Prosa

LEMBAYUNG SENJA DI TANAH SUCI

July 29, 2019

Kartono marah pada istrinya Saodah, sudah waktunya mertuanya membelikan sepeda onthel untuknya, yang akan dipakai untuk bekerja tapi sampai saat ini belum dibelikan. Kartono seorang guru honorer menagih janji ke mertuanya yang akan menuruti keinginannya apabila menikahi anaknya Paino yang bernama Saodah yang amat mencintai Kartono. Menantunya memaksa untuk dibelikan sebagai sarana kerja seorang guru yang dibangga-banggakan Ratmi ibunya Saodah ” Kalau bapak tidak membelikan sekarang Saodah akan aku ceraikan” begitu tantang Kartono guru Madrasah Ibtidaiyah ( MI) setara Sekolah Dasar. Hati Paino amat marah tapi kasihan anak perempuan satu-satunya akan dihajar Kartono. Akhirnya Paino meluluskan permintaan Kartono tapi menunggu anak gadisnya hamil dulu karena Paino sangat menginginkan cucu . Tapi karena Saodah akan dibunuh maka Paino membelikannya juga. Tiga tahun berlalu dengan kasih sayang Saodah kepada suaminya tak pernah luntur meskipun Kartono suka memukulnya kalau lagi marah, dan membuat bapak ibunya menangis jika melihat Saodah dihajar , mereka menikah karena perjodohan orang tuanya . Saodah anak Paino dan Ratmi berasal dari desa Bandungrejo Mranggen dilamar sahabat Paino yang bernama Wiratmo dan Kuntarti istrinya dari Desa Mojo Demak yang sama-sama bekerja sebagai kuli panggul di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Paino dan Wiratmo suka berkelahi menghajar teman teman seprofesi dan amat ditakuti karena kenakalan dan ketamakannya. Karena saat itu masih rawan dan tentara Jepang masih menjajah Indonesia maka mereka mengungsi di daerah yang cukup aman. Paino ketemu sama bibinya Marfuatun di Alastuo Genuk dan ikut bibinya karena tak punya tempat tinggal lagi. Sebenarnya Marfuatun tak mau menerima Paino dan Ratmi karena dia hanyalah anak teman sahabatnya Suyati dan tak diketahui siapa bapaknya serta ibunya, waktu ditawan tentara Jepang. Lagi pula kelakuan Paino terkenal nakal dan semena-mena suka menipu. Tapi Marfuatun tak tega dan memperbilehkan tinggak sementara. Anaknya Marfuatun yang sudah ditinggal suaminya karena sakit malaria, Khairudin dan Saiful sering dimintain uang dan mencuri hasil kebun lalu dijualnya dipasar. Marfuatun berdagang barang rumah tangga meninggalkan Saiful dan Khairudin yang masih Sekolah Rakyat dan Paino diminta untuk menjaga anak anaknya karena tak memiliki tempat tinggal lagi rumahnya yang di Mranggen diminta paksa Jepang.

Sepuluh tahun berlalu Saiful sudah remaja Indonesia sudah merdeka dan Saiful pandai dibidang kelistrikan juga mengemudi dia diterima di PLN bagian perbengkelan sedangkan Khairudin di TNI. Marfuatun merasa khawatir dengan harta yang dititipkan Paino karena Saiful dan Khairudin tak mau berkumpul dengan Paino yang bengal , sawah dan kebun yang dititipkan ke Paino bagaimana ya…? Perasaan tak enak memaksa Marfuatun pulang ke Alastuo. Alastuo kini ramai , sudah berdiri beberapa rumah dan Marfuatun mengenal mereka semua Saiful datang ke Alastuo dan memperkenalkan Rohana calon istrinya kepada Marfuatun dengan mengendarai mobil PLN banyak orang yang menonton mobil dan mengelus-elusnya . ” Mak tadi aku ke Kauman kata Maktik emak ke Alastuo ya aku susul saja ” kata Saiful. Melihat Paino seketika itu juga Rohana minta pulang takut diapa-apain Saiful meminta emaknya pulang dan Marfuatunpun pulang ikut Saiful di perumahan PLN di jalan Mugas Semarang. Akhirnya Saifulpun menikah dengan Rohana dan Marfuatun senang tinggal di Mugas rumah yang besar dan kokoh. Saiful senang sekali dengan berkumpulnya emak serta Rohana istrinya membuat suasana nyaman. Saiful memiliki tiga orang anak yang lucu-lucu dan Marfuatun menjaga anaknya tak lagi berdagang karena pendapatan Saiful sudah mencukupi , tapi Marfuatun masih tetap ingin melihat tanah di Alastuo Demak. Ketika liburan Rohana dan anak-anaknya diantar Saiful ke Alastuo menemani Marfuatun mengurus tanah Alastuo yang saat ini ditempati Paino . Paino sendiri juga membawa anak nya Saodah juga menantunya Kartono yang kini mengajar Tsanawiyah ( setaraf SMP)

Paino agak geram melihat Marfuatun bibinya datang bersama anak dan istrinya Saiful, dia kerumah Saodah yang sudah dibuatkan rumah di sebelahnya . Dirumah Saodah sedang bertengkar dengan Kartono suaminya yang minta Saodah membelikan sepeda motor pada Paino ayahnya , kepala Paino pusing menghadapi menantunya dan diapun balik menemui Marfuatun dan Rohana. Saiful bersama anaknya melihat-lihat batas tanah dan meminta Masduki menemaninya karena yang tahu persis tanah bapaknya adalah Saeful dan Masduki. ” Kang priye kabare… Aku dengar Paino menghajar bapakmu ya… ” kata Saiful sambil menepuk bahunya Masduki. Yang ditepuk tertawa sambil menggandeng tangan Saiful. ” Kok kamu bisa tahu kalau ayahku dihajar Paino sepupumu? ” ” Dari Rohana istriku kebetulan kakaknya Rohana mas Mangpii main ke Mugas Semarang bersama Wakini istrinya naik kereta api ” lanjut Saiful. ” Hati-hati Ful kakak iparmu itu hutangnya banyak, pasti mau ngutang kan? ” ” Aku lebih hati-hati sama Paino karena ia licik, kakakku Khairudin ditipunya dan dipukuli sampai lari dari rumah, untung dia diterima di TNI lega gak ketemu Paino lagi, karena Khairudin suka membantah dan ngeyel kalau diperintah Paino. ” ” Tanahmu batas rel iku dijual buat bangun rumahnya Saodah apa sudah izin emak kamu Ful ? ” ” Makanya emak kesini ngurus itu Ki ” Masduki lega mendengar penuturan Saiful mau mengurus tanahnya, karena batas tanah antara sebelahnya sudah dipotong dan pohon sengonnya dipakai untuk membuat rumah Saodah. Mangpii menceritakan semuanya pada Rohana.

Ratmi melapor ke Paino kalau mereka harus pulang ke Bandungrejo Mranggen asalnya karena Jepang sudah diusir, dan tanah sama pekarangannya tak usah dibersihin buat seperti keadaan apa adanya. Mendengar perkataan Ratmi, Paino naik pitam. ” Maksud bibik apa mengusir kami” dengan bertolak pinggang mata Paino meradang. Marfuatun sudah menduga pasti Paino akan marah tapi dengan tenang Marfuatun berkata sambil tangannya memegang jari Rohana yang gemetaran. ” Begini No, aku tidak kenal ibumu juga ayahmu secara pasti karena ibu kamu teman sahabatku Suyati maka akupun menganggapmu ponakan bukan berarti kamu keponakanku dan soal tanah kamu gak dapat waris sedikitpun kamu boleh menempati rumah ini waktu itu karena tanahmu diserobot Jepang jadi tak punya tempat tinggal, kini warga Bandungrejo pada kembali ke lokasi jadi aku persilahkan kamu boleh pulang ke Bandungrejo terserah kapan saja, karena tanah dan kebun ini milik Khairudin dan Saiful. Semua mendengar perkataan Marfuatun. ” Tanah lan kebun iki separo sudah jadi milikku karena Khairudin sama Saiful sudah kalah tanding denganku waktu adu lompat abu jadi tak bisa bibik mengusirku begitu saja. Marfuatun heran dengan sikap Paino . ” Mereka waktu itu masih anak-anak jadi takut sama kamu” lanjut Marfuatun . ” Sekarang dia sudah dewasa kan apakah masih takut sama aku….!!? ” dengan amarah Paino mengambil gobang dan memanggil Saiful, Rohana dan Marfuatun lari keluar rumah , Ratmi memegangi Paino suaminya agar jangan berbuat nekat mengulangi lagi kejahatannya. Saiful dilarikan Masduki menuju mobil yang parkir agak jauh dari rumah Paino sambil membawa anak-anaknya . Rohana dan Marfuah dilindungi tetangga Saodah. ” Bik, apa kamu juga tak takut sama aku?!! , aku akan disini sampai mati karena ini tanahku dan tanah Kartono mantuku… Kau dengar itu bik….?!! ” Rohana dan Marfuatun dilarikan istri Masduki menuju mobil agar segera pulang. Saiful langsung pulang menuju Semarang Mugas. ” Mak ini tadi bagaimana kok Paino bisa ngamok ” tanya Saiful keheranan. Marfuatun masih gemetaran dipeluk Rohana. Rohana menceritakan kejadian tersebut dan Saiful segera menuju candi lama ke rumah Khairudin kakaknya di mess angkatan darat , karena Khairudin sudah berkeluarga tempatnya pindah dekat kampung sambil tanya-tanya akhirnya ketemu juga. Kebetulan Khairudin ada di ladang belakang rumah sedang menanam ketela pohon. Khairudin berlari menyongsong Emaknya Marfuatun dan mempersilakan masuk rumah lewat belakang, Yuktemu istri Khairudin membuatkan minuman dibantu anak sulungnya Jumiyati dan Giyatno adiknya disuruh membeli jajanan untuk anak-anak Saiful. ” Mak tumben-tumbenan rak ngabari ngerti-ngerti tekan omah” sambil mengelap mukanya Khairudin klihatan bahagia sekali. ” Iki mak-e kang pingin ning omahmu kangen awakmu, wis suwe ora mbok tilek-i ” begitu ucap Saiful yang membuat Marfuatun menangis lagi karena terharu. Yuktemu mengajak Marfuatun mertuanya istirahat di kamar tamu, Jumiati dan Giyatno mempersiapkan makan malam . Saeful dan Rohana menceritakan kejadian siang tadi. Khairudin mengernyitkan dahinya lalu berkata tanpa emosi ” Cen ngono kuwi watak Paino, diumbarne ndadi diawasi malah nglawan. ngene wae Ful awakmu kan wis duwe panggonan ko kantor gelem ra gelem kowe kudu ngurus hakmu, yen aku wis tak iklasno mergo aku kapusan tapi awakmu sih ono tanah garapan lan kebon sing ombo ugo kudu mbok urus Ful selak di caplok Paino.Kasihan Emak itu harta peninggalan pak-e tapi di beslah Paino istilahe kita ini di apusi, dibohongi dan ditipu kasihan Mak-e, Ful ”

Saiful terdiam dan berfikir benar juga kata kakaknya tapi Saiful sering luar kota sulit untuk mengurusnya . ” Yo wis kang pelan-pelan aku urus ” . Selesai makan malam Saiful meninggalkan Emak Marfuatun di rumah kakaknya Khairudin dan pulang ke mugas. Seminggu Ngaipah ikut Khairudin sudah tak tahan dan minta pulang karena sudah kangen sama anak-anak Saiful. Marfuatun diantar pakai jib menuju Mugas, Rohana membantu mak mertuanya turun dari jib. ” Iki di oleh-olehi karo Yuktemu kripik pisang kesenengane Fatoni ” Anak sulung Rohana senang sekali diberikan oleh-oleh budhenya Yuktemu dan meminta Marfuatun menggendongnya sambil makan kripik pisang. Rasa kangen terobati sudah memeluk Fatoni. Saiful perasaannya tak enak ketika berangkat luar kota, dan memeluk istrinya serta berpesan ” Kamu jangan kemana-mana juga emak jangan izinkan pergi tanpa aku antar.” Rohana menurut dan Saiful juga berpesan pada Emaknya melarang keluar rumah dan hanya diperbolehkan ke pasar saja. Saiful mengantar pimpinannya pak Dwik ke Surabaya tapi kenapa hatinya tak tenang. Saiful menceritakan kejadian ini pada pimpinannya. Atas petunjuk pak Dwik Saiful akan mengajukan cuti dua hari sepulang dari Surabaya.

Paino datang ke rumah Saiful diantar Kartono menggunakan sepeda motor . Rohana heran kemarin Paino marah-marah sekarang ganti senyum dan menanyakan keberadaan Marfuatun karena kemarin dia ke rumah Khairudin katanya sudah pulang . ” Iya kang Mak-e Marfuatun ada sedang shollat kenapa mencarinya kang? ” Ada perlu apa kang kesini tumben kok sama Kartono ” Paino mengatakan kalau Kartono ada perlu sama mertuamu Mak Marfuatun dan biar menunggu saja dulu. Rohana mengeluarkan air kendi yang sudah dingin dan mengeluarkan krupuk jipang. Marfuatun segera menemui tamunya, karena Paino kelihatannya berseri-seri Marfuatun santai menyapanya ” Tumben No.. mampir apa sengaja kesini? ” Ini Bik Kartono ada perlu ” Kartono mulai menceritakan maksudnya ” Lahan sebelah rel kereta akan didirikan madrasah dan dari sekolahan minta tanda persetujuan pemilk kanan kiri dan depan belakang, ini bukti surat permohonannya.” Kartono mengeluarkan berkas dalam stofmap. Rohana mendampingi Marfuah dan meminta berkas tersebut untuk dibacanya dulu , Kartono memberikan satu lembar. ” Kok tidak semua kubacanya? ” tanya Rohana. ” Ini untuk kelurahan nyi “(panggilan orang yang sudah bersuami) ” Boleh kubaca kang ” tanya Rohana pada Paino. ” Satu itu saja yang boleh kamu baca lainnya bukan urusan kamu ” Paino meletakkan goloknya ke meja. Rohana wajahnya mendadak pucat tapi tetap membaca berkas tersebut “Piye bisa aku cap jempol sekarang? ” tanya Marfuatun tapi yang jawab malah Paino, “Wis ndang gage selak tutup kelurahane ” Paino dan Kartono segera tancap gas meninggalkan Mugas kembali ke Alastuo( perbatasan Semarang Demak ).

Saiful pulang sampai dirumah Marfuatun menangis sudah ditipu Paino dan Kartono Rohana menceritakan pada Saiful sambil membuatkan kopi , Rohana tak tega mertuanya diperlakukan seperti itu, Marfuatun sudah pasrah kata Khairudin Paino pasti akan melakukan kejahatan ini , laki-laki itu akan dilaknat Allah apalagi dengan sengaja melakukan ini semua bersama Kartono menantunya meskipun Kartono guru Tsanawiyah nafsu angkara murkanya tak bisa Ia tahan. Pada waktu shollat Isyak mereka berjamaah memohon ampunan kepada Allah agar dibersihkan hatinya dan berharap anak cucunya tak berdekatan dengan keturunan Paino yang semrawut itu. ” Mak-e Marfuatun, Rohana istriku hari ini rezeki kita semua karena aku sudah diangkat menjadi pegawai tetap di PLN dan ditugaskan di Pandean lamper Semarang , cuma tahun depan kita harus pindah di daerah yang cukup jauh, tanah sudah disiapkan juga lahan pertanian cuma kita harus membuat rumah sendiri. Tak usah di ungkit lagi bondo yang sudah ditipu Paino kita iklaskan saja ya toh gajiku naik insyaAllah satu tahun cukup untuk buat rumah dan pindahan.” begitu kabar baik yang dibawa Saiful membuat Marfuatun simboknya lega dan Rohana senang sekali memandangi anak-anaknya yang sudah tidur lelap. Besok pagi Saiful, Rohana dan Marfuatun akan mengunjungi tanah di Krobokan dan memasang patok dibantu petugas pertanahan dari kantor PLN.

Tiga bulan berlalu, Saiful mulai mendirikan rumah dibantu penduduk setempat meskipun sedikil penduduknya tapi guyub sekali Saiful minta tolong pak Monok dan istrinya Bartini untuk mengawasi tenaga kerja diwaktu pagi karena masih harus pulang keMugas, Saiful tidak membangun semuanya karena segera pindah dan hari Minggu Saiful dibantu Khairudin pindah di Krobokan Semarang Listrik belum terpasang dan menggunakan lampu petromak penerangannya. Paino sudah merubah kepemilikan tanah dengan pemutihan. Saodah akhirnya hamil juga dan kehamilan itu dirayakan besar-besaran, sebagai seorang tuan tanah hasilnya sangat besar Saodah dan Ratmi giat bekerja dibantu tenaga buruh kanan kirinya, panen pisang menggunung dan kebahagiaannya bertambah ketika Saodah melahirkan bayi laki-laki . Saiful bertemu dengan Masduki di Pasar Bulu ketika hendak mengantar Rohana kolakan beras untuk dijual di kampung Krobokan. Masduki berkata kalau tanah yang dia amankan belum diputihkan akan ia putihkan mumpung ini ada pemutihan bagaimana baiknya? Saiful menyuruh memutihkannya dan akan dijualnya, Masduki akan membelinya sekalian memberikan panjer . Masduki senang sekali tanah itu akan diberikan anaknya yang hanya satu orang , dia minta izin Saiful untuk memutihkan tanah tersebut dan Saeful memperbolehkan sekalian akan di bayar lunas tanah tersebut. Rohana senang sekali bisa mendapat tambahan modal jualan berasnya dan menambahkan sembako lainnya .

Kabar sukuran Saodah hamil keduanya tersebar bersamaan dengan rencana keberangkatan Paino naik haji, Marfuatun terdiam perlahan air matanya menetes menggenangi pipinya yang mulai keriput Marfuatun terbayang wajah suaminya yang berjanji ingin naik haji bersama Marfuatun dan anak-anaknya namun sayang suaminya sudah dipanggil Allah duluan. Dua bulan kemudian Masduki datang ke Krobokan dia menunjukkan sertifikat pemutihan kepada Saiful dan membayar lunas tanah tersebut. Uang itu disimpan Rohana untuk keperluan Marfuatun naik haji dan langsung mendaftarkannya. Marfuatun bersyukur menantunya begitu memperhatikannya. Marfuatun berangkat tahun depan, Marfuatun menambah pengetahuan ngajinya bersama kelompok calon haji mengikuti pengajian dan tadarus baik dirumah maupun di kelompoknya. Sementara itu Paino ditunda keberangkatannya karena suatu hal sehingga akhirnya keberangkatannya bareng sama Marfuatun. Rohana melahirkan anak ke-4 nya Marfuatun bersukur punya empat cucu, dua laki-laki dan dua perempuan, dagangan Rohanapun lancar Marfuatun ikut membantu bersama cucunya yang mulai pintar berhitung dan bersekolah disekolah dasar di kelas 5 dan kelas 3 yang kecil baru mau masuk SD dan masih bayi. Jelang keberangkatan haji Saiful meminta Emaknya yang sabar dan membawakan madu sebagai penguat badannya. Dengan menggunakan kapal laut haji itu mulai mengarungi lautan. Paino merasa bangga sebagai seorang kuli panggul pelabuhan merasa terbiasa dengan situasi kapal dan berjalan di dag menikmati suasana kapal, seorang keamanan menyuruhnya masuk Paino pura-pura tak mendengar , ketika angin cukup kencang Paino terjatuh dan kepalanya berdarah, Paino pingsan dan dibawa ke ruang kesehatan. Sepanjang hari Marfuatun berdoa bersyukur memiliki keluarga yang baik. Dalam pingsannya Paino dikejar-kejar penjahat sampai badannya berdarah karena dipukuli penjahat tersebut. Dalam berita radio dilaporkan Paino tak mau makan sehingga badannya lemas saat ini sedang dirawat di klinik kapal. Marfuatun tak tega melihat kondisi Paino dia memberikan nasihat agar mau makan dan sehat kembali agar bisa mengikuti jalannya haji tapi Paino tak mau bangun.Jamaah haji sudah memasuki Madinah mereka berada di kemah yang sudah disiapkan pemerintah. Marfuatun shollat subuh di Masjid Nabawi. Semua ritual Ia jalani . Ketika di Roudah melakukan sholat malam dan berdzikir mendoakan keluarga yang ditinggalkan sementara itu Paino tak kuat untuk berdiri dan di pindahkan di Rumah Sakit di Madinah. Dia selalu bermimpi dikejar orang berpakaian hitam dan diusir pulang, dipukuli dan dihajar badannya sakit semua. Ketika berada di Mekah Painopun tak bisa bangun dan dipindahkan di RS Macca di Mekah Paino berteriak-teriak histeris ingin pulang sehingga terpaksa disuntik bius. Marfuatun melakukan Thowaf memuja Allah dengan mengelilingi Kakbah 7x . Meskipun berdesak-desakkan Marfuatun melaksanakan dengan senang hati ,dia membayar untuk Paidi agar dibantu melakukan Thowaf dengan dipikul apapun diusahakan agar ada kenang-kenangan selama di tanah suci tersebut tapi tandu untuk mengangkatnya jatuh dan patah. Paino kesakitan dan dikembalikan di Rumah Sakit lagi juga tak bisa memgikuti Sa’i sehingga petugas pemandu haji angkat tangan. Marfuatun meminum obat pemberian Saiful tiap hendak tidur karena dingin sekali pada malam hari dan tidurnya ditenda sukur makanannya terjaga. Saiful mendengarkan terus berita seputar haji dimanapun dia bertugas, Rohanapun demikian menyetel radionya dan ketiga anaknya mendengarkan berita. ” Simbah akan pulang ya buk ?” begitu kata Fatoni si sulung. “Iya , sekarang sedang merayakan lebaran haji seperti saat ini” mereka senang sekali mendengar simbahnya segera pulang.

Setahun berlalu Paino masih belum bisa bangun, sekali bangun dia menangis dan menangis terus rasanya pingin mati saja dia selalu diburu makhluk menyeramkan dan Paino berteriak ” Akan aku kembalikan sekarang ” begitu terus menerus. Tanah dan kebun sekarang yang urus Kartono dan Saodah , yang urus Paino istrinya Ratmi . Suaminya selalu marah-marah dan melompat -lompat juga jijik kalau menginjak tanah sehingga balai tempat tidurnya rusak porak poranda, Kartono bingung dan membiarkan Paino hidup sengsara karena sulit diatur. Akhirnya Paino meninggal dunia badannya berlumuran darah karena selalu membanting-banting tubuhnya dan berbau busuk saat pemakaman kaki Paino memanjang setiap dimasukkan liang lahad sampai beberapa kali akhirnya kakinya di tekuk paksa sampai patah. Kartono menyaksikan ini semua percaya dan tak percaya Kartono kecil hatinya. Tapi ia tetap masa bodoh atas kejadian tersebut. Kartono yang berkeinginan ke tanah suci mulai merenung tapi ia tetap harus berangkat ke tanah suci karena sudah mendaftar , Ratmi sekarang harus mengurusi anak-anak Saodah yang masih kecil-kecil dia hanya berharap pada Kartono menantunya dan Saodah anaknya untuk menjaga hidupnya . Uang yang ia kumpulkan dari hasil panen dan menjual tanah tak boleh diambil istrinya sehingga para buruh pada keluar mencari kerja tempat lain karena diperlukan untuk perjalanan Haji dan meminta pada Ratmi juga istri dan anak-anaknya agar mengiklaskan dengan paksa, dan Saodah menjual stok padi yang ada untuk keperluan makan dan sayuran hasil petik halaman sekitar rumah sampai suaminya berangkat berhaji.

Tahun 1985 Kartono berangkat Haji menggunakan pesawat, perasaan campur aduk dan terasa pusing sudah terpikirkan ketika masih didaratan. Tujuh hari perjalanan akhirnya sampai juga di Jedah , berkas – berkas dicocokkan dan menunggu berjam jam mobil carteran menuju ke Madinah . Tas tempat menyimpan uang dikaitkan di leher di depan dada. Udara yang amat panas membuat jemaah kehausan , mereka pada membeli air dalam kemasan karena air yang disediakan panitia habis. Rombongan bus carteran akhirnya datang malam hari sebanyak 25 bus mengantar jamaah keMadinah. Kartono naik di bus 14 , bus tersebut membagikan air minum serta makan malam dengan roti bakar seadanya. Udara dingin itu bagai badai tak kunjung berhenti . Kartono kedinginan amat sangat, dan badai pasir membuat bus berhenti semua jamaah terdiam dan berdo’a . Labbaiiiik Allahuma labbaiiiik ucapan itu tak pernah berhenti dilantunkan para jamaah kecuali Kartono yang kebingungan dan kedinginan padahal baju tebal sudah dipakainya . Sampai di Mina pagi dini hari mereka mempersiapkan shollat subuh dan memasuki tenda . Kartono tergeletak pingsan karena kedinginan. Jamaah memasukkannya dalam tenda . Kartono terpaksa ditinggal sendiri dalam tenda karena mereka hendak shollat subuh. Ketika jamaah sedang melaksanakan shollat subuh kaki kartono menyentuh benda dingin, Kartono tersadar ternyata ular gurun melilit kakinya dia mengibaskan dan berlari keluar tenda, ular tersebut seolah mengejarnya dengan cepat. Kartono berlari dari tenda ke tenda tak menemui orang karena ada unta maka Kartono menaiki unta tersebut dan unta itu langsung bediri karena kaget serta berlari karena hentakan tali yang Kartono tarik. Entah kemana larinya unta tersebut tak ada yang tahu…

Sudah tiga bulan berlangsung kabar Kartono hilang belum ketemu , padahal ini jelang Iedul Adha saat memilih korban , Saodah menangis memohon pada Allah agar diberikan petunjuk untuk suaminya. Di bawah pohon kurma Kartono berteduh nersama unta yang menemani sambil minum air yang dibelinya dari pedagang yang ia jumpai di Padang Arofah. Uangnya sudah menipis badannya kotor berdebu pakaiannya ada di tenda. Kartono yang guru Tsanawiyah sedikit bisa bahasa Arab meskipun terbata-bata dia meminta petunjuk para pedagang dan tidur bersana rombongan pedagang untuk keamanan dari binatang buas. Uang tak berarti baginya yang penting keselamatan. Kartono ternyata berada di Muzdalifah harusnya dia bisa bertemu rombongan tapi keadaan sangat sepi dia shollat dan memohon kemudahan kepada Allah “semoga ada yang menggantikan wukufku, Thowafku dan juga melempar jumrohku serta yang lainnya. Dalam tangisnya dia memohon ampun atas semua dosa-dosanya dan amat rindunya Kartono untuk masuk Masjidil Harom serta memeluk Kakbah dan meminum air zam zam di Masjid Nabawi . Saat ini Kartono mencari kelompoknya menuju Mekkah atas bantuan para pedagang ia bersama untanya segera mengikuti arus pedagang tersebut. Kartono memasuki kota Mekah dia ketemu dengan mas Waki seorang pemandu Hajinya, Kartono menangis karena rombongan sedang menunggu bus untuk pulang ke Indonesia dan sudah tak boleh memasuki Masjidil Harom lagi , Kartono diantar ke rumah sahabatnya mas Waki yaitu pak Ahmad , untuk mandi dan shollat dan memberikan kopornya serta melaporkan kembalinya Kartono di Mekkah. Waki menjelaskan pelaksanaan hajinya sudah diselesaikan dan di bantu orang-orang sekitar terutama sahabatnya Ahmad yang telah menggantikannya, selesai shollat Kartono membayar uang pengganti hajinya kepada keluarga Ahmad atas perintah Waki. Rombongan sudah memasuki bus, jamaah berseri-seri usai pelaksanaan hajinya. Kabar kembalinya Kartono disambut doa Saodah. ” Alhamdulillah Ya Robbi..segala doaku Engkau kabulkan, mengembalikan suamiku dalam keadaan selamat “

Selesai.