Cerpen

Pilihan Merpati Kecil

September 11, 2018

Prolog

Dewa pernah menanyakan sesuatu  kepadaku.

“Jika Aku memberimu  kesempatan untuk menjadi manusia, apakah kamu mau?”

Saat itu, aku hanya tersenyum dan berkata, “Aku tidak ingin menjadi manusia. Aku ingin terus menjadi burung, terbang bebas di langit. Itu semua sudah cukup sempurna untukku. ”

Waktu terus berlalu dan kini tiba – tiba aku benar-benar ingin menjadi manusia untuk sekali saja . Jadi, Aku bertanya kepada Dewa, “Masihkah aku memiliki kesempatan lain untuk menjadi manusia?”

Namun, dewa itu menggelengkan kepalanya, “Kamu sudah kehilangan kesempatan. Selain itu, kalaupun Aku memberimu kesempatan sekarang, Kamu tidak akan hidup melewati satu hari”.

“Itu bagus, bahkan setengah haripun cukup bagiku. Aku hanya ingin menjadi manusia untuk sekali ini saja. ”Dengan mata bersinar, aku memohon dengan sungguh-sungguh.

Dewa itu hanya menghela nafas, “Aku akan memberimu waktu satu hari. Apa yang akan kamu lakukan dengan itu? ”

Aku hanya tersenyum dan tetap terdiam.

Satu hari sudah cukup.

——————————————————————————

Part 1

Aku adalah seekor burung merpati kecil yang dibesarkan oleh dewa.

Buluku berwarna biru langit yang indah, dengan kaki yang putih seperti salju.

sejak aku lahir,para merpati lain sangat cemburu padaku.

Karena aku bisa memilih takdirku sendiri, seperti kesempatan yang diberikan Dewa kepadaku.

“Jika Aku memberimu kesempatan untuk menjadi manusia, apakah kamu mau?”

Aku ingat bahwa aku menjawab pertanyaannya dengan salah satu pertanyaanku sendiri.

“Apakah ada perbedaan antara manusia dan kami para burung?”

Dia tersenyum, “Tentu saja ada. Manusia memiliki kecerdasan yang hebat, dan mereka memiliki kemampuan yang hebat. Itu sebabnya semua hewan takut pada mereka. ”

Aku menatap dengan heran sejenak, sebelum bertanya, “Lalu bagaimana dengan burung?”

Senyum dewa tetap tidak berubah saat dia berkata, “Burung itu sederhana, tetapi mereka memiliki keinginan yang bebas.”

“kalau begitu aku tidak ingin kesempatan itu, aku hanya ingin terus menjadi burung yang bebas terbang kemanapun.”

Saat itu, aku benar – benar masih polos. Aku hanya berpikir bahwa jika aku memiliki kecerdasan seperti manusia, maka aku pasti akan kehilangan sayapku.

Lalu mengapa tidak menjadi burung kecil yang riang saja?

Aku menyaksikan dewa itu mengangguk, sepertinya sedang berpikir keras.

Dan sejak saat itu, aku benar-benar menjadi merpati kecil yang bahagia.

——————————————————————————

Part 2

Aku hanyalah burung kecil yang baru belajar terbang.

Dewa sangat baik, Dia mengatakan aku bebas terbang kemanapun aku suka.

Aku pun terbang ke arah hutan untuk pertama kalinya.

Ketika aku pertama kali melihat langit itu biru yang sangat – sangat besar. Aku menjadi bersemangat

Aku hanya ingin terbang lebih tinggi dan lebih jauh lagi, hingga akhirnya aku terbang sangat – sangat jauh.

Aku meniru tindakan yang burung- burung lain lakukan dan mendarat di balkon sebuah rumah.

Burung – Burung itu mencuri dan memakan butir beras yang dijemur di bawah sinar matahari. Aku juga bersembunyi di sudut balkon dan diam-diam memakan biji-bijian, memakannya dengan lahap dan riang hingga perutku kekenyangan.

Ketika malam tiba, Aku mengikuti mereka dan terbang kembali ke hutan.

Ketika tidak ada yang bisa dilakukan, Aku belajar bagaimana menangkap cacing kecil untuk makan bersama teman-teman baruku.

——————————————————————————

Part 3

Aku adalah burung kecil yang sangat bahagia.

Ketika pertama kali melihat seorang manusia, aku dan temanku sangat takut sehingga kami kabur terbang sangat jauh sekali.

Mereka mengatakan bahwa manusia itu buruk, bahwa mereka akan menangkap burung-burung kecil untuk dijadikan mainan.

Aku benar-benar ketakutan.

Aku tidak ingin kebebasanku untuk terbang di langit yang luas dan biru menjadi hilang jika tertangkap.

Tetapi manusia tidak seburuk itu.

Aku memperhatikan seorang gadis kecil yang memiliki rambut yang diikat samping dan panjang; dia melambai padaku.

karena bingung, aku mendarat di ranting pohon jauh darinya, jauh di luar jangkauannya.

Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan.

Dia mengambil seikat beras dan melemparkannya tidak jauh dariku

Dia menunjuk ke sana, tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Itu adalah godaan yang luar biasa bagiku.

Aku ingin memakan biji-bijian itu, tetapi aku takut dia akan menangkapku.

Aku melihat bahwa teman-temanku semuanya terbang menjauh, tetapi gadis kecil itu masih terus tersenyum ketika dia menatapku.

Dia tidak bergerak, seolah menungguku untuk bergerak lebih dekat.

Dia tidak bergerak untuk waktu yang sangat lama.

aku pikir, mungkin Aku bisa mendekatinya.

——————————————————————————

Part 4

Manusia benar-benar baik.

Aku dengan hati-hati melompat beberapa langkah ke depan, tetapi dia tidak melakukan satu gerakan pun.

Jadi, Aku mengambil seteguk di paruh dan terbang, tetapi dia masih tidak bergerak.

Aku melompat ke depan lagi dan makan beberapa suap sambil gemetar ketakutan – dia bergerak, membuatku terbang panik.

Namun, Aku melihat bahwa dia telah melemparkan lebih banyak beras.

Aku berhenti merasa takut, dan setelah menyelesaikan semua biji-bijian di tanah, dia masih melemparkan segenggam biji-bijian kepadaku.

Gadis kecil yang baik.

Dia adalah manusia pertama yang kutemui.

Aku pikir, manusia itu baik.

——————————————————————————

Part 5

Sejak saat itu, aku akan berhenti di balkon itu setiap hari.

Ketika gadis kecil itu melihatku, dia selalu melemparkan segenggam penuh biji-bijian untuk dimakan.

Perlahan, aku kehilangan rasa takutku padanya.

Terkadang, aku bahkan akan mendarat sangat, sangat dekat dengannya.

Dia tidak pernah mencoba menangkapku.

Ketika dia melihatku, dia selalu penuh senyum.

Tubuhnya kecil, dibandingkan dengan manusia lain. Dia bahkan tidak setinggi kaki manusia lainnya.

Dia memiliki seorang ibu, dan akan selalu menarik celana ibunya, memintanya untuk melemparkan beberapa makanan untukku makan.

Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Aku hanya tahu bahwa gadis itu akan selalu memberiku sesuatu untuk dimakan.

——————————————————————————

Part 6

Aku perlahan menjadi burung kecil yang pemalas.

Setelah aku menemukan seseorang untuk memberiku makan setiap hari, aku mulai bergantung pada gadis kecil itu.

Meskipun aku masih bisa menemukan makanan sendiri, aku akan selalu kembali ke balkon itu.

Dia akan memberiku banyak biji-bijian untuk dimakan.

Dia akan selalu tersenyum padaku …… selalu.

Seiring waktu berlalu, aku menjadi terbiasa dengannya.

Aku tidak takut padanya lagi.

Aku pikir, manusia itu tidak begitu menakutkan.

——————————————————————————

Part 7

Suatu ketika, aku melihat keluarga gadis kecil itu membawa banyak koper, besar dan kecil, keluar dari pintu rumah mereka.

Sejak itu, aku tidak pernah melihatnya lagi di balkon itu.

Sahabatku mengatakan bahwa manusia kecil itu telah pindah.

Aku bertanya, “Apa yang kamu maksud dengan pindah?”

Mereka berkata, “Itu berarti mereka tidak akan pernah kembali.”

Itu membuat perasaanku menjadi hancur.

Apakah karena mereka tidak punya sisa makanan setelah aku memakan semua biji-bijian di rumahnya?

Jika manusia tidak memiliki sisa makanan, apakah mereka harus pergi dan menangkap cacing untuk dimakan?

Aku merasa bersalah.

Aku sangat takut gadis kecil itu akan mati kelaparan.

Ini tidak akan terjadi, aku harus mencarinya.

——————————————————————————

Part 8

Aku pun pergi meninggalkan rumah, meninggalkan semua temanku, dan tidak pernah melihat dewa itu lagi

Aku terbang sendiri menuju langit biru, dan akhirnya tiba di suatu tempat yang disebut kota.

Tempat itu sangat – sangat besar. Ada banyak manusia, dan langit tidak berwarna biru lagi.

Ada sangat sedikit pohon di sana dan banyak asap hitam, Aku bahkan tidak dapat menemukan tempat untuk tidur.

Aku terbang sangat – sangat jauh, dan melewati banyak tempat.

Tapi aku tidak pernah melihatnya lagi.

Gadis kecil yang memberiku makanan.

Balkon rumah, tempat yang selalu aku datangi ketika aku lapar..

Kini aku dikelilingi oleh rumah-rumah yang saling berhimpitan satu sama lain.

Aku kini sadar, aku telah kehilangan arah dan rumahku.

——————————————————————————

Part 9

Aku melihat seorang gadis lagi, di pusat kota.

Dia melemparkanku sebutir beras, matanya berkilauan cerah.

Dia jauh lebih tinggi dari gadis kecil itu, dia pasti orang baik juga.

Aku terbang ke depannya dengan bersemangat dan mendarat di tanah. Aku mulai makan butiran beras.

Namun, dia tiba-tiba menangkapku dan sudah terlambat bagiku untuk melarikan diri.

Dia meraih sayapku erat-erat, dan aku berjuang dengan sekuat tenaga untuk lepas darinya.

Aku menjadi frustasi, Aku berteriak sekeras yang aku bisa!

Aku memohon belas kasihan, namun dia tertawa terbahak-bahak!

Sayap-sayapku terasa sangat sakit, dan bulu-buluku berjatuhan.

Aku mengerang, aku menjerit, namun dia hanya memegangi perutnya dengan tawa.

Dia jelas jauh – jauh lebih besar dari gadis kecil itu.

Mengapa dia tidak sebaik gadis kecil itu?

——————————————————————————

Part 10

Aku dikurung di dalam sangkar dan dibawa ke rumahnya.

Dia menunjukkanku ke manusia lain dengan senyum berseri-seri.

Dan kemudian, semua manusia lainnya tertawa.

Seakan memujinya.

Aku terus menangis setiap hari dan malam, memintanya untuk melepaskanku.

Namun, dia tampak santai dan puas, seolah-olah sedang mendengarkan sebuah lagu.

Aku tidak mengerti bahasanya, dan sepertinya dia tidak tahu bahwa aku menangis.

Aku sangat lapar sampai kepalaku pusing. Aku ambruk di dalam kandang dan berhenti menangis.

Dia akhirnya memberikanku makanan, tetapi itu adalah sesuatu yang tidak aku sukai.

Bintik kecil hitam dan kuning, apakah itu yang biasa dimakan burung-burung di kota?

Aku jadi benar – benar merindukan gadis kecil itu.

——————————————————————————

Part 11

Dia akhirnya melemparkanku keluar dari kandang ke kandang yang sedikit lebih besar dan mengunciku dengan burung kecil lainnya di sana.

Aku menyaksikan burung itu menangis tanpa henti, berjuang dengan seluruh hidupnya.

Dia berkata, “Selamatkan aku, selamatkan aku …”

Aku berbicara kepadanya dengan lemah, mengatakan kepadanya untuk pura pura sekarat.

Dia benar – benar pura-pura sekarat!.

Tapi berbeda denganku, aku saat ini mungkin benar-benar sekarat.

Jadi manusia sebenarnya sangat kejam.

Mereka akan mengurungmumu di bawah kepalsuan dengan alasan untuk merawatmu.

Menyiksamu sampai kamu mati.

Ketika aku sudah tidak berdaya, Dia melemparku keluar jendela, membuatku terjatuh dengan keras di tanah.

Aku melihat langit biru yang luas di atas dan burung-burung yang bebas berterbangan.

Aku menyaksikan sekelompok burung kecil terbang melintas di atasku.

Mereka mengoceh dan berceloteh satu sama lain hingga akhirnya mereka melihatku dengan sangat terkejut.

“Lihat disana! Lihat disana!”

“Burung kecil itu sekarat …”

Namun mereka hanya terbang saja melintasiku dengan perasaan bersalah tanpa berani menolongku.

——————————————————————————

Part 12

Aku diambil lagi oleh gadis lain dan dibawa ke rumah lain.

Gadis itu mengelus-elus buluku dengan matanya yang bersinar.

Dia sepertinya sangat menyukai bulu-buluku; dia mengambil gunting.

Kemudian dia memotong buluku, satu per satu, dan merangkainya menjadi bunga yang indah.

Dia meletakkan rangkaian bunga itu di dekat jendela dan memandanginya dengan puas.

Aku tak berdaya melawan gadis itu dengan tubuhku yang sekarat, akhirnya aku pun menutup mataku perlahan,

Mengapa semakin besar ukuran manusia menjadikan kejahatan di dalam hati mereka semakin besar juga?

Mengapa semakin kecil manusia, semakin banyak kebaikan yang mereka miliki di dalam hati mereka?

Sayang sekali aku baru menyadarinya sekarang.

Sayang sekali, Aku bahkan tidak punya kekuatan untuk berbicara

——————————————————————————

Part 13

Aku bertemu dewa lagi, saat nyawaku hampir menghilang.

Dia hanya menggelengkan kepalanya dan memegangiku di tangannya.

“Mengapa kamu tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang jahat?”

Aku berbicara dengan lemah, “Mengapa manusia dibedakan oleh kebaikan dan kejahatan?”

Namun, dia tersenyum dan berkata, “Jika kamu seorang manusia yang tinggal di lingkungan semacam itu, kamu mungkin akan menjadi sama seperti mereka.”

Aku jatuh ke dalam kesedihan dan kesakitan, air mata memenuhi mataku.

“Bisakah aku memiliki kesempatan lain, untuk menjadi manusia?”

Namun, dewa itu menggelengkan kepalanya, “Kamu sudah kehilangan kesempatan. Selain itu, bahkan jika Aku memberimu kesempatan sekarang, Kamu tidak akan hidup melewati satu hari pun. ”

Dengan berlinang air mata, aku berkata, “Tidak apa-apa, bahkan setengah hari pun sudah cukup. Aku hanya ingin menjadi manusia untuk sekali saja. ”

Dewa itu hanya menghela nafas, “Aku akan memberimu waktu satu hari. Apa yang akan kamu lakukan dengan itu? ”

Aku hanya tersenyum dan tetap terdiam.

Satu hari sudah cukup.

——————————————————————————

Part 14

Akhirnya.

Dewa mengirimku ke gadis kecil itu.

Dalam bentuk manusia.

Untuk pertama kalinya, aku mengerti apa yang dia katakan.

Ketika dia berada di kota besar, dia masih mencintai burung seperti sebelumnya.

Dia berdiri di balkon baru, dengan dua burung kecil sebagai sahabatnya seperti sebelumnya.

Hari itu, aku berdiri di depannya.

Aku tidak mengatakan satu kata pun kepadanya.

Aku hanya mengambil beberapa batu kecil dan dengan sengaja melemparkannya.

Tidak satu pun dari batu itu terkena burung-burung kecil itu.

Namun, semua burung kecil yang gadis kecil itu beri makan terbang menjauh.

Burung-burung itu panik dan ketakutan, dan tidak satu pun yang tersisa.

Gadis kecil itu menangis dan bertanya mengapa aku melakukan hal tersebut!

Aku tersenyum dan berbicara untuk pertama kalinya.

“Aku takut mereka akan berpikir bahwa semua manusia itu baik nanti.”

THE END