Cerpen

My Best Friend

May 13, 2020
cerita nunung
cerita nunung

💢💢


“Eh Nur gua punya pacar baru!” pekik gadis yang memakai kerudung pashmina warna abu-abu, sedangkan gadis berkerudung warna peach sudah jengah, dia sudah beribu-ribu kali memberi pencerahan kepada sahabatnya itu namun tak ada perubahan.

“Lu tobat napa Din! Lu tau kan itu dosa!” peringat Nur dengan nada menahan amarah, bukan karena dia iri karena tidak punya pasangan tapi yang dilakukan sahabatnya ini salah, tidak seharusnya Dinda melakukan itu.

“Dih! Lu ngomong aja kalo iri,” ejek Dinda sambil melirik ke arah Nur yang ada di sebelahnya yang tengah menatapnya dengan tatapan jengah.

“Hadeh, gua udah punya jodoh! Tapi masih rahasia! Dan gua kaga mau spoiler tentang jodoh gua!” balas Nur membuat Dinda terdiam membisu, skakmat! Hahaha.

Lama mereka terdiam, karena keduanya sibuk dengan gadget masing-masing.

Bedanya, Nur sedang membaca postingan di grup kajian Islam, sedangkan Dinda sedang dirayu oleh gombalan gebetan barunya.

Nur, tipe cewek yang tidak pernah putus asa sebelum mencapai puncak tujuannya. Misal, dia sangat ingin mengubah kebiasaan sahabatnya yang sering gonta-ganti pacar tiap minggunya, dan yang jadi tempat curhatannya Dinda adalah Nur.

Setiap minggu pasti mendengarkan nama cowok yang berbeda. Jujur dalam hati Nur ingin sekali menghajar semua laki-laki yang mendekati dan merayu sahabatnya bukan karena dia suka sahabatnya, tapi karena dia sangat ingin bertemu sahabatnya di surga kelak.

Dia tidak tega jika kelak di surga ada seseorang yang memanggil namanya yaitu sahabatnya sendiri, karena harus mempertanggung jawabkan kelakuannya ketika di dunia. Dia sungguh tidak tega membayangkan hal itu terjadi.

“Eh Nur gua pulang dulu ya, mau ngedate, assalamualaikum,” pamit Dinda kemudian dia berlari ke arah lobi kampus di sana ada seorang lelaki memakai baju hitam, celana jeans hitam dan sepatu sneaker warna senada dengan baju.

Mereka kemudian berjalan sambil bergandengan tangan. Banyak pasang mata yang melihat mereka, ada yang menganggap mereka itu romantis dan ada yang menganggap perbuatan mereka mendekati zina, melakukan zina aja dosa apalagi mendekati zina? Dosanya numpuk dong, eh.

Nur sedang duduk di depan perpustakaan kampus, dia sedang mencari buku yang selama ini dia incar yaitu buku karya Tere Liye judulnya Sunset bersama Rosie.

Buku itu tak mudah didapatkan karena cetakan kelimanya terbit tahun 2013 dan Nur mencari di tahun 2018. Novelnya sudah tenggelam dengan novel-novel terbaru dari Bang Tere.

Nur sangat ingin sekali membeli buku itu, karena buku itulah yang selalu membuatnya ingin pergi jalan-jalan ke Pulau Bali.

Tak lama kemudian datanglah seorang lelaki berparas rupawan, alis tebal, warna kulit yang cerah dan berkumis tipis mendekati Nur yang sedang serius membaca. “Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumussalam, ya dengan siapa di mana?” balas Nur ngelantur karena dia sedang serius membaca buku sehingga tidak sadar jika mulutnya berbicara tak tentu arah, layaknya kereta api tanpa masinis.

“Maaf mengganggu, saya mau berbicara,” sontak Nur menghentikan kegiatan membacanya dan meletakkan novel itu di atas meja yang terletak di sebelahnya.

“Maaf ada keperluan apa?” tanya Nur tanpa melihat siapa lelaki yang sedang diajak bicara, karena Nur selalu mencoba untuk tidak bertatapan dengan seorang lelaki karena itu merupakan zina mata.

“Aku ingin melamarmu.”

DEG!

“Maaf bisa diulangi?” pinta Nur sambil mencoba mendengarkan baik-baik ucapan lelaki itu.

“Aku ingin melamarmu,” ulangnya sambil meremas remas tangannya karena gugup.

“Jika kamu memang ingin melamarku jangan datang kepadaku, datangi kedua orang tuaku. Assalamualaikum.”

Kemudian Nur pergi meninggalkan lelaki itu, yang sedang menghilangkan rasa gugupnya ketika duduk berdua dengan seorang wanita, karena lelaki itu tidak pernah duduk berdua dengan seorang wanita kecuali keluarganya.

“Ya Allah permudahkanlah kita untuk bersatu dalam hubungan yang SAH.”

Di sebuah kafe yang jauh dari hingar bingar kota yang padat, ada dua sejoli sedang duduk berdua sambil bercengkrama melontarkan kata-kata romantis atau sekedar gombalan receh. Dua cangkir minuman memaniskan suasana yang ada.

Suasana berubah menjadi tegang ketika sang kekasih sibuk dengan ponselnya, dan sesekali mengulum senyum ketika ada sebuah notifikasi. Dinda curiga dengan kekasih barunya karena lebih memprioritaskan ponsel daripada dirinya.

Dengan perasaan curiga yang sudah diubun-ubun Dinda dengan lancang merampas ponsel gebetannya dengan kasar, itu membuat emosi gebetannya terpancing.

“Apa-apaan sih kamu!” bentak kekasihnya kepada Dinda yang melihat notifikasi chat diponsel kekasihnya yang berisi.

💕: Sayang kalo udah pulang beliin makanan kesukaan aku ya.

Dinda membaca chat itu membuat emosinya memuncak.

“Ini siapa?!!!” teriak Dinda sambil mengacungkan ponsel gebetannya tepat di depan matanya, semua pengunjung kafe hanya diam melihat pertengkaran antara Dinda dan kekasihnya.

“Itu calon gua kenapa? Cemburu? Lu siapa gua? Pacar aja bukan! Lu-nya aja yang baper! Dasar cewek baperan! Gak malu apa sama tuh kerudung?!!” sindir gebetannya Dinda, kemudian dia mengambil ponselnya dari tangan Dinda dengan kasar dan pergi meninggalkan Dinda yang sudah menitikkan air mata dengan deru napas yang memburu.

Di lain tempat ada yang sedang berbahagia karena ada seorang pria tampan yang membawa keluarganya ke rumah Nur untuk melamar Nur.

Sungguh ini merupakan keputusan yang sangat berat untuk Nur, dan kedua orang tua Nur menyerahkan semua keputusan di tangan Nur karena yang akan menjalani itu Nur dan calonnya, bukan kedua orang tuanya.

Dengan ucapan bissmillah Nur menerima lamaran lelaki tampan itu, nama lelaki tampan itu adalah Muhammad Miqdad Al-Mahdali, dengan perasaan bahagia Miqdad memberikan sebuah cincin pertunangan kepada Nur. Dalam hati berbunga-bunga Nur menerima cincin itu dari tangan Miqdad.

Di kafe.

Dinda sadar jika dirinya menjadi tontonan pengunjung kafe, dengan muka yang sembab dia pergi meninggalkan kafe yang sangat bersejarah untuk Dinda. Dinda menelepon Nur untuk menjemputnya.

“Nur jemput gua, sekarang gua ada di jalan Sudirman,”

“Oke, otw.”

Tak lama kemudian Nur datang, Dinda langsung masuk ke dalam mobil dan menangis sejadi-jadinya.

Nur bingung dengan sahabatnya, kenapa dia tiba-tiba menangis padahal tadi siang seneng banget, sambil menyetir mobil Nur menanyakan apa yang terjadi, kemudian Dinda menceritakan semua yang terjadi di kafe sambil menangis sesegukan.

Nur turut bersedih dengan sahabatnya tapi ini juga salah sahabatnya sendiri. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab.

“Lu nangis karena di tinggal si Tejo itu? Mending lu nangisin dosa-dosa lu itu lebih baik.”

“Namanya Alex elah ganti-ganti nama orang aja,” ralat Dinda dalam tangisnya, membuat Nur memutar bola malas.

“Sekarang mending lu kembali ke jalan yang lurus, pria itu siapa kekasih lu yang tadi? Tono? Tejo? Tarno?”

“Alex bukan Tejo elah,” ralat ulang Dinda sambil memasang wajah flat mendengar nama Alex di ganti menjadi Tejo.

“Oh iya-iya si Alex maksud gua, dia itu bantu lu untuk sadar Din, gua malah berterimakasih sama dia, karena udah menyadarkan sahabat aku yang tidak sadar-sadar, padahal dari dulu gua udah bacotin lu ampe mulut gua berbusa kaga lu dengerin, sekarang gua bersyukur lu dapat hidayah.”

“Eh kampret lu, btw makasih selama ini udah nasehatin gua, justru gua yang seharusnya bersyukur dapet sahabat kayak lu, sayang gua sama lu.”

“Tapi sayangnya, gua sayang calon imam.”

“Tapi masih rahasia ya kan?” sindir Dinda karena dia sudah hafal semua kta-kata Nur kalo udah bahas calon suami.

“Udah nyata kok, baru saja ngelamar.” Ucapan Nur membuat Dinda terkejut bukan main, dengan perasaan bahagia Nur memamerkan cincin pertunangannya yang melingkar di jari manisnya.

Dinda melotot kaget, “REALLY?? YOU KIDDING ME DEAR??”

“Iya, ini foto tadi dia ngasih cincin,” ucap Nur sambil memberikan ponsel-nya kepada Dinda karena dia juga harus fokus menyetir.

💢💢

“Alhamdulillah sahabat gua kagak jones, tapi gua yang jones. Gapapalah yang penting gua memperbaiki diri dulu.”

“Hahahahaha, perbaiki diri lu mulai dari sekarang.”

“Terimakasih Nur, lu emang yang terbaik! You’re my best friend!”

TAMAT