“hei hei, kalian sudah dengar? Katanya kalau kita menghubungi nomor ini dan dijawab maka permintaan kita akan terkabul”

“ah masa?”

“paling cuma hoax”

“serius. buktinya Sin menang tiket undian ke Bali kemarin”

“serius? karna itu dia nggak masuk?”

“iya, tapi katanya sih barangnya harus dikembalikan setelah seminggu”

Di suatu siang yang tenang rumor itu merebak dengan cepat dari mulut ke mulut. Rumor mengenai nomor hantu yang dapat mengabulkan permintaan orang yang menelponnya.

“halah, rumor begituan kok dipercaya”

Rangga melangkah memecah kerumunan anak anak yang sedang sibuk membicarakan rumor tersebut di kelas. Dia dengan berani mengambil ponsel salah satu dari mereka dan menelpon nomor tersebut.

“nih, kutunjukin kalau yang namanya hantu itu nggak ada”

Dering pertama, dering kedua… semuanya menunggu sambil menahan nafas. Penasaran apakah hantu yang menjawab panggilan tersebut akan menjawab atau tidak namun ditunggu berapa lama pun panggilan itu tetap tak diangkat.

“tuh, hoax kok dipercaya”

Rangga kemudian melempar ponsel itu ke pemiliknya sambil memasang wajah bangga seolah olah dia berhasil mengusir hantu tersebut.

“tapi kok Sin nggak datang ya? Padahal aku mau latihan jurus baru” ucapnya sambil memandang berkelling kelas. Pandangannya kemudian terhenti pada seorang anak yang sedang menyendiri di meja di sudut kelas.

“ah kau Firmi. Kau gantikan temanmu ya”

Dan yang terjadi kemudian adalah Reno memukuli Firmi dengan berbagai gerakan bela diri atau singkatnya pembullyan. Hal ini merupakan hal yang wajar di kelas dimana Rangga adalah penguasa berbadan besar dan kekar dan anak anak yang lemah seperti Sin atau Firmi adalah samsak tinjunya.

Tak terlihat ada yang peduli pada hal ini. Bagi mereka selama bukan mereka yang dipukuli maka semua akan baik baik saja.

Ya, baik baik saja.

***

“Whoa Firmi, darimana kau dapat iphone 12?”

“hehe, rahasia”

Keesokan harinya Firmi sedang dikerumuni oleh segerombolan siswa yang terkagum kagum dengan barang bawaannya hari ini. Iphone 12 yang katanya mahal sampai tak mungkin dimiliki oleh murid biasa.

“hoi, darimana orang miskin sepertimu bisa beli itu?”

Namun semua berubah sejak Rangga menyerang. Dengan cepat dia merampas iphone tersebut dari tangan Firmi dan memeriksanya dibawah sinar matahari seolah olah memeriksa apakah itu asli atau tidak namun ternyata iphone tersebut lulus tes.

“kau mencuri ya?” tuduhnya

“ti-tidak kok”

Firmi memasang raut ketakutan karna diintimidasi Rangga sementara orang orang yang tadi mengerumuninya sudah bubar karna tak ingin berurusan dengan Rangga.

“jadi darimana? Nggak mungkin kau nemu di jalan kan?”

“se-sebenarnya aku pakai itu…”

“pakai apa?”

“itu…”

“JAWAB”

“no-nomor hantu”

Alis Rangga terangkat saking herannya dan Firmi bisa melihat tahi lalatnya yang tidak beraturan di sekujur wajahnya.

“kau mau menipuku ya?” bentaknya

“t-tidak. Sungguh” jawab Firmi cepat sambil menyilangkan tangannya di depan wajahnya untuk menahan tinju Rangga yang sudah terangkat.

“kalau begitu beritahu aku caranya” ucap Reno dengan berbisik.

“be- begini…”

***

Tengah malam, di rumah Rangga…

“dia bilang saat tepat tengah malam telepon nomor tersebut, setelah diangkat ucapkan permintaanmu lalu tidurlah. Saat kau bangun barangnya sudah akan ada di depan pintu”

Rangga mengulang kembali perkataan Firmi padanya. Dia merasa konyol sekali bila mempercayai hal seperti itu namun di dalam hatinya dia menginginkan sesuatu. Laptop ROG keluaran terbaru yang harganya sama dengan uang jajannya satu tahun.

Jika, dan hanya jika, nomor hantu ini benar benar bisa mengabulkan permintaannya maka dia tak perlu memecahkan celengannya untuk membeli laptop tersebut.

Dan kemudian jam berdetak tanda pergantian hari. Dengan cepat dan penuh harap Rangga mengetikkan nomor hantu yang dimaksud dan langsung memanggilnya.

Dering pertama… dering kedua… saat dering ketiga, telepon itu diangkat.

“ha-halo?”

Rangga mengeluarkan suara tersekat karna tak percaya bahwa panggilan tersebut tersambung namun yang dia dengar dari ujung sana hanya suara suara tak jelas yang terdengar seperti seribu perkakas besi yang beradu.

“anu…”

Suara berisik itu tetap tidak berhenti dan tak menunjukkan tanda akan berhenti jadi Rangga mengumpulkan keberaniannya dan berkata. “beri aku laptop ROG versi terbaru”

Dan ajaib, suara berisik itu tiba tiba berhenti. Yang terdengar kemudian adalah suara nafas berat yang terdengar beberapa kali dan sambungan pun terputus.

Rangga memandangi ponselnya dengan keragu raguan namun setelah teringat kata kata Firmi dia memutuskan mematikan ponselnya dan pergi tidur.

Tidurnya tidak nyenyak. Dalam mimpinya suara tersebut berkali kali mengganggunya dan tanpa sadar matahari sudah terbit dan diapun terbangun. Dengan tidak sabar dia langsung lari menuju pintu rumah dan mendapati sebuah kotak di sana. Lekas dia membuka kotak tersebut dan matanya berbinar melihat kilau warna hitam dari laptop yang di inginkannya.

Senyum penuh keserakahan pun merekah di wajahnya.

***

“apa kau lihat Rangga? Barusan dia datang ke sekolah pake ninja lo”

“lihat jam nya, Rolex”

“darimana dia dapat uang buat beli? Cuma pinjaman kali ya?”

Sudah 6 hari sejak Rangga mendapat laptop ROG terbaru dan setiap hari dia melakukan hal yang sama untuk mendapat barang barang mahal yang dia inginkan. Dia tak peduli pada kebenaran dibalik fenomena supranatural tersebut selama dia mendapat yang dia inginkan.

Namun hari ini dia cemas. Menurut rumor yang beredar dia harus mengembalikan barang yang dia minta dalam satu minggu. Dia tak ingin mengembalikan barang barang tersebut namun dia tak tau apa yang akan terjadi bila dia tak mengembalikannya.

“hoi, bagaimana cara mengembalikan barang barang itu?”

Sekali lagi Rangga mendesak Firmi.

“k-katanya cukup taruh di depan pintu saat tengah malam”

“dan kalau tidak dikembalikan?”

“aku tidak tau”

Rangga mendecih kesal dan sesaat kemudian pandangannya jatuh pada iphone 12 di tangan Firmi.

“hei, malam ini harusnya kau mengembalikan barang itu kan?”

“i-iya?”

“kalau begitu jangan kembalikan. Ayo kita lihat apa yang terjadi kalau barangnya tidak dikembalikan”

“eh, tapi—”

“ha? Kau berani padaku?”

Rangga kemudian memukul Firmi dengan keras hingga terjatuh. Firmi merintih menahan sakit di pipinya.

“ingat, jangan kembalikan barangnya atau kuhajar kau besok”

Singkatnya Rangga menjadikan Firmi sebagai tumbal. Bila terjadi sesuatu pada Firmi besok maka Rangga akan mengembalikan barang yang sudah dia peroleh. Dia tak peduli pada nasib Firmi meski dia mati besok.

Namun keesokannya dia murka. Firmi, yang bersiap untuk lari kapan saja, memberitahunya bahwa dia mengembalikan iphone nya. Rangga pun menghajar Firmi habis habisan karnanya.

Malamnya Rangga tidak tenang. Pikirannya beradu antara mengembalikan atau tidak. Di tangannya adalah laptop ROG yang pertama dia dapatkan dari nomor hantu tersebut.

Waktu terus berjalan dan tengah malam semakin dekat. Akhirnya, dengan amat tak rela, Reno memutuskan untuk mengembalikan laptop tersebut. Toh masih bisa diminta lagi, pikirnya.

Hanya tinggal semenit lagi sebelum tengah malam jadi Rangga buru buru membawa laptopnya ke depan pintu. Orang tuanya sedang dinas keluar kota jadi tak ada orang yang terganggu akan suara gladak gluduk nya menuruni tangga.

Rangga pun membuka pintu dan bersiap meletakkan laptop tersebut disana namun kemudian sebuah kibasan pemukul kasti melesat dan langsung menghancurkan laptop tersebut.

Rangga terjatuh mundur karna terkejut. Yang menunggu di depan rumahnya sambil membawa pamukul kasti adalah Firmi yang membelalakkan matanya seperti orang gila.

“k-kau brengsek, mau apa kau?”

Namun kemudian lonceng pergantian hari pun berbunyi. Rangga tersentak karna barang yang harusnya dia kembalikan sudah hancur terbelah dua dan dia mendadak ketakutan. Ponselnya yang terlempar karna dia terjatuh tadi mendadak berbunyi tanda panggilan masuk. Si hantu datang untuk mengambil barangnya kembali.

“ti-tidak”

Rangga mundur ketakutan saat tangan tangan hitam muncul keluar dari ponselnya. Dia memandang kearah Firmi yang berdiri disana sambil tersenyum lebar seperti orang gila.

“BRENGSEK, LEPASKAN AKU. TOLO—”

Rangga mulai berteriak saat tangan tangan hitam panjang itu mulai membelitnya dan menutup mulutnya. Perlahan tapi pasti tangan itu menariknya ke dapam ponsel. Rangga meronta ronta sambil menangis memohon pertolongan pada Firmi namun Firmi hanya tertawa melihatnya.

“mampus kau”

Itulah yang dikatakan Firmi saat tubuh Rangga mulai menyusut dan masuk ke dalam ponsel tersebut dan akhirnya menghilang tanpa jejak. Tangan tangan itu menghilang namun panggilan masih berlangsung. Firmi mengambil ponsel tersebut dan meletakkannya di telinganya.

“bagaimana Sin? Dengan begini dendammu sudah tuntas kan?”

‘terima kasih’

Dan kemudian panggilan itu pun berakhir.

***

Sin adalah seorang anak yang teraniaya di sekolah. Dia sering sekali menjadi samsak daging bagi Rangga yang berlaku semena mena. Hanya Firmi temannya di sekolah namun dia tak lagi tahan akan siksaan dan memutuskan untuk bunuh diri.

Sin tidak punya keluarga dan kematiannya tak disadari oleh siapapun selain Firmi. Melihat temannya tergantung seperti itu membuat Firmi tidak terima. Sin kemudian menjelma menjadi hantu penasaran yang menuntut pembalasan dendam melalui nomor hantu.

Dan dengan demikian dendam terselesaikan namun Rangga bukan satu satunya target mereka. Semua, semua yang menertawakan mereka dan tak peduli pada mereka harus mati.

“hei Firmi, darimana kau dapat barang bagus ini?”

“hehe, begini caranya…”

Ada sebuah rumor yang beredar di kalangan murid. Saat tengah malam cobalah untuk menelpon nomor hantu tersebut, ucapkan permintaanmu dan apa yang kau inginkan akan kau dapatkan.

Namun ingatlah untuk mengembalikan barang tersebut seminggu kemudian.

Ingatlah, apapun yang sejak awal bukan milikmu tidak akan pernah menjadi milikmu.

END