Cerpen

Reptil Rawa & Reptil Gurun

May 10, 2020
cerita nunung
cerita nunung

Dia adalah perempuan cantik, matanya indah setipis relung cahaya pagi, setiap dia mengedipkan mata seolah embun berhembus menyejukan pria manapun, lesung pipi yang merona juga bibir yang mekar, ditambah senyum bergingsul menggigit pandanganku untuk terpatung lebih lama, segalanya ditunjang postur rindang menyejukan, benar-benar membuat siapapun akan betah berlama-lama di dekatnya.
Dia datang dari keluarga yang teramat religius, dimana tihang agama ditegakan pada setiap pondasi kehidupan, untuk itulah dia memakai kerudung yang lebar menjuntai, apa yang dia kenakan sangat indah ketika berkibar dan melambai-lambai, parfum yang tercium pun seperti bunga gurun jazirah timur-tengah sana, dan terpenting adalah sopan santun menjadikan dia tidak hanya cantik tapi lebih dari sekedar rupawan.
Keluarganya tidak hanya religius, tapi lebih konservatif, tertutup, dan memegang aturan yang ketat, tentu membuat dia disekat kawat berduri agar tidak dihampiri pria sembarangan, walaupun seperti itu dia tetaplah bunga yang terpasang indah di halaman rumah, menanti seseorang yang datang memetik.

Sungguh, dirinya adalah gambaran syurga yang dijanjikan dalam kitab suci manapun.

Benar, bahwasanya dia adalah oasis yang menyegarkan di tengah gurun.

Sedangkan diriku datang dari latar belakang yang jauh berbeda, jauh berputar dan menukik tajam sampai 180°.
Aku lahir dari keluarga yang tinggi akan dinamika golongan dan agama, Ayahku seorang Katholik yang sudah menjadi muallaf, keluarga Ayah tentu masih akrab dengan kami karena menganggap agama bukan sebuah ‘candu’ melainkan proses menemukan jati Tuhan yang sebenarnya, untuk itulah keluarga Ayah tinggi akan nilai saling menghormati keyakinan masing-masing, terlebih lagi saat ini Ayahku begitu aktif di organisasi Muhammadiyah yang menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama.
Lalu Ibuku datang dari keluarga NU, tidak perlu dijelaskan kembali bagaimana sikap dari keluarga NU yang menanamkan nilai agama dengan nasionalisme sejak kecil, berbagai dinamika tersebut membuat keluargaku lebih terbuka dibandingkan keluarganya yang tertutup rapat, perpaduan Ayah dan Ibuku membuat diriku sedikit liberal untuk urusan beragama, Aku sempat berpikir dari sekian banyaknya perbedaan keluarga kita mungkin saja ada harapan untuk bisa menyatu.

Tapi itu tidak cukup untuk bersanding dengannya bukan ? Aku tidak memanjangkan janggut seperti Ayahnya, atau memakai setelan jubah panjang seperti Kakaknya.

Segala polemik itu hanya membuat kenanganku dengannya muncul di ingatanku.

***
Dulu, Aku bertemu dengannya ketika sama-sama mengenyam pendidikan sekolah berbasis pesantren di Garut-Jawa Barat, kami bertemu di koridor sekolah, dan saling menyuguhkan senyum hangat, jangan tanya bagaimana diriku kasmaran semenjak menyantap senyumnya saat itu.
Walaupun diriku mengenal wajahnya, tapi belum tahu persis siapa nama perempuan itu, siapakah dia ? jenis bunga apa itu ? Media telekomunikasi yang minim akhirnya membuat diriku memaksakan diri untuk menanyakan siapa dan apa latar belakangnya pada semua orang, namun tetap berakhir nihil.

pencarianku terhenti di tengah kekeringan, sangat haus akan sapaan dia lagi.

Suatu saat, ketika medsos Friendster ada di puncak, diriku menemukannya pada kotak pencarian, lama sekali ku menatap pada monitor, seolah diriku mencium aroma bunga gurun yang berhembus di muka layar kaca, begitu menghangatkan jiwaku.

[“Afian ya ?”] Ternyata dia langsung mengirim pesan.

[“Oh iya, kok tahu ?”] Ku sempat menjual mahal.

[“Dirimu sering berjemur di pelataran sekolah seperti reptil, setiap hari Aku selalu melihatmu.”] Aku tertawa kecil di depan monitor, ternyata dia sering melihatku.

[“Hah reptil ? Haha, lalu siapa namamu ? Kulihat nama Friendstermu sedikit membingungkan.”] Saat itu memang umum nama medsos tersusun antara kata dan nomer yang teracak.

[“Namaku Cahaya, kamu bisa panggil Aku Caca, salam kenal ya, kita satu angkatan loh.”] Jawabnya ringkas.

“Cahaya.” Aku bergumam dalam hati, tentu dengan perasaan yang berbunga, akhirnya rasa hausku di guyur kesegaran.

Dirinya memang cahaya, begitu menyilaukan.

Seperti yang dia katakan, Aku memang reptil berdarah dingin yang meminta kehangatan pada cahaya.

***
Hari demi hari silih berganti, Aku dan dia menjalin hubungan layaknya sahabat karib, saat itu banyak hal yang membuat kita bisa larut satu sama lain, kami sering bertukar pandangan mengenai hal apapun, dari sekedar obrolan ringan sampai filosofi kehidupan, dari sekolah sampai rumah, dari sepak bola sampai film, dari apapun sampai manapun, sungguh banyak hal yang membuat pikiranku jauh lebih luas, belum pernah seumur hidup Aku menemukan tipe seperti ini, membuatku bisa nyaman bercengkerama dengannya, dirinya lebih dari sekedar spesial hingga membuat hatiku terpasung untuk lebih mengenalnya lebih dalam.
Ternyata dia berasal dari Jakarta, sebuah kota megapolitan yang jauh kontras dengan Garut yang terpencil di selatan jawa, namun karena kualitas pendidikan pesantren di Garut membuat dia di sekolahkan di sini, akhirnya perbedaan kami mulai muncul ke permukaan, kami yang sama-sama suka sepak bola ternyata mendukung dua tim yang jadi musuh bebuyutan sejak lama, Persib dan Persija. Bukan hanya itu saja, dia juga fans dari Real Madrid, yang begitu mengidolakan Christian Ronaldo, sedangkan Aku pasukan ‘Catalunya’ Barcelona dengan sosok Messi sebagai pionirnya, Real madrid dan Barcelona memang rival abadi sepak bola Spanyol. Sejak saat itu kami bersikukuh dengan pilihan tim masing-masing, tentunya masih saling menghormati perbedaan, lagipula ini hanya sepak bola bukan ?
Ketika libur sekolah tiba, dia pulang ke Jakarta sehingga Aku yang terbiasa menemukannya di sekolah merasa sangat kehilangan, akhirnya Aku memutuskan untuk menelpon, sudah waktunya diriku mendengar suaranya langsung, bukan hanya sekedar melempar senyum ataupun bertukar chat.

Tut . . .Tut . . .” Aku sedikit gugup menunggu suaranya keluar.

“Halo ?” Ucapnya lembut.

Iya memang lembut, tapi ini bukan suara remaja perempuan umumnya, terdengar lebih dewasa dan sedikit tegas.

“I. . . Iya Halo ? Benar ini dengan rumahnya Cahaya ?” Ucapku.

“Benar, ini siapa ya ? Ada keperluan apa ?” Jawabnya menyelidik.

“Jadi . . . Ini temannya di Garut ingin menanyakan kabarnya langsung, apa Ibu mengizinkan ?” Gila, mungkin ini Ibunya, apalagi jika yang menerima adalah Ayahnya.

“Baik, tapi jangan lama, Caca sedang mengaji.”
“Nak ? Ada yang menelpon, katanya dari Garut !” Teriak Ibunya.

Terdengar senyap seseorang datang menuju batang telpon.

“Halo ? Ini siapa ?” Akhirnya Caca berbicara membuat segala keteganganku redam, suara yang terdengar jauh lebih lembut dari sebelumnya.

“Caca ya ? Ini Fian.” Ucapku tenang.

“Oh Fian, kenapa ga bilang dulu ingin menelpon ?” Jawabnya.

“Iya maaf, tapi Aku benar-benar . . .” Aku mulai gugup, ini memang pertama kalinya Aku berbicara langsung, walau hanya lewat telpon.

“Benar-benar apa ? Rindu ?” Balasnya dengan tertawa kecil.

“Ah ? Iya . . . tapi engga juga sih . . . tapi iya, duh . . .” Bicaraku mulai terseok.

“Kenapa ? Kesel ya Persib kalah lagi ?” Dia semakin menggodaku, memang Persib kalah sore tadi.

“Jangan mulai ya, Persija juga imbang kan” Aku membela.

“Lebih baik imbang kan daripada kalah ?” Balasnya.

“Aku ga mau membicarakan ini lagi, karena Aku hanya menanyakan kabar, karena beberapa hari ini chat Aku tidak di balas.” Aku berusaha tidak memancing keributan.

“Oh iya maaf, pekan ini Aku dan keluarga sudah bertafakur alam, kami memang suka mendaki gunung bersama, disini Aku memikirkanmu kok, kondisiku baik dan senang karena kamu bisa menelepon.” Jawabnya lembut.

“Oh gitu ya, Aku baru tahu jika kamu suka mendaki.” Aku mulai penasaran.

“Alam selalu memberikan kesegaran buatku, ya sekedar membersihkan penatnya Jakarta, di Garut enak ya selalu sejuk.” Jawabnya.

“Tidak juga, di sini selalu dingin dan hening, terkadang Aku juga ingin menapaki ramainya Ibu Kota karena ada taman Skateboard yang bagus di sana.” Balasku.

“Loh kamu suka main Skateboard ya ? Padahal itu olahraga berbahaya.” Giliran dia yang penasaran.

“Menurutku lebih beresiko mendaki, jadi Aku lebih suka mencari hobi di jalanan saja, tidak seperti gunung yang sepi.” Aku mulai bersandar meratapi perbedaan kita.

“Kita datang dari tempat yang berbeda ya, dan kebiasaan yang berbeda juga.” Caca mengeluh.

“Tapi kita masih satu alam, Matahari yang merindukan malam, dan Bulan yang merindukan siang.” Ku berbicara dengan gimik senyum

“Hihi, panas yang merindukan sejuk dan . . .”

“Caca ayo sudah waktunya mengaji lagi.” Terdengar suara dari kejauhan, kata-katanya terpotong oleh Ibunya.

“Fian ? Sudah dulu ya, terimakasih sudah menelpon, kapan-kapan disambung lagi.” Ucap Cahaya langsung menutup telpon.

Tut . . . Tut . . .

Aku hanya tertegun, ingin sekali Aku melanjutkan kata-katanya yang belum selesai.

“Panas yang merindukan sejuk dan dingin yang merindukan hangat.” Aku bergumam dalam hati.

Kemudian ku menatap ke langit-langit rumah yang mulai berhembus aroma musim dingin di akhir tahun, Aku menyadari satu hal penting, diriku begitu nyaman dengan segala kehangatannya, tapi perbedaan iklim mungkin akan membuat reptil tengik sepertiku mati kehausan mengejar cintanya.
Tapi Cinta memang harus diungkapkan bukan, jujur saja sampai lulus SMA pun Aku belum menyatakan perasaan apapun padanya.

***
Musim berganti, sebuah rasa yang terpendam dan terpupuk semakin membesar, Aku seperti kadal semak belukar yang memegang bunga teratai dari rawa untuk ku serahkan pada seseorang, hanya untuknya sang reptil anggun dari gurun yang tandus, selama ini dia begitu perhatian denganku, Aku-pun membalas segala kehangatannya, mungkin kita memang ditakdirkan bersama masalahnya habitat kami tetaplah berbeda.
Kita-pun sama-sama saling menggoda dan saling bersaing untuk menentukan siapa yang terbaik dari segi apapun, berdebat tentang pandangan apa saja, sikap tidak ingin mengalah layaknya reptil memperebutkan mangsa, namun hal itu menjadikan kita semakin dekat dan dekat, kami adalah reptil berbeda habitat yang bergandengan menikmati alam. Setelah lulus SMA, kami berpisah di persimpangan cita-cita, dia melanjutkan studi Ekonomi Syariah di Jakarta, sedangkan Aku mengambil Teknik Informasi di Garut, Aku sudah terlanjur jadi reptil dari hutan tropis dan melanjutkan studi di daerahku sendiri, dan dirinya-pun berpikiran hal yang sama, kami memasuki masa Long Distance Relationship, ringkasnya Lelah Disiksa Rindu.
Hubungan jarak jauh tidak lebih dari sekedar konflik yang akan menempatkan orang yang dicintai masuk dalam kekangan hingga merampas kemerdekaan, akhirnya ku mendengar desas-desus jika dia hendak dilamar orang, Aku yang masih menunggu disini cemas akan bunga gurunku yang hendak dipetik orang, membuat rasa posesifku akan kegiatan dia semakin intens, Aku tidak ingin reptil dari hutan tropis sepertiku kehilangan oasisnya di tengah gurun.
Sikap kita berakhir dalam keheningan, berdiam satu sama lain, Aku tahu jika dia tidak ingin dikekang berpetualang di tengah gurun, namun diriku juga mendambakan sikap hangatnya setiap waktu seperti dulu, memang pilihan hidup akan membuat membuat perasaan cinta terbelah, walaupun masih menyatu dalam benang yang sama.
Saat musim Pilpres 2014 tiba, kita-pun bersebrangan pilihan, dirinya terlibat aktif dalam kampanye untuk partai berlambang padi kuning, dan Aku terlibat aktif untuk partai berlambang banteng.

Zona perang Cebong-Kampret dimulai.

Segala persaingan yang sebelumnya selalu dihiasi kehangatan berubah dingin dan kaku jika menyangkut politik, ini karena keluarganya yang memandang teguh arti dari perjuangan politik Khilafah untuk Indonesia, hal ini tentu bertolak belakang dengan keluargaku. Terdengar konyol memang jika hubungan spesial ini dihiasi perseteruan pejabat atas, tidak sedikit hubungan putus karena masalah politik, apalagi percintaan receh.

***
“Kita harus bertemu secepatnya.” Ucapku dalam telpon.

“Setuju, Aku ke Garut sekarang.” Jawabnya, reptil dari gurun memang tangguh.

Ini memang harus diselesaikan, Aku harus meluruskan apapun yang menjadi permasalahan kita selama ini, menyamakan segala perbedaan yang pernah kami lalui, satu laga el-classico yang harus dituntaskan, sebuah deklarasi damai seusai politik yang memang harus dilakukan.
Beberapa jam kemudian, Aku dan Dia bertemu setelah sekian lamanya, dirinya jauh lebih menawan, jauh lebih anggun, sungguh Aku tidak ingin melepaskannya dari pandanganku.
Kami duduk di sebuah kafe yang berada persis disamping halte bis jurusan Garut-Jakarta, Aku tahu jika pertemuan ini tidak akan berlangsung lama walaupun diluar sana hujan jatuh sangat deras, mengisyaratkan kepedihan.

“Aku merindukanmu setiap saat Ca.” Ucapku memecah keheningan.

“Aku tahu, tapi sikapmu itu membuatku semakin terbakar, you know me so well, Aku tidak suka diperlakukan seperti itu.”

“Jadi semua ini tentang diriku yang selalu mengekangmu ? Aku hanya tidak ingin kamu jatuh dalam pelukan orang lain, tolong tunggu Aku sampai studiku selesai, segera ku lamar kamu di sana.” Balasku lirih.

“Aku sama-sama menunggumu untuk menyatakan perasaan kita selama ini, tapi nyatanya tidak, kamu justru tergelincir di rawa-rawa dan jatuh di kelilingi perempuan lain.” Caca mulai bergelinang, memang saat itu Aku dekat dengan orang lain, sebagai balasan atas sikapnya.

“Kita sering berbagi pengertian, tapi belum memahami satu sama lain.” Aku tertunduk pada cangkir kopi yang mulai dingin.

“Karena memang kita berbeda.” Jawabnya.

“Tapi Aku ingin menyelesaikan segala konflik kita.” Ucapku

“Tidak ada yang perlu diselesaikan, Cinta memang tidak akan selesai kan ?” Dia tersenyum lalu berdiri dari kursi, melihat jam tangan dan mengajak diriku keluar.

Sesaat Aku berusaha memahami perkataannya, memang tidak ada yang perlu diselesaikan tapi memang tidak perlu dilanjutkan, karena jika memang hubungan ini hanya membuat kami tersiksa satu sama lain, lantas untuk apa diteruskan bukan ?
Aku dan Cahaya berdiri di trotoar menanti bis yang membawanya pulang ke gurun, hujan yang deras tidak mampu di tahan atap halte sehingga kami mulai berdekatan, lalu melirik satu sama lain dan menyadari jika ini adalah sebuah perpisahan, lalu kami tersenyum satu sama lain, terlihat dia sedikit tersipu malu.

“Dasar Viking”
“Dasar the Jak”

“Barcelona cengeng”
“Real Madrid banci”

“Unta”
“Ular”

“Cebong !”
“Kampret !”

“Hujan petir !”
“Badai Gurun !”

“One Piece bajak laut main air terus.”
“Naruto ninja kucing kepanasan.”

“Dasar . . . Dodol”
“Dasar Roti Buaya”

“Aku benci kamu.” Caca mulai tertunduk
“Apalagi Aku.” Pandanganku datar.

“. . . . .”
“. . . . .”

“Aku sayang kamu Fian.” Caca berucap pelan.

Perasaan yang sama-sama kami pendam akhirnya dibuka oleh Caca, sempat ku berpikir untuk membalik kata-katanya, tapi itu tidak mungkin, perasaan cinta yang sungguh-sungguh akan meruntuhkan rasa angkuh pria manapun walau hanya sesaat.

“Aku lebih sayang kamu Ca.” Jawabku singkat.

Kami sama-sama meneteskan air mata, hujan yang turun deras menyamarkan segala kesedihan kami, tersenyum lirih dan saling memandang, lalu berkata lembut secara bersamaan.

“Terimakasih.”

Kaki ku lebih mendekat, kemudian melepas jaket yang ku kenakan, mengangkatnya ke atas untuk meneduhkan pandangan kami berdua dari hujan.

“Jaga selalu kesehatan kamu, Jakarta selalu panas terik.”

“Kamu juga, Garut selalu hujan deras.”

Terlihat tangannya bergetar, tangisannya ingin mengikuti air hujan yang meluncur deras, Aku tahu jika dia ingin memeluk ku, tapi tidak mungkin dilakukan, karena jika ingin memulai sebuah pelukan maka kita harus siap melepaskannya, jadi memang jangan memulainya bukan ? seperti hubungan absurd ini yang memang tidak seharusnya dimulai sejak awal.

Sebentar lagi kami akan berpisah seiring kedatangan bis di ujung jalan, lalu berhenti tepat di depan kami, sesaat dirinya memandangku dengan rona sedih yang dalam, lalu beranjak masuk ke dalam bis, Aku hanya memberi senyum padanya, sebuah senyuman terakhir yang Aku tampakan di pertemuan terakhir kita.
Bis mulai berjalan, terlihat roda-roda berusaha berputar diantara genangan air yang mengalir diantara rongga jalan, terlihat sukar untuk beranjak pergi dari tempatnya.
Namun akhirnya bis berjalan pergi, membawa reptil yang ku cinta bersamanya, bunga gurun yang memang sudah ku ikhlaskan, karena sungguh Aku hanya ingin melihatnya bahagia, bukankah itu esensi saling mencintai ?

Terimakasih semesta atas segala kisah yang ditakdirkan ini, atas segala rasa yang sudah kami lalui, segala kenangan yang berangsur beberapa tahun ke belakang begitu indah, petualangan Reptil rawa yang menjelajahi daerah gurun memberikan arti dari sebuah perjuangan.
Bukan tentang hasil, tapi suatu proses untuk mendewasakan diri, sekarang diriku memahami jika perempuan layaknya pasir di gurun, semakin kamu genggam maka semakin berjatuhan, kita harus mengatup kedua tangan untuk menampungnya agar tidak tumpah.

Dunia memang menuntun Aku dan Dia berbeda, tapi bisa merasakan satu hal yang sama.

“Cinta.”

dirimu adalah bunga gurun,

semerbak menusuk sukma,

dalam belukar rawa,

diantara bebatuan tandus,

kita saling memandang sanubari terbenam,

merayap kembali pada sarang,

esok mungkin mendung di gurun,

esok mungkin cerah di rawa,

karena

kita sempat saling meneduhkan,

karena

kita sempat saling menyejukan,

karena

dalam kala,

kita setia berteguh saling melempar doa,

diantara Gurun dan Rawa.

THE END