“Saya, hamil ….”

Lumirin memilin perlahan ujung daster katun berwarna krem yang dikenakan. Betis terasa kaku dan telapak kakinya semakin kesemutan. Berulang kali dia menggerakkan jemari kaki diam-diam agar darah bisa sedikit mengalir. Namun, apa mau dikata. Sudah setengah jam lebih dia bersimpuh di depan para majikan. Tak pantas baginya jika bergerak, karena mereka tak ada satu pun yang bergeming.

Nyonya Hana terus mendesah sembari mengeratkan kedua tangan. Tuan Satriyo duduk dengan membusungkan dada dan sesekali menyesap pipa hitam besar kesukaannya.

Sedangkan Raden Mas Manggala, hanya bersandar ke badan sofa sambil menengadah ke arah angit-langit di ruang keluarga ini. Menatap lampu kristal dengan cahaya temaram. Sedangkan Lumirin terus menunduk ke arah lantai marmer dingin, tempat dia bersimpuh seperti orang pesakitan.

“Sejak kapan?” Hana tercenung melihat Lumirin.

Cantik,’ pikir Hana dalam hati. Sungguh berbeda dengan Lumirin saat pertama kali menginjak rumah ini. Dulu, Lumirin hanyalah anak ingusan berumur enam tahun dengan rambut kemerahan seperti jagung. Kulit mukanya pun hitam dihiasi bercak putih di kedua pipi, juga badan yang kecil dan kurus.

Baru kali ini Hana memperhatikan Lumirin. Walaupun pakaian yang dikenakan cukup longgar, tapi tak menutup kemolekan seorang gadis belia. Pinggang dan pinggulnya sempurna, mampu membuat sebuah liukan bak biola seorang maestro. Apalagi jika Lumirin dilihat secara keseluruhan, dengan buah dadanya yang padat berisi. Kulit sawo khas gadis jawa tampak begitu kencang dan halus. Belum lagi semerbak aroma bunga Peony menguar dari rambut hitam panjang.

“Aku nggak tahu harus ngomong apa, Lumi.” Akhirnya gemuruh dalam dada Hana terlampiaskan. Pipinya dibanjiri air mata. Hana merasa gagal sebagai seorang ibu.

Lumirin semakin menunduk. Hatinya sakit bagai tersayat sembilu. Selama 12 tahun Lumirin tinggal di rumah ini, dia telah menganggap Nyonya Hana sebagai sosok yang begitu dihormati dan dihargai. Seseorang yang patut dijaga perasaan dan martabatnya. Walaupun Nyonya Hana seorang pengusaha tangguh, Lumirin tahu jika hatinya selembut gula kapas.

“Sudah, Mom. Semua sudah terjadi.” Suara Satriyo berat dan tegas, menggema di ruangan keluarga dengan dominan kayu Jepara.

Lumirin kembali memilin ujung daster. Jantungnya berdetak tak karuan. Suara Tuan Satriyo berhasil membuat dia benar-benar tak dapat mengangkat kepala.

“Ini buat kamu, Lumirin. Cukup untuk biaya kamu selama hamil dan melahirkan.” Satriyo melemparkan satu amplop cokelat tebal.

Lumirin mengangkat kepala sambil menahan napas. Matanya tak berkedip, tertuju pada amplop padat di hadapannya.

“Lima belas juta. Aku rasa itu lebih dari cukup. Bisa untuk modal usaha.” Satriyo tersenyum kecut.

“Pa!” Manggala yang sedari tadi terdiam, tiba-tiba berdiri dan berteriak. Rahangnya mengeras, menahan cecaran kalimat tak sopan yang bisa menimbulkan keributam saat selesai diucapkan.

“Apa, Manggala? Apa!” Satriyo menunjukkan kuasanya sebagai seorang ayah dengan suara bergetar tapi menggelegar. Hatinya berkecamuk hebat. Antara martabat yang tercoreng dengan rasa kemanusiaan.

Seharusnya memang bukan ini keputusannya. Satriyo pun tahu, jika ini menyalahi norma agama, sosial atau apa pun yang berlaku di negara ini. Namun baginya, harga diri nomor satu. Bagaimana pendapat orang jika mereka tahu anaknya menghamili pembantu sendiri? Bagaimana penilaian para kolega jika melihat pewaris tunggalnya memiliki istri seorang pembantu. Bisa hancur dalam sekejap kerajaan bisnis perhotelan yang dia rintis dari nol. Satriyo tidak siap.

“Usiamu hampir seperempat abad, Manggala. Tapi kamu masih saja berulah. Bahkan, di dalam rumahmu sendiri!” Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, sebuah tatapan sudah mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan Manggala adalah kesalahan fatal.

Manggala terduduk, tidak mampu membela diri. Dengan kasar Manggala mengacak rambut cepak kecokelatannya, kemudian mengusap wajah yang sedikit berjambang itu. Satriyo tiba-tiba berdiri. Menatap perlahan sang istri, anak, dan … Lumirin. Tak lama, Satriyo pun berlalu menuju ruang kerja. Desahan berat dan panjang Satriyo didengar oleh Lumirin. Sukses membuatnya menjadi wanita tak tahu diri. Hanya karena cinta.

‘Bodoh,’ rutuk Lumirin dalam hati, untuk dirinya sendiri.

“Mom, please … apa salahnya jika aku dan Lumirin ….” Manggala berharap sang Ibu mampu memberikan keputusan berbeda.

Hana seperti terbangun dari meditasi. Matanya terbuka dengan tatapan lembut seorang ibu, kemudian mengalihkan pandangan dari Manggala ke Lumirin. Tiba-tiba Hana bersimpuh di hadapan
Lumirin. Tanpa berpikir panjang, Hana menggenggam erat tangan Lumirin yang tak berhenti bermain dengan ujung dasternya.

“Lumi, ibumu sudah lama bekerja di sini, bahkan sebelum kaulahir ke dunia ini. Aku … sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Apalagi sejak kamu tinggal di sini dan kemudian ibumu pergi selamanya … aku, menganggapmu seperti anakku sendiri.” Mata Hana tergenang, tapi hanya satu bulir yang terjatuh hingga menimpa punggung tangan Lumirin.

“Aku sangat suka dengan caramu bekerja, Lumi. Pernahkah aku mengeluh padamu?” Sambil terisak Hana meminta sebuah jawaban. Hanya gelengan Lumirin yang didapatkan.

“Pernahkah aku memarahimu karena sebuah kesalahan, Lumi?” Hana kembali mengajukan pertanyaan. Lumirin pun kembali menggeleng, tapi kali ini diiringi isak tangis.

“Aku rasa, kamu pun tahu jika aku dan ibumu adalah teman sepermainan waktu kecil. Karena itulah, aku merasa harus menjagamu setelah dia meninggal dua tahun lalu. Dan … Lumi … aku gagal. Aku gagal. Maaf, Lumirin.” Hana menghaburkan pelukan pada Lumirin. Tangisnya pun tertumpah hingga bahu Lumirin terasa basah.

“Mom ….” Manggala hendak mendekati ibunya, tapi urung.

Hana mengusap air matanya, kemudian memegang lembut lengan Lumirin sambil menatap kembali bola mata hitam yang sedikit tergenang. “Pergilah. Gunakan uang yang diberikan tuanmu sebaik mungkin. Kamu anak pandai, Lumi,” bisik Hana.

Lumirin mengangguk. Mungkin memang ini yang terbaik. Mungkin memang ini yang sudah Tuhan gariskan untuk hidupnya. Mungkin, dengan ini dia bisa membalas semua kebaikan Tuan dan Nyonya. Mungkin, dengan ini semua kesalahan bisa dimaafkan.

“Kamu tahu sendiri, kan? Bagaimana tuanmu jika sudah bertitah. Nanti, jika semua sudah terlewati dan kamu mau kembali ke sini. Dengan senang hati aku menerimamu, Lumi. Demi janjiku kepada ibumu.”

Hana merasa ada secuil duri dalam tenggorokan karena kalimat terakhir yang dikatakan barusan. Seharusnya itu hanyalah kalimat tersembunyi yang dipendam dalam hati, agar tak terkesan memberi harapan palsu. Namun, batinnya bergejolak, dadanya sesak jika tak dikatakan.

“Manggala. Bereskan pakaianmu. Sudah saatnya kamu mengurus hotel di Bali. Besok kamu berangkat.”

“Mom, please. Kenapa nggak ada yang memberikan kesempatan Manggala bicara?”

“Dewasalah, Manggala.” Hana melenggang pergi meninggalkan Lumirin dan Manggala.

Manggala memalingkan wajah, fokus kepada Lumirin yang menatapnya setengah terkejut. Lumirin merasa jantungnya hendak lepas ketika Manggala mendekati dan memegang tangan agar mereka berdiri sejajar. Manggala menyelipkan sehelai rambut hitam Lumirin ke belakang telinga. Seketika senyumnya merekah, mencoba menenangkan Lumirin yang tak henti sesenggukan. “Sst … jangan menangis lagi. Besok kita pergi ke kampungmu dan kita menikah,” ucapnya lirih.

Rasanya Lumirin ingin berteriak. Namun, Manggala langsung menutup mulut Lumirin dengan telapak tangan. Menikah? Ya, mereka harus menikah. Tak salah bukan? Derajat, strata, tingkatan, atau apa pun istilahnya, semua sama di mata Tuhan. Semua … berhak saling mencintai.

“Besok pagi kita berangkat,” bisik Manggala di telinga Lumirin. Memberi secercah ketenangan dalam batin. Janin berusia satu bulan ini akan memiliki seorang ayah.

***

“Sah!”

Di tengah remang rembulan berselimutkan kabut tebal, Manggala mempersunting Lumirin. Tak ada pesta dan makan besar. Hanya beberapa gelas teh hangat dan ketela goreng buatan nenek Lumirin. Tak ada kolega ataupun tamu penting. Hanya seorang penghulu, paman Lumirin selaku wali, dan keluarga Lumirin yang berkenan hadir. Tak masalah, yang penting mereka sekarang sah. Walaupun sebatas penilaian di mata manusia.

“Terima kasih kamu mau bertanggung jawab, Den.” Paman Lumirin menepuk bahu Manggala pelan. Perasaan bangga sedikit menyeruak, walaupun sebetulnya bukanlah sebuah kebanggaan yang patut dicontoh. Paling tidak, di sini Manggala merasa dihargai ketimbang di rumahnya yang selalu dianggap sebagai biang kerok.

Tampak nenek Lumirin tersenyum bahagia mendekati Manggala. “Lumirin cucuku yang yatim piatu, kini sudah bersuami. Terima kasih, Den Bagus.” Begitu hangat hati Manggala, tetapi ada rasa sesal di hati. Terpikir olehnya keluarga di kota.

“Den, mau minum?” Lumirin membawakan secangkir teh hangat.

“Kita ini sudah menjadi suami dan istri. Panggil saja nama atau … hmm … ‘Suamiku’ atau ‘Sayang’.” Manggala menggoda Lumirin.

Tak lama Manggala tertawa melihat pipi Lumirin yang kian memerah. Manggala menatap Lumirin lekat. Tampak di hadapannya seorang gadis ayu sederhana yang selalu menghiasi mimpinya.

Dalam hidup Manggala, sudah berpuluh wanita berada di sampingnya. Namun, tak ada satu pun yang memberikan rasa sejuk dan damai seperti Lumirin. Kebanyakan dari mereka hanya memamerkan topeng dengan seribu sandiwara. Demi apa jika bukan harta. Kebahagiaan akan tampak sempurna jika bisa berada di dekat seseorang yang kita cintai. Kebahagiaan pun akan didapatkan jika mereka yang kita sayangi bisa tersenyum. Bahagia adalah sesuatu yang dapat kita ciptakan. Walaupun, harus terhalang pada sebuah pilihan.

[Kamu di mana? Papa bisa melakukan hal nekat kalau kamu tak segera ke Bali. Mama tunggu kamu di bandara besok pagi, Manggala]

Sebuah pesan Whatsapp masuk ke gawai Manggala. Tiba-tiba dahinya terasa berkedut dan berat. Pilihan memang bukan untuknya.

***

Kaki Lumirin terasa dingin, perut semakin melilit, keringat tak henti menetes, dan jantung berdetak tak karuan. Rasanya seperti akan bertemu Dewa Kematian, tapi Lumirin harus mendatangi. Harus menghadapi semua. Sebab Lumirin memiliki hak untuk mengetahui kemana suaminya.

Lima purnama sudah, Manggala tak memberi kabar. Pernikahan hanya sekelebat seperti kabut yang menghilang tersapu oleh angin dan mentari. Tanpa kata, tanpa senyuman, semua menghilang saat pagi menjelang. Membuat pertahanan Lumirin hancur, harapan pupus, dan buah cinta luruh oleh takdir.

Sayup terdengar ketukan higheels beradu dengan lantai marmer. Sosok yang selama ini dia hirmati sekarang tepat berada di hadapan. Senyumnya masih sama, sorot mata pun tak berubah, hanya saja dandanan lebih natural sesuai masa kini.

“Lumirin.” Pelukan hangat beradu dalam dekapan erat. Degup jantung Lumirin sedikit mereda. Tenang.

“Nyonya.”

Lumirin menyambar tangan Hana dan langsung memberi ciuman panjang pada punggung tangan lembut itu. Tangan seorang nyknya dalam kedudukan, tapi seorang mertua dalam batin.

“Bagaimana kabarmu, Lumi? Kenapa pucat sekali wajahmu? Masuklah. Angin memang sangat kencang hari ini.”

Lumirin melepas sandal lusuh yang dikenakan sembarangan sejak semalam, kemudian mengikuti Hana memasuki rumah besar berwarna mustard ini. Tak ada yang berubah selain pajangan foto di dinding ruang tamu. Badan Lumirin menggigil, rasa dingin menyeruak dari ubun hingga ujung kaki. Kepalanya bagai terlempar sebongkah batu es besar dari langit. Kerongkongannya kering, ingin bicara tapi tak ada suara yang terdengar. Ingin menangis, tapi seluruh air mata telah habis.

“Bukankah mereka serasi? Kamu ingat Raisa, kan? Akhirnya, Manggala mau menikahinya. Akhirnya, Manggala bisa membanggakan kami. Oya, janin cucuku sudah berusia 15 minggu, Lumi. Sebentar lagi aku jadi nenek. Sayangnya mereka ada di Bali. Kamu tahu? Hotel kami di Bali maju sangat pesat berkat Manggala. Mungkin ini yang dibilang rejeki bayi,” cerocos Hana tanpa beban. Tampak begitu gembira dan bersyukur.

Raisa. Tak mungkin dia lupa, sebab hampir setiap malam Manggala selalu bercerita betapa benci pada wanita penuh topeng kepalsuan. Tak mungkin dia lupa, sebab setiap malam Manggala selalu meyakinkan dirinya jika dia wanita cantik sesungguhnya. Namun, Lumirin pun tak pernah lupa jika Raisa adalah perempuan cantik yang selalu digadang menjadi menantu di rumah ini. Anak seorang mitra dari Ayah Manggala. Ya, mereka tampak serasi di foto itu. Pasangan idaman.

“Lumi, perutmu? Apakah sudah waktunya?” Hana menyadari sesuatu.

Lumirin membuka mulut. Bersiap mengatakan apa yang harus dikatakan, “Saya keguguran, Nyonya.” Bulir bening semakin menggenang di pelupuk mata Lumirin.

“Lumi … mungkin ini yang terbaik.” Hana menggenggam tangan Lumirin.

Ya, ini yang terbaik. Bagi mereka. Bagi Lumirin?

Bibir mungil Lumirin gemetar, hendak mengeluarkan suara tapi tercekat hinggap di tenggorokkan. Dadanya sesak. Salahkah jika dia melihat orang yang begitu dihormati menjadi terluka? Salahkah jika dia mengatakan yang sebenarnya? Salahkah jika dia membuat sebuah pengakuan lagi? Bahwa dia dan Manggala telah menikah.

“Nyonya ….” Lumirin menelan ludahnya sendiri, “aku ingin kembali bekerja di sini.”

—-
Tamat

Credit : Rieka Kartieka