam Buku ini, inilah tonggak sejarah kenapa Aku bisa menjadi penulis seperti sekarang, inilah alasanku kenapa Aku mempunyai Gerai Buku sederhana di tempat luar biasa ini, sesekali ku melirik ke arah buku-buku yang tersusun pada rak, pada buku-buku di meja itu, inilah ibu kandung bagi buku-buku yang kutulis dan dinikmati semua orang, saudara kandung bagi seluruh buku-buku yang terpajang.
Perlahan ku membuka sampul Buku ini, lembar pertama merupakan lembaran kosong yang terdapat gambar Perempuan menunggu Matahari terbenam, Aku tersenyum lalu kubuka lembar demi lembar kertas yang sudah kusam termakan waktu, terdapat catatan sederhana ketika Sekolah dulu, rumus sederhana Matematika hingga Catatan Pengingat Tugas Sekolah, ada juga ide-ide yang kutulis sederhana, puisi-puisi untuk sahabat, lalu gambar abstrak berupa bunga bermekaran yang masih terlihat warnanya.
Kubuka lagi perlahan lembaran demi lembaran, terlihat tintanya sedikit berubah termakan jaman, warna hitam yang tergerus jadi kekuningan, atau warna biru yang terdapat bercak kehijauan, warna yang kugores ternyata menjadi warna-warna yang indah setelah sekian lamanya.
Ketika menuju lembar-lembar terakhir Aku menemukan catatan masa-masa terakhir di sekolahku, tertera tanggal dimulainya UN, ditambah kisi-kisi penting saat itu, yang selanjutnya ditutup dengan tulisan sederhana menutup seluruh muka kertas.

“Aku LULUS !”

Aku kembali tersenyum sambil meneguk kembali cangkir Teh yang mulai dingin, jam sudah menunjukan waktu petang, tanda Aku duduk cukup lama menikmati ingatanku yang terbuka, sungguh Aku rindu saat-saat itu.
Lembar-lembar terakhir buku ini kubuka satu persatu, ini bagian yang sangat spesial bagiku, beberapa foto Polaroid terpasang rapih, terdapat potret teman-temanku, lalu kegiatan Pramuka, hingga foto saat kami olahraga, setiap foto terpajang dengan beberapa tanda tangan temanku dilengkapi quotes sederhana dari mereka.

Tapi ada satu foto kecil di lembar terakhir memenuhi ruang kertas, terdapat foto seorang Pria tinggi semapai mengenakan Jersey Basket, memegang Bola dan Piala tanda juara, dia tersenyum lebar pada kamera, rambutnya lurus bergelombang, begitu tampan rupawan, dia adalah idola sekolahku dulu.

“Rakha.”

Aku bergumam dalam hati, menyentuh foto itu, mengusap lembut bagian wajahnya seolah dia ada di hadapanku, tidak ada tanda tangan atau quotes apapun, hanya potret yang direkat selotip hingga mengikatnya kuat.
Aku membuka lembar terakhir itu ke bagian belakang, terdapat robekan kertas yang sama-sama terpasang rapih walau sedikit terlihat kusut, selembar kertas dari buku Rakha yang sengaja Aku ambil karena Aku begitu mencintainya.

Hati dan Pikiranku langsung teringat dengan dia, Mataku terpejam lalu bersandar lebih dalam pada kursi dan merentangkan kaki ke depan, mentari sore menembus kaca Toko ini menyentuh wajahku untuk menghangatkan, tanganku turut memeluk buku ini di dada, kurasakan darahku mengalir serta berdenyut indah mengingat segala tentang Rakha.

Kami teman sekelas, tapi tidak begitu dekat karena kami mempunyai sifat yang jauh beda, dia begitu aktif di sekolah, dia pandai bermain Basket, juara Kelas, dan walau tidak pandai menyanyi tapi dia sangat berbakat memainkan segala alat musik, segala sesuatu tentang Rakha selalu jadi pusat perhatian, berbeda denganku yang pendiam ini, bahkan teman sekelasku ada yang sampai lupa siapa namaku, lalu jika ada pembagian kelompok tugas oleh Guru terkadang diriku terlewat untuk dituliskan, terdengar lucu memang.
Aku tersenyum kecil, lalu menghirup nafas lebih panjang, mengingat kembali saat-saat Aku bertemu dengan Rakha di sekolah, terkadang mata kami saling bertemu tapi pandangan kami selalu terlepas karena di setiap waktu dia selalu dikelilingi banyak orang, Rakha seseorang yang terbuka dan pandai berbicara, begitu sopan, begitu lembut, semua orang akan merasa nyaman didekatnya, mungkin dengan sifat kami yang jauh beda akan membuatku lebih jauh darinya, walaupun hanya untuk bertegur sapa.

Dulu Aku menghabiskan waktu dengan menulis dan membaca, menjadikanku bukan bagian siswi terkenal di sekolah, tapi Aku selalu menjadi andalan ketika harus menjadi penulis di bor kelas menggantikan Guru yang berhalangan, saat itu mungkin saat-saat Rakha bisa melihatku jelas, tapi apa daya posisiku yang membelakangi seluruh siswa membuat kami tidak mungkin saling menatap.
Aku teringat jelas saat Guru memberi tugas untuk menulis puisi dan harus dibaca di hadapan seluruh kelas, saat itu Guru hanya memberikan waktu setengah jam untuk membuatnya, Aku yang terbiasa menulispun hanya terpaku karena tertekan waktu yang sempit begitupun dengan lainnya, Aku mampu menulis beberapa kalimat di buku ini tapi tentu saja tidak cukup, waktu berlalu dan hanya Rakha yang mampu membaca di depan, berbicara sederhanapun terdengar begitu rupawan lalu bagaimana jika dia sampai membaca puisi ? Aku memperhatikannya dengan mata terpana, lalu Rakha membaca dengan suara pelan dan mendayu.

“dirimu . .
adalah sunyi yang mendekap
adalah sepi yang mengikat
bukan sebuah bayang lalu
bukan sisa-sisa riuh
muara yang ditunggu
padang yang dirindu
pandang yang tertukar
sampai mata terbenam
sungguh anggun yang bersinar
sungguh indah yang berbinar
relikui, nestapa, paradigma
dirimu tetap permata . .”

Dia kembali duduk disaksikan banyak orang yang tersenyum padanya, Aku hanya mampu meliriknya sesaat lalu tertunduk, bergumam dalam hati sungguh indah sekali.

Aku meneteskan air mata, mengalir jatuh di hijabku yang perlahan mulai basah, sampai lulus pun Aku tidak berani berbicara padanya, itulah kenapa dalam buku ini potret Rakha terlihat kosong tanpa ada hiasan apapun, Aku melihat sesaat robekan kertas dalam buku ini, lalu tersenyum sesaat karena ini adalah satu-satunya kenangan tentang Rakha, sebuah puisi indah yang dia tulis dalam bukunya.

Dari jendela kulihat Mentari mulai tertutup bersembunyi di balik gedung pencakar, menyisakan warna-warna jingga di langit terbalut awan, Aku menyeka air mata dan membenarkan sedikit hijabku yang goyah, lalu meneguk tetes akhir dari cangkir Teh ini yang cukup menenangkanku, Aku harus pulang karena tidak baik duduk terus menghabiskan waktu dengan mengingat yang sudah usai.
Sebelum beranjak pergi Aku membereskan sesaat kursi dan meja yang biasa jadi tempat menyambut pelanggan, lalu membawa sedikit buku yang akan ku bawa pulang termasuk Buku catatanku, dulu Buku ini Aku bawa ketika di hari pertama acara peresmian dibukanya ‘Gerai Buku Araa’ yang menjadi kebanggaanku sekarang, cita-citaku sudah terpenuhi, dan berharap bisa mewariskan harapan yang terus bergulir di masa depan, Buku ini ku bawa pulang, agar harapanku tidak tercampur kenangan dari masa lampau, buku ini harus pulang dan beristirahat dengan tenang.

Aku menutup pintu utama, kumelirik di sekitar Gerai Buku miliku masih terlihat ramai, terlihat lampu-lampu Ruko sampai Restoran mulai menyala, bersiap menyambut malam.
Aku membawa tote-bag berisi buku-buku tadi dan mulai melangkah, Aku biasa membawa mobilku, tapi hari yang cerah ditambah jarak Gerai dengan Rumahku tidak terpaut jauh maka Aku memutuskan berjalan kaki, tentu sambil mencari inspirasi untuk Buku yang kutulis berikutnya.
Udara sore hari yang mulai merayap memaksaku mengenakan jaket cardigan yang sedikit membantu menghangatkan tubuhku, Aku juga memakai stocking hitam yang melindungi kaki-kaki ini melangkah dengan balutan rok senada bersama hijab dan sepatuku.
Di ujung jalan ini, terdapat taman luas yang biasa dijajaki semua kalangan, anak-anak yang bermain, ibu muda yang mendorong kereta bayi, sampai remaja yang memadu kasih menikmati cuaca petang. Aku biasa melewati jalan ini setiap hari, terkadang Aku merasa iri dengan mereka yang bisa saling bersenda gurau bersama teman, karena sampai saat inipun Aku masih menjadi sosok pendiam, teman-temanku memang sering menghubungiku namun tetap saja segala keluh kesah dan perkataanku hanya dituangkan dalam tulisan.

“eh gays, itu ada Kak Aara Aulia.” tunjuk Remaja perempuan bersama teman-temannya yang melihatku dari bangku taman, seketika itu pula diriku dikelilingi banyak orang.

“Kak Ira minta foto boleh ?”
“mbak Ria tolong tanda tangan buku ini, ceritanya bagus loh Kak, kapan buat novel lagi ?”
“Kak Aulia makin cantik deh”

Mereka bertubi-tubi merangkulku dengan hangat, lalu memenuhi semua permintaan mereka dengan senang, memang terkadang Aku di panggil Ira, Ria, atau Aulia oleh para penggemar, mungkin ini karena nama Aara sedikit canggung diucapkan, bahkan di masa SMA dulu Aku dipanggil dengan nama . .

“Rara . .”
“boleh minta tanda tangan ?” ucap Pria yang tiba-tiba menghampiriku, Aku terkejut karena panggilan itu hanya keluar dari mulut teman-teman sekelasku.

Pria itu terlihat maskulin dengan Setelan Jasnya, Kemeja biru langit terbalut rapih di badannya yang tinggi, dan terlihat indah diantara kerahnya, ditambah sepatu pentopel hitam yang terpasang di kaki-kakinya yang jenjang.
Aku melihat wajahnya sesaat, sedikit asing tapi Aku pasti mengenalnya, dia hanya memberikan sebuah buku karyaku bersama bolpoint mewah miliknya.
Aku menggores lembar pertama buku ini sambil memikirkan siapa dia yang bisa mengetahui nama akrabku, ketika sampai di goresan terakhir Aku membaca tulisan kecil di bawah judul buku novel dan namaku yang tertera.

“Menantikan Matahari”
“Karya : Aara Aulia.”


“. . ♡ . .”
“. . Rakha . .”

simbol Cinta dan Nama yang digores oleh seseorang yang ku kenal, tulisan yang sama persis dengan bentuk tulisan dari puisi favoritku.

Seketika itu Aku melihat wajahnya, dia hanya tersenyum melihatku yang terpaku tidak percaya, Apa betul dia Rakha ? sudah tujuh tahun Aku tidak melihatnya, wajahnya jauh lebih menawan dan terlihat lebih dewasa, kumis tipisnya terlihat kontras dengan wajahnya yang putih bersih.

“Ra . .kha ?” Aku terpana tidak percaya dia ada dihadapanku saat ini.

“iya Rara ini Aku, sudah lupa ? gimana kabarmu ?” Rakha melambaikan tangan diantara bola mataku yang tidak berkedip sejak tadi.

Jantungku berdebar tidak berhenti, Matahari yang terbenam dibelakangku menyinari wajahnya yang tenang temaram.

“Grutuk . .” suara buku terjatuh di atas trotoar.

Aku menjatuhkan bolpoint berikut buku novel miliknya, sebuah novel yang memang kutulis mengenai dirinya, tote-bag yang ku bawa di bahu turut lepas membuka segala isinya hingga keluar berserakan.

“Ra ? itu jatuh.” imbuh Rakha yang segera menundukan badannya mengambil buku-buku yang berserakan.

“eh maaf . .” Aku ikut membantunya, sesekali Aku melirik dia dengan badan yang gemetar.

Tangan kami sedikit bersentuhan, lalu terlepas lagi, Rakha sepertinya melihatku sesaat dengan senyuman khasnya, akhirnya pandangan kami bertemu dan kembali berdiri seperti sedia kala.

“Kamu sakit Ra ?” ucap Rakha menyadarkanku yang masih tidak percaya, sambil memegang tote-bag miliku yang terjatuh tadi.

“mm . . engga kok  . . maaf.” pipiku sepertinya mulai merah, memalingkan wajahku ke samping, berusaha untuk tidak gemetar lagi.

“Biar Aku bantu membawa barangmu ini, lalu menemanimu pulang, lagipula kita menuju tempat yang sama.” timpa Rakha, kembali aku merasa tersengat listrik, semakin gemetar.

“maksudmu ?” Aku terheran, kemana tujuan Rakha ?

“sudahlah, nanti kamu tahu sendiri.” Rakha mulai melangkah, gesturnya mengajaku mulai melangkah.

Walau sempat ragu Aku akhirnya mengangguk, kami mulai melangkah bersamaan namun kaki-kaki kecilku masih goyah sehingga kami melangkah sedikit pelan, terkadang wajahku berpaling ke samping, berusaha untuk tidak tegang, lalu menggelengkan kepala sambil menutup mata, semakin mencoba diriku untuk tidak gugup maka semakin pula diri ini bergetar kembali, Aku hanya mampu memegang kedua lenganku dibawah, berusaha untuk kuat dan bertahan, tentu masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Karena jujur, Aku masih kebingungan, sama sekali tidak menyangka ada sosok Rakha disampingku, sosok yang selalu kuingat selama ini, namun Aku harus tetap mencoba untuk lebih berani menghadapi apapun, termasuk kehadirannya yang datang tiba-tiba.

“Jadi gimana kabarmu ? Aku sering melihatmu di media televisi, karyamu terkenal sekali.” tanya Rakha memuji.

“Aku baik Rakha, dirimu ? Aku dengar kamu sudah menjadi Sersan Mayor.” tanyaku dengan wajah tertunduk.

“Aku masih seperti ini, hanya emblem seragamku yang berubah.” jawab Rakha dengan tawa.

“Rara, kenapa sampai saat ini kamu belum menikah ?” tanya Rakha kembali, pertanyaan yang membuatku sedikit terkejut, karena memang sampai sekarang Aku belum menjalin hubungan dengan siapapun, apalagi merencanakan pernikahan.

“itu . . mm . . anu” Aku semakin gugup menjawab sebuah pertanyaan sakral itu, sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan keluargaku.

“jangan bilang jika kamu masih menyukaiku.” ucap Rakha lalu berhenti melihatku, Rakha tersenyum sambil menunjukan Buku catatanku.

Matahari pukul lima sore seperti berhenti terbenam, menggoda waktuku bersama Rakha sekarang. Perkataan Rakha membuat pertahananku goyah, diriku tidak kuasa melihat wajahnya, Aku semakin tertunduk, merasakan malu yang dalam.

“Aku tahu jika kamu merobek . .”

“Tolong jangan diteruskan !” Aku berteriak memotong perkataannya, bodoh kenapa Aku harus berteriak padanya, ini justru menunjukan bahwa Aku pelakunya.

“maafkan Aku jika membuatmu merasa tertekan, jujur saat itu Aku merasa senang karena kamu yang mengambil lembaran puisiku.” ucap Rakha, lalu mulai melangkah kembali ke depan, sedangkan Aku masih berdiri diam mematung, darimana dia mengetahuinya ?

“Aara, Aku selalu memperhatikanmu, melirikmu ketika menulis di depan kelas, di kantin, di lapangan, dimanapun kamu berada, mata ini selalu melihatmu, tidak akan terlepas, Buku catatan ini tidak luput dari pandanganku, setiap hal darimu begitu berharga bagiku.” ucap Rakha tersenyum sambil melihatku ke belakang, sekarang giliran Matahari menyinariku dari depan, membuat sosok Rakha semakin silau.

“Rakha . .”

“dirimu adalah puisi itu Ra.” ucap Rakha singkat.

Dia menghampiri dengan membuka buku catatanku, lalu dengan serius dia menulis sesuatu di lembaran terakhir, kemudian menunjukannya padaku sambil tersenyum.

Kalimat singkat tertera dibawah potretnya yang kosong sejak SMA sampai sekarang, tertulis jelas dan besar.

“Aku menyayangimu.”
“AARAKHA ♡”

Aku menutup bibir dengan tanganku, meneteskan air mata haru, begitu deras sampai jatuh di hijabku layaknya hujan yang menetes di kemarau panjang, begitu menyejukan, begitu menyegarkan.
Aku membuka tanganku dan memeluk buku ini sambil tersenyum, dari sekian lama lembar ini kosong akhirnya terisi sekarang, diriku masih terdiam dan gemetar, sebuah getaran bahagia.

“Ra ? sudah ya jangan menangis lagi, maaf jika ini mengejutkanmu, hari sudah sore jadi secepatnya kita harus pulang.” Rakha dan Aku mulai melangkah kembali.

Aku berjalan bersama Rakha yang mulai sedikit mendekat, bersama angin yang berhembus, bersama daun yang berjatuhan, bersama kicau burung yang kembali ke sarang, Matahari yang kembali ke ufuk Khatulistiwa, merah jingga dari dekat.

. . .

Aku sudah sampai di gerbang rumahku, keluargaku begitu menyayangiku sehingga di teras rumah mereka selalu menantiku pulang, memang dengan penghasilanku sekarang Aku bisa memiliki rumah sendiri tapi keluargaku merupakan keluarga religius dan Aku tidak akan dilepas bebas jika belum menikah.
Aku dan Rakha berhenti tepat di pintu gerbang lalu mengisyaratkan untuk pamit, namun jujur Aku masih merindukannya berharap pertemuan ini bisa berlangsung lebih lama.

“Rakha, terimakasih.” sekarang Aku bisa berkata lebih jelas dengan memandangnya langsung.

“Aku tidak diajak masuk ?” tanya Rakha.

“Tidak bisa, Ayah dan Ibu pasti akan menegurku.” jawabku menundukan kepala.

“Tapi Ayah dan Ibuku juga di dalam, mereka datang kesini bersamaku sejak jam tiga menjelang sore, akhirnya Ayahmu menyuruhku menjemput kamu Ra.” balas Rakha memandangku yang mulai mengkerutkan dahi, kebingungan dengan perkataannya.

“maksudmu ?”

“Ckret . .” tiba-tiba gerbang terbuka dari belakang, mobil asing hendak keluar.

“nah ini dia Menantuku baru pulang” ucap lantang seorang Pria berkumis tebal, menghampiri kami berdua, Rakha memeluknya.

“Ibu ?” Rakha melambaikan tangan pada Ibunya.

Aku maksud semua ini ?

Di kejauhan Ibu Rakha dan Ibuku terlihat mengobrol syahdu merencanakan sesuatu, mereka berdua terlihat cantik memakai balutan hijab masing-masing, sedangkan Ayahku sedang mengarahkan supir yang hendak keluar, Aku rasa ini mobil itu milik keluarga Rakha.
Mereka semua terlihat senang akan kedatanganku dan Rakha, Ayah dan Ibu menghampiriku lalu memeluk tubuhku dengan haru, disusul Ibu Rakha menghampiriku dengan senyuman, beliau sama-sama memeluk dan mencium diriku yang masih terpaku dengan heran.

“jadi ini Aara yang sering diceritakan Rakha, ternyata kamu terlihat lebih cantik dibandingkan di sampul buku.” ucapnya sambil mengusap-usap bahuku senang.

“Aara, jadi keluarga Pak Gilar datang melamar kamu sebagai calon istri dari Rakha.” ucap Ayahku bahagia.

“Ibu dan Ayah sudah setuju dengan lamaran Rakha, tapi tentu jawaban kamu sangat dibutuhkan disini.” ucap Ibuku.

“seperti yang dikatakan Orang tuamu, siap ndak menerima Rakha sebagai suami kamu ?” tanya Ibu Rakha dengan logat jawanya yang kental, lalu semua orang memandangku terdiam.

Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi selain mengangguk dan mengiyakan, air mataku kembali meleleh yang kemudian dipeluk hangat Ibu Rakha, lalu Ayah juga Ibuku menepuk pundaku perlahan.
Kemudian Ibu Rakha memegang lenganku, memasang cincin berlian di jari manis tanda diriku sudah terikat dengan akad pernikahan kelak, Aku melirik Rakha di belakang, melihatnya tersenyum padaku, Aku membalas senyumannya.

. . .

“Aku mencintaimu Aara.” ucap Rakha dihadapanku.

Aku tidak menjawab apa-apa, namun mengangkat jari manisku dihadapannya, kemudian saling melempar senyum bahagia.
Keluarga Rakha akhirnya pamit dan kami akan bertemu lagi saat akad minggu depan, lalu Ayah dan Ibuku melambaikan tangan pada mereka.

Aku turut melambaikan tangan padanya, sekaligus pada Matahari terbenam, mobil keluarga Rakha hilang bersamaan dengan terbenamnya cahaya yang sekarang sudah ada di dipelukanku.
Selembar kertas masa lalu dan robekan puisi Rakha terjawab sudah, dia benar-benar membalas cintaku dengan utuh, buku catatan yang ku bawa pulang ternyata mengembalikan Rakha ke pangkuanku, beristirahat tenang dan berakhir bahagia.
Aku selesai menanti Matahariku, Akulah Permata yang menanti dilebur hangat cintanya, larut dalam harmoni masa lalu yang berbuah indah sekarang.

“Aku juga mencintaimu Rakha.” ucapku dalam hati.

Takan berubah.

Takan tergantikan.

Selalu dan selamanya.

THE END

credit : Bukhorigan