Cerbung

KUNTILANAK – BAGIAN KE III – MEMBURU DENDAM

October 16, 2018

Akhirnya Tito tidur di gendongan Denok, dia tak berani menidurkan Tito di kamar karena tadi sekilas melihat ibu Yanti masuk dan Denok mengatakan kepada pak Kasidi dan Narto. Mereka heran..” Ada apa ini pak…?” Narto memeluk mertuanya.

” Ayo kita lihat kamarnya” seru bapak. Dan ketika dibuka …tak ada apa-apa disana. Terdengar pintu depan diketuk tapi tak ada suara, diketuk lagi…Pak Kasidi tak mau berpikiran buruk dia langsung membuka dan ternyata bu Hanifah dan anaknya didepan pintu.

” Pak Tito sudah tidur..?” tanya Handoyo

” Masuk dalam  dulu mas Handoyo dan bu Hanifah” Pak Kasidi mempersilakan masuk tamunya.

” Bu Yanti sudah sampai rumah kan pak…? tadi saya ketemu dijalan kelihatannya buru-buru…”

” Belum bu, kami masih menunggu dari tadi tapi anak saya belum sampai rumah kata pak Kasidi.

Bu Hanifah diam,  dia tak  mengerti apa yang sesungguhnya terjadi….jelas-jelas dia melihat bu Yanti dan berpapasan tapi dia tak menjawab pertanyaan bu Hanifah jangan…jangan…..oohhh..tidak..tidak…Ya Allah lindungilah bu Yanti berilah kabar kami seceptnya…hati bu Hanifah bergejolak tak karuan. pak Kasidi merenung sambil menyatukan cerita bu Hanifah dan dia melihat sendiri anaknya pulang tapi tak ditemui , dan Denok melihat  Yanti masuk di kamarnya , saat ini Tito tidur dikamar Denok. Pak Kasidi dan Narto shollat malam bersama memohon meminta pada yang kuasa untuk keselamatan anaknya, Narto shollat sambil bercucuran air mata dan mengikuti mertuanya  sebagai makmum ketika selesai shollat tangis Narto meledak. Pak Kasidi sebenarnya juga demikian tapi karena dia lebih tua dan lebih mawas diri mencoba menghibur menantunya, ” Yang sabar…ya Tok …bapak juga sedih mengapa Gusti Allah memberi ujian seperti ini pada kita..?! ”

” Pak Yanti mengandung anaknya sudah jalan empat bulan, dan dia harus banyak makan tidah boleh capek-capek apalagi fikiran berat, paakkk…perasaan Narto bener-bener tak enak..besok pagi Narto mau ketemu bu Anita teman guru di sekolahan tempat Yanti mengajar”

” Iya Tok…, bapak juga perasaan ini tak enak,”

” Besok  habis dari sekolahan Yanti Narto langsung izin ke kantor Narto untuk cuti dua hari dan langsung ke kantor Polisi, Titip Tito ya pak..?!”

” Iya Tok…akan bapak jaga Tito di rumah ” malam itu begitu sunyi…sekelebat bayangan yang mirip istrinya terhenti di pintu depan, bapak akan membukakan pintu…tapi Narto memegangi tangannya

” pak itu apaaa…? itu bukan manusia..bapak harus hati-hati..” terdengar suara yang tak asing lagi di telinga pak Kasidi maupun Narto ” Paakkkk….tolong Yantiiiii….Mas Narto…aku kangen Tito ..buka kan pintunya….” Narto mencoba memberanikan diri ” Yanti….ada apa dengan kamu..? aku bisa membukakan pintu tapi kamu jangan menunjukkan muka yang menakutkan..?”

” Mas Narto aku baik-baik saja ayolah bukakan pintunya ” pak Kasidi gak tahan menunggu dan langsung membukakan pintunya dan Yanti memakai rok panjang putih sambil membawa tas di lengan tersenyum pada bapak dan  suaminya, wajahnya yang pucat dengan rambut terurai biasanya digelung kalau sedang mengajar. Yanti masuk dan duduk di kursi tamu. ” Mas maafkan Yanti ya, juga bapak yang amat menyayangi Yanti boleh Yanti melihat Tito..? ” Narto mengetuk kamar Denok dan menyuruhnya  keluar sebentar kemudian Narto membopong anaknya dan yang barusan ulang tahun ke dua , Denok melanjutkan tidur lagi Yanti melihatnya dan menangis ” Sayang…maafkan mamah ya… Tito..mamah kangen nak….” Pak Kasidi tak menyangka anaknya menjadi Kuntilanak dan diapun berkata

” Anakku yang bapak sayangi, jika kamu dipanggil Allah dengan cara yang seperti ini maka terimalah dengan iklas bapak akan selalu mendoakanmu dan akan mencari jasadmu agar kamu tenang meninggalkan dunia fana ini”

” Bapak temukan jasad Yanti dan kuburlah dengan penuh do’a dan terimalah kematian Yanti dengan penuh keiklasan ” Yanti mencium Tito dan mengucapkan kata selamat tinggal, Yanti menatap orang-orang yang dicintainya lalu jasadnya menghilang, dan subuh segera datang

Baharudin bersama Jatmiko mengendarai angkot ngebut..seperti ada sesuatu yang membuat mereka kalang kabut.

” Jatmiko..ini dimana..?kok kamu malah nunjang-nunjang nyopirnya?”

” Ini gara-gara kamu aku diikuti perempuan yang kau bunuh  dan kau buang dijurang tadi”

” AAAhhhhh…apaan kamu ini, apa ada orang dibuang di jurang kok cepat sekali nongol ha..ha…ha…Ko…Ko…aneh kamu….” Tapi mobil angkot itu kelihatan selip dan gak bisa jalan, Baharudin melongok ke belakang jok..ban mobilnya masuk kelobang tiga perempat dalamnya…waaah sulit sekali mana hampir maghrib lagi…Baharudin mendorong mobil, Jatmiko menstater di spion terlihat Baharudin mendorong tapi disebelahnya perempuan itu ikut mendorong..sambil berceceran darahnya dari kepala ke seluruh mukanya….Jatmiko..ngoplok badannya gemetaran dan akhirnya menabrak batu..Jatmiko pingsan, Baharudin membangunkan Jatmiko tapi tetap diam tak bergerak. tiba tiba angkot bergerak sendiri atret ke belakang  Baharudin takut dan lari kerumah penduduk dia minta pertolongan, angkot tersebut mengejar ……. masuk kerumah penduduk. Haharudin bingung dia terantuk batu dan pingsan.

Pagi harinya baharudin sadar dia sudah berada di areal pemakaman dia linglung..lo..ini di mana..? Karena masih sepi Baharudin lari tunggang langgang kakinya lecet-lecet menginjak injak nisan dia jatuh bangun kemana arah larinya tak terkendali sampai akhirnya dia terpeleset  jatuh di jurang….. dan memeluk mayat Yanti lagi…Baharudin melihat kepala yanti yang ia pukul dengan batu besar hampir pecah dan muka Yanti tak beraturan serta perut Yanti yang ditusuk bertubi-tubi diangkot berceceran darah di angkot. Yanti masih melakukan perlawanan diangkot tapi karena dipukul pakai batu buat ganjal ban jika selip Yanti tak kuasa lagi melawan, Yanti diperkosa barkali kali padahal sudah meregang nyawa. Teman Baharudin si Jatmiko sudah mengingatkan.” Din kau apakan itu pacar kamu..aku hanya mengantar kemauan kamu dan pacarmu tapi dari tadi kamu berkelahi terus”

Baharudin terbayang yang ia lakukan kepada Yanti.” AAhh…masa bodoh” ia menendang mayat Yanti dan Yantipun terbangun, matanya penuh dendam  dan kebencian dan pakaian kerjanya sudah penuh darah  mendekati penendang tadi, Baharudin kaget dan dia mencoba berlari tapi kakinya kaku ..Yanti terbang dan menarik kepala Baharudin sepontan badannya ikut terangkat dan dilempar ke arah pohon besar. Baharudin badannya terjepit pohon tak bisa bergerak, pohon itu mencabik-cabik tubuh Baharudin dan menekan sampai dada Baharudin pecah. Yanti menangis…”Apa salah saya Baharudin…. mengapa kau membunuhku sekejam ini…..”  Yanti meratapi nasibnya dan kemudian Yanti lenyap, tapi tubuh aslinya masih terkapar di dibawah dengan wajah rusak parah. Jatmiko didalam angkot masih gemetaran dia berada di samping pekuburan…Jatmiko meminta tolong orang yang lewat dan mereka kesulitan mengeluarkan Jatmiko  yang terjepit setang mobil. Ketika warga melihat isi dalam angkot , mereka jijik banyak darah tertumpah berceceran di tempat penumpang dan warga melaporkan Jatmiko ke polisi, maka polisipun segera datang warga dilarang mendekat angkot itu karena segera di identifikasi dan tiem forensik sedang melakukan penyelidikan. Jatmiko dilarikan di Rumah Sakit terdekat dengan pengawasan polisi

Narto memamitkan Yanti disekolah dia tak menceritakan apa-apa, selain mencari istrinya yang hilang saat ulang tahun kedua anaknya Tito. Teman-teman Yanti berharap Yanti cepat ditemukan dalam keadaan selamat. Sementara di televisi tersiarkan berita ditemukan angkot penuh darah di Karangjati sopirnya sudah dibawa ke rumah sakit, sopir itu bernama Jatmiko sementara masih ditindak lanjutif motif  kecelakaan tersebut karena sopir masih trauma sehingga digolongkan ke kasus pembunuhan tetapi belum diketemukan korbannya , mendengar berita tersebut Narto segera ke kantor polisi dan melaporkan istrinya hilang sambil menunjukkan foto istrinya. Polisi segera menindak lanjuti kasus ini. Sementara diangkot polisi menemukan bukti sebuah hape dalam keadaan mati dan akan segera dibuka menunggu saksi-saksi serta tas kerja mungkin milik korban. Ketika tas tersebut dibuka disinyalir korban adalah seorang guru, tas tersebut langsung dikoreksi dan menemukan beberapa nomor tilpon. Polisi tidak menemukan KTP maupun SIM korban, bukti lainnya adalah sebuah sepatu tanpa pasangannya, dan buku-buku yang kotor terkena darah juga sidik jari dan diperkirakan sidik jari pembunuh.

Narto dan pak Kasidi shollat dan berdo’a supaya jenazah Yanti segera diketemukan, tangis kedua laki-laki tersebut tak henti mengalir terus, Tito mencari mamahnya ” mam..mam…mam..mamah…” Denok memberikan foto mamahnya pada Tito , foto itu di gigitnya dan diciumnya sampai foto itu lungset. Bu Anita sedang istirahat di kantor sekolah. Telepon berdering dan Anita mengangkatnya ” Hallo…….”

” Iya pak benar…..Apa pak…? ..Ya Allah ? Innalillahi wa innaillaihi roziun”

” Ibu Kepala Sekolah SMPN 78 Semarang atau wakilnya diharap kekantor Polisi untuk menindak lanjuti barang bukti” Anita langsung menemui kepala sekolah dan menceritakan kasus Yanti. Guru-guru langsung rapat dan amat berduka telah kehilangan seorang guru yang baik dan ramah itu. Murid langsung dipulangkan karena sekolah sedang berduka dan besok sekolah masuk seperti biasanya, Anita menelepon Narto suami Yanti karena mau dijemput suruh siap-siap. “Semoga ada perkembangan ya pak” Narto meminta restu mertuanya. Sampai di Kepolisian ditunjukkan bukti-bukti tersebut, Anita dan guru-guru menangis melihat bukti tersebut, Narto ingin memeluk tas itu tapi dilarang polisi karena ini barang bukti. Dari hasil penyidikan ternyata sidik jari tersebut milik Baharudin dan polisi segera ke rumah sakit Karangjati menemui sopir angkot tersebut.

Sopir angkot mau tidak mau bercerita kejadian sesungguhnya. Dan Polisi meminta dokter untuk membawa pasiennya karena dia sudah bisa diajak komunikasi. dan sudah kuat dan segera dilakukan olah TKP mulai saat Baharudin datang minta tolong mengantar pacarnya mau diajak ke mertuanya dan mengambil paksa bu Guru di sekolah dengan paksa  dan mengunci pintu angkot sampai menuju Karangjati memasuki pedesaan dan berhenti disini karena ia mau membuang sesuatu ternyata dia membuang wanita itu,  polisi segera mengecek lokasi mencari mayat tersebut. Akhirnya mayat Yanti ditemukan, Polisi menelepon ambulan untuk membawa mayat Yanti untuk divisum dulu di Rumah Sakit Karangjati sebagai laporan, selanjutnya silakan keluarga mengambilnya. Dan mayat Baharudin akan dicari besok lagi. Terpaksa Jatmiko ditahan karena melindungi kejahatan.

Sampai dirumah, Narto menemui bapaknya dan bercerita tentang Yanti dan besok pagi akan kita ambil mayat Yanti di Karangjati. Narto segera menemui pak RT dan meminta bantuannya karena mayat Yanti sudah diketemukan .

Selesai pemakaman diadakan pengajian Narto bersyukur istrinya sudah tenang di alam kuburnya.

 

Selesai