Ruang tamu begitu hening, tidak ada sekata apapun keluar dari bibir Yana. Hanya tangan yang memegang semangkuk bubur hangat dan mulai menyuapiku dengan perlahan. Aku terbaring di kursi ruang tamu, dengan sabar Yana menyuapiku tanpa mengeluh.

Dengan perlahan mangkuk bubur yang tadinya penuh, kini telah habis tidak tersisa. Yana tersenyum padaku, melihatku makan dengan lahap. Tangannya mengambil obat dan segelas air yang ada di meja di depannya.

Yana menyuruhku meminum obat itu, dengan sabar Yana merawatku. Padahal aku hanya demam saja, tapi Yana begitu perhatian padaku. Setelah meminum obat Yana pamit pulang padaku.

* * *

Keesokan harinya

Aku terbangun dengan badan yang kembali segar, demamku sudah sembuh. Aku mengais harduk yang terletak di atas pintu kamarku, jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Berjalan menuju kamar mandi dengan malas, terlihat ibu yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.

Selesai mandi aku menghampiri ibu yang masih sibuk di dapur, padahal makanan sudah selesai di masak. Ku lihat ibu memegang kue kukus di tangannya yang masih panas dengan uap yang keluar dari masing-masing kue tersebut.

” Tumben bu, buat kue sepagi ini” aku mengais kursi meja makan dan mendudukinya

” Untuk Yana, setelah makan jangan lupa anter ke rumahnya. Mumpung masih panas” ucap ibu yang masih sibuk dengan adonan kue

” Banyak banget buatnya bu?” Ucapku lagi sambil memegang sendok

” Nanti anter juga ke rumah tetangga, kan nggak enak masak tetangga nyium aromanya aja” ucapnya lagi

” Emang aromanya sampek rumah tetangga? Minggu kemaren aja aku buat sate sama temen-temen aromanya cuma keliling dalam rumah aja, nggak sampek rumah tetangga” ucapku yang sibuk dengan sepiring nasi dan lauk pauk

” Udah nggak usah banyak tanya, kamu buat sate? Emang bisa? Kok ibu nggak di kasih! Rasanya enak? Ayam siapa kamu sate?” Ibu melirikku

” Ayam yang ada di kandang belakang rumah” ucapku santai

” Ehh buset dah ini anak, itu ayam tetangga yang dititipin ke ibu, ngapai kamu bakar” ibu menepok jidatnya

” Habisnya berisik banget, ya aku potong, terus nyuruh temen-temen ke rumah buat bikin sate” ucapku lagi

” Itu ayam kesayangan tetangga, nanti kalau tetangga tanya ayamnya kamu urus sendiri ibu nggak ikut-ikut” melanjutkan membuat kue

” Ah ibu mah nggak asik” aku manyun

” Terserah, cepat ganti baju anterin ke tetangga setelah itu ke Yana”

* * *

Sampai di rumah Yana, aku di sambut hangat oleh keluarganya. Apalagi ayahnya. Yang selalu mengajakku bermain catur, 3 tahun berpacaran 3 tahun bermain catur.

” Eh Bagas, main catur yuk mumpung masih pagi” ucap ayah yang sedang duduk di teras.

Aku mulai bermain catur dengan ayah di temani oleh segelas kopi( milik ayah) dan kue yang aku bawa dari rumah. Tiba-tiba Yana datang dari dalam rumah, membawa sepiring gorengan.

“Sejak kapan datang, mau ngapain” kebingungan melihatku

” Dari tadi, bawain kue di suruh ibu” masih sibuk bermain catur

” Mana kuenya”

“Tuh”melihat kue di samping catur.

“Kok tinggal dikit, siapa yang makan?” Ucapnya lagi

” aku sama ayah” ucapku santai

” Kata ibu tadi apa?”

” Suruh kasih ke kamu”

” Kok kamu makan” dengan wajah sebal

” Oh iya lupa” aku menepok jidat

” Udah nggak usah ribut, nanti minta lagi kan bisa” ucap ayah santai

” Udah habis yah, dibagiin tetangga”

Ayah tertawa melihatku

* * *

Setelah dari rumah Yana, aku pulang. Seperti biasa aku bermain game di hp. Rumahku sepi tidak ada seorang pun, orang tuaku pergi bekerja. Ku cari nomor temen-temenku dan ku suruh datang ke rumah.

Beberapa menit kemudian

Satu persatu temanku mulai berdatangan. Kami selalu melakukan kegiatan yang itu-itu aja. Suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah. Aku berjalan menghampiri sumber suara itu. Ku lihat dari balik gorden, ternyata tetangga sebelah. Sudah pasti menanyakan ayamnya.

Aku membuka pintu

” Eh pak.rt ada apa ya?”

” ayam saya mana?”

” Udah saya bakar pak minggu kemarin sama teman-teman” ucapku cengingisan

” Ayam saya kamu bakar” wajah pak.rt mulai memerah

” Maaf pak gak sengaja, habisnya ayamnya nggak bilang kalo punya pak.rt”

” Mana temanmu suruh kesini?” Kedua tangan pak.rt melagrang di pinggangnya

Aku teriak memangil temenku

” Karena kalian sudah bakar ayam saya, sekarang bersihkan seluruh komplek rt saya. Jangan banyak alasan”

” Salah kami apa pak?” Ucap salah satu temanku

” Kalian udah bakar ayam saya”

Teman-temanku masih bingung

” Itu ayam yang minggu kemarin kita sate” ucapku santai

Teman-temanku langsung melongo mendengar ucapanku. Kami bermalas-malasan membersihkan komplek, apalagi seluas ini. Baru dapat setengah aja capek banget, apalagi komplek satu rt.

* * *

Yana datang ke rumahku membawa sekotak kue bikinannya. Yana duduk di kursi tamu menungguku yang masih membuat minum untuknya, sebenarnya sih ibu yang buat.

” Kemarin sore kemana? Aku hubungi nggak di angkat” membuka pembicaraan

” Dihukum pak.rt” ucapku cuek

” Kok bisa, awalnya gimana kok sampek dihukum” melihatku yang sibuk bermain hp

” Udah, nggak penting juga” aku sibuk bermain game di hpku

” Jalan yuk, udah lama kita nggak jalan” ajaknya

” Males” ucapku singkat

” Oh iya..” pertanyaannya ku potong

” Udah nggak usah berisik ganggu aja”

” Ya udah aku pulang” Yana pergi meninggalkanku yang masih asik bermain game.

Tiba-tiba ibu datang menghampiriku

” Sifat kamu ke Yana jangan begitu, nanti kalo kamu udah kehilangan dia baru nyesel lho. Harusnya kamu bersifat baik jangan cuek, sama perempuan harus perhatian” ucap ibu panjang lebar

“Iya bu, kembaliin dong bu hpku”

” Sebenarnya kamu niat nggak sih pacaran sama Yana? Jangan kayak gitu kalo ditinggal baru tau rasa kamu”

” Ibu doain anak yang baik dong bu”

” Udah ah terserah kamu”

Ibu meninggalkanku

Aku melanjutkan bermain game, suara panggilan melintas di layar hpku. Telihat nama Yana yang beberapa kali menghubungiku. Namun, aku tidak mengangkatnya. Karena aku lagi asik bermain game.

Apa yang ibu katakan itu memang benar. Aku selalu cuek dan nggak perhatian sama Yana. Entah apa yang membuatnya bertahan denganku.

* * *

Hari ini, lebih tepatnya malam minggu. Suasanan taman kota begitu ramai dengan acara musik tradisional, tarian modern, orang bernyanyi dan masih banyak lagi.

Acara ini hampir seminggu sekali diadakan, untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Keramaian di mana-mana.

Aku melihat Yana yang sedang melihat orang sedang bernyanyi, dengan petikan gitar di tangannya. Ku lihat Yana sangat menikmati, tidak pernah aku melihatnya sebahagia itu. Senyumnya yang manis, sudah lama aku tidak melihatnya. Terakhir aku lihat waktu aku menembaknya 3 tahun lalu, setelah itu biasa aja.

Suara penyanyi itu terdengar merdu di telingaku, walaupun tidak terlalu keras sampai kursi yang aku dudukin. Penonton sangat menikmati dengan beberapa lagu yang di nyanyikannya. Hingga ada yang menangis karena terharu.

Yana menghampiriku yang sedang bermain game sendirian. Tiba-tiba muka Yana berubah tidak sebahagia tadi.

” Kamu kenapa” ucapku menatap Yana

” Setiap sama aku kamu selalu sibuk dengan game, padahal aku nggak pernah larang kamu. Aku cuma butuh perhatian kamu aja, dulu awal pacaran kamu selalu perhatian. Tapi sekarang mana? Setiap aku aja bicara selalu di cuekin” ucap Yana dengan nada kecewa

” Maaf” ucapku singkat

” Sudah berapa kali kamu minta maaf, aku selalu maafkan. Terus kamu ulangi lagi. Sekarang aku tanya apa kamu…” sebelum Yana panjang lebar aku memotong obrolannya

” Aku sayang sama kamu, jangan berpikir yang nggak-nggak” ucapku sambil menatapnya

” Bisa nggak sih, kalau sama aku kamu jangan main hp melulu, aku ngerasa kamu lebih sibuk sama hp daripada ngobrol sama aku” ucapnya lagi

” Iya” ucapku singkat langsung menyakukan hpku

” Aku cuma butuh perhatianmu doang kok”

* * *

Setelah mengantar Yana pulang, aku langsung mengambil minum di dalam kulkasku. Sedangkan, ibu sedang membuatkan kopi buat ayah. Hari ini badan terasa capek, mungkin terlalu lama bermain game.

” Kamu dari mana Bagas? ” tanya ayah

” Dari taman kota, di ajak sama Yana. Terus aku antar pulang” ucapku

” Harusnya yang sering ajak keluar kamu bukan Yana” ucap ibu

” Benar tuh kata ibumu” saud ayah

” Yana itu anak yang baik jaga dia bahagiain, jangan bikin sakit hati nanti kalo pergi gimana” ucap ayah lagi

” Nyeselll” ucap ibu tertawa di ikuti ayah

” Doa ayah sama ibu sama aja” aku manyun

” Kamu itu selalu cuek sama Yana, lebih milih main game daripada bicara” ucap ibu

” Ibu kok tau” aku bingung

” Setiap mau pulang kan pamit, terus ibu tanya kenapa cuma sebentar jawabannya selalu sama” ucap ibu

” Sama apa bu” tanyaku

” Selalu main game” saud ayah

” Kan lagi seru bu” ucapku

* * *

Aku meninggalkan ibu dan ayah yang sedang berbicara. Lebih baik aku melanjutkan game di kamar aja biar seru, lagian besokkan hari minggu jadi libur deh. Hingga larut malam aku bermain game.

Suara ayam berkokok

Aku langsung terbangun, mataku masih mengantuk. Jadi aku semalam tertidur, suara panggilan ibu terdengar dari balik pintu kamarku.

” Masih belum bangun juga” menarik selimutku

” Ayam siapa sih bu rame banget” tanyaku dengan mata yang masih terpejam

” Ayam tetangga sebelah, kemarin baru beli” ucap ibu

” Pak.rt itu bandel juga, ayamnya aja udah aku buat sate sekarang beli lagi. Enaknya dimasak apa ya?” Ucapku

” Eh kamu nih ya, cepat bangun, makanan udah ibu siapin”

Ibu meninggalkan kamarku

Aku langsung beranjak menuju kamar mandi, setelah itu makan bersama orang tuaku.

Seperti biasanya aku selalu bermain game setiap saat di mana pun berada, agar tidak bosan. Lebih tepatnya memanfaatkan waktu luang.

Selama di dalam rumah, aku tidak menyangka bahwa jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku segera mandi dan menjemput ibu, di tempat arisannya. Ibu sangat senang dengan arisan, katanya bisa bikin badan rileks dan menghilangkan stres. Itu arisan apa olahraga sih, aku pun tidak mengerti soal itu.

Suara panggilan dari hpku berbunyi berkali-kali. Aku tidak mengangkat panggilan itu, apalagi sekarang mengendarai kendaraan.

” Kamu angkat dulu, mungkin itu penting” ucap ibu

” Biarinlah bu, mungkin dari Yana” ucap ibu

Di perjalanan pulang aku melihat Yana yang sedang mendorong sepeda meticnya, saat aku mau turun ternyata ada seorang cowok yang menggantikannya mendorong. Aku mulai ingat kalau cowok itu, penyanyi jalanan di taman kota.

Setauku Yana tidak mengenalinya, namun dugaanku salah. Yana begitu bahagia bercanda sambil mendorong motornya. Begitu juga dengan cowok itu, yang melontarkan beberapa kalimat dari mulutnya. Tapi Yana begitu bahagia, aku tidak rela melihat Yana bersama cowok itu.

” Sekarang kamu sudah sadarkan, sekarang Yana sudah bahagia sama yang lain” ucap ibu

” Ibu benar, aku menyesal telah menyiakan Yana” aku kecewa

” Harusnya kamu sayangin dia, sekarang kalau sudah pergi kamu nggak bisa apa-apa lagi. Pesen ibu cintai orang yang mau menerima kamu, menemani kamu, selalu ada buat kamu” pesan ibu

Aku sangat menyesal, dulu Yana selalu aku sia-siakan. Sekarang telah pergi meninggalkanku. Aku sangat terluka, harusnya aku pertahankan bukan aku lepaskan. Tapi itu sudah terlambat, kisah cintaku dan Yana telah berakhir.