Prosa

MENANTU YANG TERSAKITI

September 18, 2018

Sulastri Demiyanti, gadis cantik, putih, berkepang dua anak pak Parto pensiunan di Angdam Salatiga  memiliki istri namanya Salamah bekerja sebagai pedagang  tahu, tempe di Pasar Babatan , merasa bangga memiliki putri yang baru lulus SMA Kristen di Ungaran, tapi sayang Sulastri tidak mau melanjutkan sekolah  dia ingin bekerja karena selalu diganggu Nugroho sopir cold pembawa sayuran dari Bandungan dibawa ke pasar Ungaran, Sulastri jengkel setiap ke sekolah selalu Nugroho nungguin dan godain makanya Sulastri mencoba bekerja di Golden Power biar tidak melihat laki-laki itu, Sulastri pandai menjahit sehingga dia diterima bekerja di Golden Power. Ternyata Nugroho malah senang mendengar Sulastri sudah bekerja dan membuat Nugroho  tambah semakin ngebet, Nugroho mendekati rumah Pak Parto dan mencoba komunikasi dengan menyapanya, Pak Parto sedikit heran apa mau laki-laki muda yang berani menyapanya itu ? tapi pak Parto cukup mendehem tanda mendengar. Selesai mengirim dagangan Nugroho ke rumah pak Parto, karena dia sudah tak tahan menyimpan rindu dengan gadis berkulit putih itu. Akhirnya Nugroho berhasil berkenalan dengan pak Parto, “Nak Nugroho kerjanya sendiri ya ngurus sayuran ” tanya pak Parto. ” Inggih pak, ini orderan tiap hari yang saya ambil dari Ambarawa, kirim Bandungan, dan kirim Ungaran begitu pak setiap hari” ” Jadi Nak Nugroho nebasin dari petani terus di bagi ke masing-masing pasar gitu  Nak ?”

” Njih ngaten pak,”

” Lancar pembayarannya nak..? ” tanya pak Parto lebih serius

” Ya biasa pak kadang lancar, kadang mereka saya suruh ngasih DP dulu, kalau tidak ada DP tidak saya kirim sayurannya…ya akhirnya mereka pada DP dulu biar dapat dagangan “. Nugroho menjelaskan pada pak Parto. Nugroho ngobrol banyak sama pak Parto sampai waktu Sulastri pulang masih asik ngobrol. Nugroho pura-pura gak kenal sama Sulastri dan dia menanyakan siapa wanita itu.

” Itu anak bapak, sudah kerja di Golden Power ” jelas pak Parto

” Cantik sekali ya pak….sudah punya jodoh pak…maaf..” tanpa basa-basi Nugroho menanyakan keadaan Sulastri

” Bagaimana … naksir ya…bapak gak suka taksir-taksiran kalau Nak Nugroho suka langsung saja bapak ibu Nak Nugroho suruh kesini, toh nak Nugroho dah nyekel gawe ”

Begitu tegas dan mantabnya pak Parto menentukan pilihan buat anak semata wayangnya…membuat Nugroho bersemangat segera meminta ibunya melamar Sulastri

Pagi itu Sulastri berangkat bareng mandor tempat ia bekerja, hati Sulastri agak berdesir karena baru kenal pak mandor ini langsung ngajak bereng diboncengin motornya. Sulastri nggak enak dan memaksa berhenti sebelum sampai pabrik, karena paksaan Sulastri akhirnya Antok menurunkan sebelum gerbang pabrik. Sulastri lega karena dia paling takut dengan bisik-bisik. Selesai menjahit pakaian tersebut segera diserahkan ke mandor Antok.

” Kamu hebat Lastri, temenmu baru dapat separo kamu sudah selesai, kamu lembur hari ini ya..cuma separo dari tarjet , biar pulang bersama-sama dengan teman kamu”

Sulastri bersedia karena pulang masih bareng teman-temannya , dan mengambil tambahan separo yang sudah di siapin mandor Antok. Sulastri kembali mengayuh mesin jahit dengan hati-hati, temen-temen Sulastri menggoda, “Lastri, hebat kamu..sudah mulai lembur…kasih tahu dong caranya biar cepat seperti kamu kerjanya”

Sulastri santai saja, dia juga gak ngerti kenapa temennya bisa lambat tidak seperti dirinya, atau mungkin mereka bekerja sambil ngobrol ngegosip terus…Lastri cuma mengangguk sambil senyum….” Yaaa…tu kluar juga senyumnya…..” teriak temen-temen pabrik membuat mandor menegakkan badan sambil bertolak pinggang. Sulastri mengayuh lagi mesin jahitnya..lagi-lagi dia selesai lebih dulu…dan menyerahkan ke mandor. ” Lastri kamu benar-benar hebat…saya salut cara kerja kamu”. mandor Antok memuji Lastri, sementara Lastrinya segera pamit untuk pulang karena jam kerja pabrik sudah habis, Lastri segera keluar pabrik langsung naik angkot menuju ke rumah.

Sampai rumah ibunya sudah menunggu, Sulastri heran tumben ibu pulang gasik

” Anak ibu yang pendiam sudah datang, ayuk masuk ibu kenalin seseoang” Lastri segera masuk rumah dan dilihatnya dua orang laki-laki, dan satu orang wanita , ibu mengajak kumpul ruang keluarga yang lebih luas ” Kenalkan ini anak-anak ibu dari suami ibu yang pertama, itu kang Amirul sekarang tinggal diLampung, dan yang kedua kang Damar tinggal di Lamongan dan yang perempuan itu Yu Gendis tinggal disini di Gawongan Salatiga. Mereka ini kesini karena ingin menyaksikan lamaran kamu nanti malam. Sulastri agak bingung gak nyangka ibu…ternyata sudah dua kali menikah. Dan pak Parto juga mengenalkan laki-laki berpakaian Angkatan Udara, ” ini mas Imam kakak kamu hasil perkawinan sama istri pertaman bapak yang meninggal karena kecelakaan ketika mas Imam diterima di AURI sekarang tinggal di Jakarta di Halim, dia bekerja memberikan laporan-laporan pesawat yang take off dan landing, Lastri tersenyum tapi senyumnya campur aduk…ternyata bapak juga menikah dua kali…semakin diam mulutnya….

” Nah Lastri, nanti calon suamimu datang sekarang sudah mulai maghrib, persiapkan dirimu secantik mungkin, biar calon suami kamu senang melihatmu.” bu Parto menyuruh Lastri mempersiapkan diri dibantu Yu Gendis.

Lastri itu sudah cantik meskipun tidak ber makeup, malah begitu alami cantiknya Gendis mengamati kecantikan Lastri dan hanya memoles dikit-dikit biar kelihatan lebih jreng. Rombongan pelamar sudah datang, Lastri  harus segera ganti pakaian  yang sudah ia siapkan dan ketika ibunya meminta keluar kak Gendis mengantarkan sampai tempat duduk. Hati Nugroho serasa terbang diawang-awang melihat gadis yang dipujanya akhirnya dia lamar, sementara Lastri menunduk belum berani menatap calon suaminya. pembicaraan besan-besan kelihatannya lancar-lancar saja, Lastri kaget ketika ditanya orang tua Nugroho  Tri Leksono , apakah Sulastri Demiyanti Binti Suparto bersedia menikah dengan anaknya..? Lastri mengangkat kepalanya dan melihat wajah Nugroho tersenyum menggoda , dalam hatinya jengkel bila ingat godaan Nugroho…tapi Lastri cuma bisa bicara ” Mas…” itu saja sudah membuat masing-masing keluarga lega dan keluarga Nugroho Tri Leksono menginginkan segera menikahkan anaknya ketika melihat kecantikan Sulastri

Keluarga Pak Parto dan keluarga Nugroho setuju dan mas kawin langsung sudah disediakan oleh Nugroho semuanya merasa bahagia karena Sulastri tidak menampik Nugroho…sebenarnya Sulastri bingung….dengan keadaannya karena selalu diam dan tak bisa teriak karena sudah pembawaannya.Keluarga Nugroho meminta seminggu lagi pernikahan dilangsungkan dan pihak Keluarga Sulastri menentukan hari H nya.

” Lastri besok akan mas antar kamu pamitan ke Pabrik , jadi kamu sudah siap ya jangan berangkat dulu nunggu mas Nugroho droping sayuran  ya ?” begitu pemintaan Nugroho langsung dibalas dengan anggukan Sulastri.

Pagi itu jam 10.00 Nugroho sudah sampai di rumah Sulastri dan siap antar ke Golden Power, sampai pabrik Sulastri ditemeni Nugroho ketemu mandor Antok, kelihatannya mandor Antok kecewa…tapi harus bagaimana karena Sulastri akan menikah dan itu keinginan calon suami Lastri harus berhenti bekerja.

Akhirnya hari H itupun tiba, banyak tamu yang datang terutama dari Pabrik Golden Power termasuk mandor Antok, juga tamu-tamu dari pasar Babatan , pasar Ungaran, pasar Bandungan, pasar Ambarawa dan warga Salatiga Gawongan, mereka memanggil Solo Orgen menambah riuhnya acara pernikahan Nugroho dan Sulastri, saudara-saudara Sulastri tidak menyangka kalau sebegitu ramainya, Solo Orgen sampai jam 03.00 mata Lastri sudah tak tahan untuk melek, akhirnya Sulastri terkulai di pangkuan suaminya Nugroho. Merasa bangga punya istri cantik Nugroho memeluknya

Setahun sudah Sulastri menikah dengan Nugroho dan sudah dikaruniai seorang anak laki-laki diberi nama Eko Leksono, dan sudah memiliki rumah pemberian orang tua Nugroho , tapi Sulastri memilih tinggal dengan bapaknya di Gawongan Salatiga, pelanggan Nugroho bertambah di Jimbaran, dan Sulastri hamil lagi anak keduanya, saat melahirkan anak keduanya badan Lastri terasa sakit semua hingga harus opname di Rumah  Sakit  karena Sulastri tekanan darahnya naik, Ia dimasukkan di ruangan gelap. Suami Lastri bingung dan minta tolong ibunya Lastri untuk menunggu di Rumah Sakit. Seminggu sudah Lastri melahirkan anak lelakinya, yang diberi nama Dwi Leksono

Orang tua Sulastri memberikan tanah kosong 300m2 rencana untuk membuka usaha di Gawongan sebagai hadiah anak keduanya, tapi Sulastri masih menahan diri karena kasihan kalau bayinya ditinggal, suami Sulastri melarang dan mengalihkan aset untuk beternak ayam kampung, yang menjaga pak Sungkowo pak Lek Nugroho. Nugroho memberikan uang untuk membuat kandang dan gubug untuk sungkowo tinggali di peternakan.Pak Lek Sungkowo tidak punya anak dan istrinya sudah meninggal dunia hanya keponakan yang selalu melindungi dirinya, makanya Ia senang sekali disuruh kerja mengurus peternakan ayam keponakannya.

Kabar duka diterima bu Parto ibunya Sulastri kalau anaknya Amirul meninggal dunia karena jatuh dari pohon kelapa dan langsung dikebumikan, bu Parto menangis karena tak bisa melihat jenazahnya, dan sudah diurus suami pertamanya…karena kepikiran Amirul dan rasa bersalahnya ketika masih kecil-kecil anaknya ia tinggalkan untuk jualan tahu dan tempe di Babatan dan menikah lagi sama Parto suaminya sekarang. Kang Damar yang di Lamongan pun ikut sakit mendengar kakaknya meninggal, akhirnya bu Parto meninggal disusul  kang Damar. Sulastri amat berduka ibu sudah tiada dan kakak laki-lakinya meninggal semua, sementara Yu Gendis tidak bisa dihubungi bahkan anak-anaknya gak ada yang tahu siapa Sulastri  Demiyanti itu..? Pak Parto menanam pohon Jeruk di halaman rumahnya untuk mengenang almarhumah  istrinya tapi pohon itu mati, dicobanya sekali lagi…mati lagi…sudah tiga kali menanam pohon jeruk tapi mati terus pak Parto  patah semangat….dan Ia batuk-batuk setiap hari membuat asmanya kambuh. Cucunya Eko Leksono dan Dwi Leksono memijit pijit kakeknya.

” Bu…dipanggil kakek…cepet bu… ” teriak Eko dan Dwi , karena Sulastri hamil tua perlahan dia bangkit menuju kamar ayahnya,” Piye pak, apa sing di rasa..?” bapak menyuruh Sulasti agar anak-anaknya diluar, dan membuka lemari pakaian disitu ada dua sertifikat 1. sertifikat rumah ini dan satunya sertifikat tanah seluas 700m2 ada di Salatiga semua sudah atas nama Sulastri Demiyanti sejak Sulastri menikah sudah dihibahkan untuknya ” Tolong rawat bapak sampai bapak meninggal dan simpan baik-baik untuk anak-anakmu , tak usah kamu fikirkan kakakmu yang di Jakarta dia sudah dapat bagian sendiri sedangkan harta ibumu sudah dibawa ketiga anaknya waktu kamu menikah, kalau kamu ingin ketemu Yu Gendis tanahnya ada disebelah peternakan ayam kamu,”  suara pak Parto sudah amat berat, “tanah ini suamimu tahu letaknya di Salatiga dan ditanami kayu sengon  karena sudah 3 kali suamimu kesana sama bapak” Lekmu Sungkowo tulong dirawat dia tahu semua apa yang bapak punya dan hanya kamu sekeluargalah yang yang ia miliki, tolong perhatikan suamimu baik-baik wis yo nduk…”Pak Parto pamit sama anak perempuannya Sulastri Demyanti dan tidak bergerak lagi mulutnya…..” Bapaaaakkkk…..bapaaaaaakkkkk…….” sambil sesenggukan anak-anaknya Ia panggil kalau kakeknya sudah meninggal, Suaminya yang masih berada di Ungaran segera pulang. Nugroho mengurus pemakaman mertuanya sampai tujuh hari.  Letih , capek badan Nugroho , dia harus istirahat dirumah kebetulan anaknya Eko Leksono masuk TK kecil, jadi sekalian urus TKnya dekat rumah. Sulastri menahan sakit…sepertinya mau melahirkan….Lastri minta tolong mbok Kromo pembantunya untuk nyiapin pakaian bayi dan segera menuju Puskesmas Karangjati , anak ketiga Sulastri jenis kelaminnya perempuan..betul-betul membuat Nugroho gembira..segala keperluan sikecil Adinda Putri Leksono begitu  namanya diutamakan, kakak-kakaknya  menyambut senang kehadiran Adinda.

Bapaknya Nugroho pak Leksono   dan Ibu  datang mengunjungi Adinda Putri Leksono, dan menginap karena ingin memandikan  Adinda waktu pagi hari , tapi pak Leksono pulang duluan urusin pesanan sayuran Nugroho.

Selesai memandikan Adinda Putri Leksono, Ibu Mertua Lastri pulang diantar Nugroho , karena kesiangan jalan arah Ambarawa macet, selesai antar ibunya, Nugroho mengambil pesanan pelanggan memang agak kesiangan tapi Nugroho tetap mengambilnya, khawatir pelanggannya lari mencari  penjual sayur lainnya karena ini kebutuhan dipagi hari yang routinitas harian dan wajib Ia dapatkan  demi anak-anaknya. Karena ributnya lalu lintas waktu sampai di Bandungan Nugroho hampir menabrak orang lewat, Nugroho menghindar tapi malah menabrak pembatas jalan, dia sedikit luka-luka, sepontan jalanan macet total dan membuat Nugroho pingsan.

Nugroho sadar ketika sudah berada di Rumah Sakit Jimbaran ditungguin seorang wanita sebayanya yang luka-luka juga, Nugroho kepalanya pusing, dahinya luka, giginya tanggal 1, Pak Leksono segera menuju Rumah Sakit setelah mendapat kabar dari Polisi kalau anaknya kecelakaan, Pak Leksono memeluk anaknya “untung kamu selamat nak”, Tiba-tiba wanita itu bertanya pada pak Leksono ” Pak terus saya bagaimana..? ini akibat anak bapak saya seperti ini, dan saya yang membawa anak bapak ke rumah sakit ini, saya gak ada uang pak untuk bayar rumah sakit ini” Pak Leksono akhirnya yang menyelesaikan pembayaran Penny Pratiwi dan Nugroho Tri Leksono, sewaktu akan pulang Nugroho meminta bapaknya pulang ke rumah saja, mbak Penny akan diantar Nugroho sendiri karena dia sudah kuat dan jalanan sudah tidak ramai lagi, bapaknya mengizinkan kalau sudah kuat.

” Mbak maaf, ini saya antar ke mana ? dan maaf namanya siapa tadi?”, wanita itu tersenyum dan menjawab,” Saya Penny Pratiwi, panggil saja Penny, antarkan saya ke Tegal Panas Bawen sini saja”. Nugroho merasakan Penny ini wanita gak bener karena itu daerah pangkalan WTS , tapi dia dah nolong saya…yah ..apa saja maunya lah yang penting aku tidak hutang budi sama wanita itu dan segera enyah.

Sampai sudah Nugroho di Tegal Panas, dia disuruh masuk dulu , diajak ngobrol. ketika akan pulang Penny mencegah Nugroho dan merayunya karena masih sakit dan akan dipijit badannya Nugroho diajak masuk ke kamar Penny dan memijitnya akhirnya mereka terlena karena Penny pandai merayu, di kamar itu..mereka bercinta akhirnya keduanya tertidur.

Pagi-pagi Nugroho buru-buru mandi dan segera pamit,Penny Ia tinggal begitu saja, dia kasihan pada istrinya yang sudah menunggu semalaman … sungguh…aku berdosa….sampai dirumah Nugroho langsung tidur..dia masih kecapekan.  Lastri kaget melihat suaminya sudah rebah di kamar karena tadi dia masih memandikan bayinya, ” mas…mas….Sulastri mencoba membangunkannya dia heran suaminya lecet-lecet..”mbok  Kromo tulooong…iki bapake kenang…tolongano…” Mbok Kromo yang mendengar suara Lastri langsung lari..dan  menggendong Adinda karena gak berani memegang Nugroho. ” Mas…..mas….kamu kenapa…?” Sulastri mencoba membangunkan suaminya

” Lastri….istriku….maafkan aku…..”  Nugroho memegang tangan istrinya dan menceritakan kecelakaan itu, Lastri mengelus kepala suaminya dan berkata: ” Gak apa mas, hari ini gak bawa uang  besok pasti akan bawa uang…cepet sembuh ya mas…minggir dikit dong , Adinda harus ganti baju…”. Nugroho bergeser dan melihat istrinya memakaikan baju si kecil.

” Nduk besok pagi bapak kerja doakan lancar ya..hari ini bapak libur dulu karena bapak sakit” Nugroho mencium pipi mungil Putrinya.

” Eko dan Dwi sudah berangkat bu, ? ” Nugroho menanyakan anak lelakinya

” Sudah dari tadi mas, bentar lagi Dwi pulang, Dwi dan Eko sudah berani pulang sendiri, ”

” Syukurlah, tidak merepotkan kamu, bagaimana perutmu masih sakit..?”

” Kalau perut gak sakit mas… cuma ini  menstruasiku masih saja kenceng kluarnya”

” Ya gak apa-apa, kan memang sudah resikonya seperti itu” Nugroho menenangkan istrinya agar tidak berfikiran macam-macam, karena Nugroho menyadarinya. Mobil Nugroho penyok, harus diperbaiki, jadi ia belum bisa kerja satu minggu ini…Nugroho naik angkot ke Ambarawa ke rumah bapaknya,minta bantuan bapaknya satu minggu ini sebelum mobilnya jadi, bapaknya kasihan dan membantunya, ” Pelanggan kamu sementara diatasi Subkhan dan Markum kakakmu, kamu bisa istirahat dulu dirumah ” pak Leksono menjelaskan pada anak ragilnya.” O yo Le, kuwi cah wadon sing mbok anter itu oarang mana ?” Nugroho agak kaget, ” EEh…itu lo pak di…Bawen ada temennya yang anter ke rumahnya, karena mobil gak bisa masuk”

” Ooooh yo wis,  ndang kabari yen mobilmu wis dadi, cepet enggal mari ” pesen pak Leksono. Ketika arah pulang…pikiran jelek melintas di benaknya untuk mampir ke Penny di Tegal Panas. Ternyata Nugroho sudah keracunan rayuan Penny. Selelah puas dari Tegal Panas dia pulang ke istrinya. Nugroho memberikan uang dari ayahnya, dan akan keluar sore ini melihat mobilnya.” Kalau aku gak pulang, aku cari kerja di Bawen, kamu jangan sedih ..”Nugroho memeluk istrinya dan mencium bayinya.

Dasar laki-laki yang berkobar nafsu birahinya… Nugroho fikirannya hanya pada Penny..Penny dan Penny api asmara sudah mengoyak perasaannya pada keluarga, Nugroho menuruti keinginan Penny sang pelakor, Nugroho menjadi sobir truk yang  kalau mangkal di Tegalpanas pasangan gelapnya, ia tak pulang rumah …sekali pulang memberikan uang 150.000, Lastri tetap menerimanya dan  tetap diam seakan tak ada masalah, dia mau menceriterakan Eko akan masuk sekolah Dasar, terpaksa tanah dan kandang ayamnya ia jual dengan harga yang murah, uang ia simpan rapat-rapat untuk biaya anak-anaknya sekolah.

Tiga tahun berlalu Nugroho baru pulang, tapi tak memberi uang…malah Ia menanyakan sertifikat kandang ayam, ” Tanah sudah aku jual mas buat biaya hidup, itu Lek Sungkowo yang antar jemput anak-anak, karena kemarin Eko dan Dwi kesrempet motor, Lek Sungkowo Lastri belikan sepeda onthel untuk antar jemput anak-anak, mas itu kemana saja…kok gak ada kabar Eko sudah kelas 3 Dwi kelas 2 dan Adinda mau masuk TK tahun ini,bagaimana makannya, sekolahnya, sakit atau tidak anakmu? kenapa mas gak pernah ngabari”  baru kali ini Lastri bisa bicara banyak, karena harus dia sendiri yang berfikir keadaan rumah tangganya.

” Kan aku masih cari kerja, jadi supir truk itu berat dan resikonya berat juga…gak seperti supir cold bu..?, aku makan saja nebeng teman-teman langsiran truk apalagi balik ke rumah..?” Nugroho mencoba menjelaskan keadaannya. ” Sudah bu, aku berangkat lagi..” Saking kesalnya Lastri minta Lek Sungkowo mengantar ke rumah mertuanya di Ambarawa, ia menceriterakan semua yang terjadi dengan Nugroho.

Ibu Leksono heran, karena tidak ada komunikasi Nugroho dengan keluarga, akhirnya ini dirapatkan keluarga Leksono. Pak Leksono perkirakan sejak kecelakaan dia antar Penny sepertinya Nugroho kurang beres, ia minta tolong Subkhan dan Markum untuk mengawasi daerah Tegal Panas.

Setelah ditelusuri mobil coldnya sudah terjual untuk membangun rumah Penny, Nugrohonya masih narik dan kalau malem tidur di Penny. Subkhan dan Markum geram medengar cerita Sentot mantan kekasih Penny. Subkhan dan Markum janjian sama Sentot untuk memaksa pulang Nugroho  ke Ambarawa.

Hari itu tibalah, Sentot dan Nugroho keluar jalan-jalan, ketika sampai ditempat sepi Subkhan dan Markum menyekap Nugroho sedangkan Sentot terkapar , Nugroho panik..mulutnya di lakban tangan dan kakinya diikat matanya ditutup, dia diangkat menuju mobil Subkhan dibak mobil di tunggui Markum. Mobil melaju sampai rumah pak Leksono, Nugroho dibawa masuk dan dibuka mata dan mulutnya tali ikatan kaki dan tangan belum dilepaskan masih terikat kencang. Lastri disuruh bertanya apa yang dilakukan suaminya sampai pulang ke rumah seperti ini..?. Karena didesak terus kakaknya Subkhan dan Markum akhirnya di depan Ibu, Ayah dan kedua kakaknya serta Sulastri Nugroho mengakui perbuatannya dengan Germo Penny. Sulastri menangis tersedu-sedu..meratapi nasib sepeninggal ayah ibunya. Ayah Nugroho begitu tertekan melihat anak bungsunya terkulai menyayat hati…Subkhan dan Markum tak tega melihat adiknya ..dan memunggungi Nugroho. Sulastri menyopot tali pengikat tangan dan kakinya Nugroho, sambil menangis Lastri berkata lirih…sungguh teganya kamu mas pada anak dan istrimu…mengapa kamu memilih jalan hidup yang seperti itu pilihan kamu…Ibu Nugroho bertanya pada Sulastri, ” Lastri kamu sudah ditinggal tiga tahun sama Nugroho kamu berhak talak, karena Nugroho tak menafkahi kamu lahir dan batin” sambil menangis Lastri memberikan jawaban: ” Ibu…. maafkan Lastri sejelek apapun mas Nugroho saya tidak akan meminta cerai meskipun dia tidak menafkahi kami sekeluarga Lastri tidak akan bercerai karena ibu Lastri asalnya pernah bercerai sedangkan bapak cerai mati. Lastri turunan dari ibu darah bercerai dan tak akan mengulangi lagi perceraian kasihan Adinda besarnya kelak, semoga ibu mau menerima keadaan seperti ini ” Ibu Leksono memeluk menantunya ” maafkan anak ibu ya nduuk..juga Ibu, bukan bermaksud ibu menyakitimu, tapi ibu benar-benar ridho menerima kamu sebagai menantu yang berbakti .”

 

 

SELESAI