Cerbung

KUNTILANAK BAGIAN I- MENENGOK MASA LALU

October 13, 2018

Yanti dan Narto adalah pasangan kekasih yang berikrar untuk membina rumah tangga dan tak ingin ada yang memisahkan cintanya selain maut, Yanti sudah tidak memiliki ibu sejak dia berusia empat tahun dan hanya ayahnya yang bernama Kasidi yang membesarkannya sampai Yanti lulus SMA . Yanti kuliah lagi di UNNES sambil bekerja di Direck Selling Cosmetica, Narto barusan bekerja diperusahaan asing . Sebagai karyawan baru Narto termasuk karyawan yang loyal dan rajin menabung untuk membina rumah tangga dengan Yanti. Duatahun kemudian Narto diangkat menjadi karyawan tetap diperusahaan mebel Putra Nusantara. Pak Kasidi sudah pensiun dari kantor pos Semarang , setiap harinya dia merawat bunga dan membenahi rumah…sandaran hidupnya hanya pada anak semata wayangnya. Rasa haru dan bahagia pak Kasidi melihat anaknya di wisuda dan mendapatkan wiyata bakti dekat dengan rumah sebagai pengajar di SMPN 78 Semarang .

Narto melamar Yanti sebelum dia ditugaskan ke Pontianak untuk mensurvay kayu yang akan dikirim lewat Tanjung Emas. Keluarga Yanti dan Narto sebenarnya sudah menyetujui sejak mereka pacaran, tapi mereka tetap tak mau menikah sebelum punya pekerjaan yang pasti, mereka sepakat akan melangsungkan pernikahannya  sepulang Narto dari Kalimantan. Rumah sudah rapi dan siap dipakai hajatan  , rencana masakannya menggunakan jasa katering  Saodah. Pak Kasidi meminta bantuan adiknya  yaitu tante Saodah dan hanya tante Saodahlah  keluarga dari ayahnya , untuk membantu acara pernikahan anaknya , karena  Yanti sudah tidak punya ibu.

Selesai shollat Isyak, pak Kasidi meminta Yanti membicarakan langkah – langkah yang akan datang,

” Nduuukk..bapak ni sudah tua…apakah kamu besok akan meninggalkan bapak..?”

” Meninggalkan bagaimana to pak..?”

” Maksud bapak kalau kamu habis menikah apakah akan keluar dari rumah ini..?”

” Kalau mau bapak bagaimana..?”

” Kalau mau bapak, kamu tinggal di rumah ini, nemenin bapak sampai bapak ..dipanggil gusti Allah”

” Bapak , Yanti menurut baiknya saja, karena kerjaan juga deket rumah..dan nemani bapak itu wajib untuk Yanti.. tapi Yanti nunggu kabar dari mas Narto apakah menerima dengan iklas tanggung jawab Yanti ini..?”

Bapak merasa lega karena Yanti akan tetap bersamanya, menemani hari-hari tuanya. ” Yo wis nduuk, mung kuwi sing bapak fikirkan.”

Yanti terharu…. mendengar permintaan bapaknya, bagaimana seandainya Yanti jauh dari bapaknya tentu bapak akan menderita. Ternyata Narto disana cepat sekali cuma satu bulan dan ia akan segera pulang ke Jawa dan bisa memusyawarahkan keadaan ini.

Yanti mendapat perintah dari kepala Sekolah  untuk mengawal murid-murid ikut lomba Seni di Gedung Dharma Wanita , di gedung itu ia ketemu dengan teman lama sewaktu SMA Baharudin namanya, laki-laki itu cinta berat sama Yanti, omong punya omong laki-laki itu mengantar istrinya pengusaha catering  untuk mengantar sneck buat panitia lomba maupun pesertanya , Yanti jengkel sekali pada laki-laki itu yang selalu menggoda dan merayunya. Tapi ia sudah mengubur dalam-dalam masa lampau itu. Yanti fokus dia tak ingin mengingat-ingat  masa itu lagi kini dia sedang memberikan semangat untuk anak didiknya.

Sore hari ketika Yanti sampai rumah ia kaget melihat calon suaminya tidur di kamar pak Kasidi, sementara pak Kasidi sedang shollat Asyar

Yanti mendekati Narto sampai di pintu dan memanggilnya pelan,” Mas Narto  ?!”

Pak Kasidi menyelesaikan shollatnya dengan bersalam, “Biarkan Narto istirahat dulu nduuk..”

Yanti menghentikan langkahnya ” Gih pak..” Yanti kembali ke kamar dan segera membuatkan kopi untuk bapaknya dan Narto, hatinya berbunga calon suaminya sudah pulang.

Mencium bau aroma kopi Narto terbangun dan menuju dapur Yanti melihat Narto dan mencium tangannya: ” Mas ini kopinya tapi mending mandi dulu…bagaimana..?”

” Iya ..aku mandi dulu ” kata Yanto sambil tersenyum pada pak Kasidi, Yanti menyiapkan Handuk dan sarung, karena pakaiannya belum di keluarin masih di dalam kopor.

” Ini mas adanya sarung dulu …….selimut Yanti kalau tidur” Yanti tersenyum , dia juga persiapan mandi karena hari sudah sore.

Ketika malam tiba Narto berbicara pada mertuanya kalau nanti habis menikah dia akan tinggal disini bersama bapak, karena  belum ada biaya untuk anggaran rumah, dan pak Kasidi menerimanya,” Gak usah kalian pindah rumah toh rumah ini juga milik Yanti, kalau kalian merasa kurang besar ya bangun saja tanah sebelah masih luas, atau digabungkan jadi satu kan malah lebih baik.” Narto merasa nyaman karena untuk rumah tangganya sudah terpenuhi tinggal ia menjaganya dan merawatnya serta melindungi orang-orang yang dicintainya.

” Pak saya sudah bilang sama ibu kalau saya sudah berada di Semarang, dan saya ke rumah bapak jadi nanti saya akan pulang ke rumah keluarga saya menemui orang tua dan mengurus pernikahan kami”

” Iya ..itu harus diutamakan  karena kamu anak terakhir dari keluarga pak Prapto jadi bahagiakan mereka dulu sebelum kamu meninggalkan rumah keluarga.”

” Yanti masmu mau pulang, tolong kopornya dibawakan” Pak Kasidi memanggil Yanti untuk mengeluakan kopor dan barang yang Narto  bawa.

” Dik Yanti, itu oleh-oleh biar ada di sini, oleh oleh yang satunya biar mas bawa kerumah untuk keluarga” Yanti mengeluarkan semua yang ada biar Narto yang memberikan kepada bapak oleh-oleh tersebut. Dan Narto memberikan oleh-oleh tersebut kepada mertuanya.

” Pulangnya apa diantar Yanti nak Narto..?” pak Kasidi bertanya pada Narto

” Saya di jemput mas Punto , kakak saya pak…sekarang sudah perjalanan menuju ke sini paling sepuluh menit lagi sampai” begitu jawab Narto. Narto dan Yanti tinggal  satu kelurahan di Randu Alas Yanti  di jalan Anusopati dan Narto di jalan Damarwulan. mereka berkenalan ketika ada kegiatan Remaja di kelurahan dan berkumpul dalam Karang Taruna.

Mas Punto sudah sampai ,Narto segera pamit pada mertuanya dan Yanti

” Hati-hati mas..?!” Yanti mengingatkan

“Asalamu’Allaikum pak, dik Yanti ..”

” WaAllaikum salam ” jawab mereka berdua

Karena hari pernikahan semakin dekat, maka Yanti meminta cuti selama 10 hari untuk pernikahan nya, tapi diberi 15 hari oleh Kepala Sekolah. Yanti gembira sekali karena Undangan sudah tersebar dan kurang dua hari lagi hari “H” nya.

Pesta pernikahan Narto dan Yanti berjalan lancar, teman-teman Narto dan guru-guru menghadiri nya, rasa bersyukur dan selamat selalu terucap di bibir masing-masing tamu membuat hati pasangan pengantin berbunga dan penuh kebahagiaan.

Setahun kemudian Yanti melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama  Tito Hanggoro dipanggilnya Tito, pak Kasidi bahagia sekali memiliki cucu laki-lakinya, tak ada kebahagiaan yang terindah selain menimang cucunya.Yanti dan Narto segera mencari pembantu untuk menjaga anaknya selama  Yanti mengajar lagi.

Yanti diantar suaminya ketika berangkat mengajar, bulangnya naik angkot sendirian dan Yanti ketemu Baharudin di dalam angkot, perasaan takut tiba-tiba menyelimuti dirinya apalagi  ketika penumpang turun Baharudin mencoba pindah duduk mendekati Yanti, baharudi selalu bertanya-tanya tentang keluarganya dan anak-anaknya, Yanti nggak enak karena banyak orang yang mendengarkan pembicaraannya sehingga kelihatan Yanti ketus manjawabnya, sehingga Baharudi merasa dilecehkan.

” Kamu sekarang tambah sombong Yan…?!” hardik Baharudin

” Enggak Din, aku sama seperti waktu dulu ketika mengenal kamu ” bantah Yanti

” Kamu tahu sampai saat ini aku masih sangat..sangat mencintaimu…” Baharudin agak keras mengutarakan hatinya.

” Sudahlah Din, kita ini belum berjodoh…lupakan masa-masa yang lalu” Yanti mencoba menenangkan diri karena Baharudin kelihatan mulai emosi.

” Aku akan ke rumahmu sekarang ” Baharudin memaksa Yanti untuk menerima kedatangannya dan menguntit terus, Yanti jadi takut untuk turun..padahal dia harusnya turun tadi. Ketika angkot berhenti  ada penumpang naik dan ternyata yang naik tetangganya bu Hanifah.

” Eeeh Ibu Guru , mau kemana bu..?” tanya bu Hanifah , Yanti bingung mau cari alasan

” Ini buu..mau tengok temen sakit di Halmahera ” jawab Yanti

” Owh ..sekalian bareng kalau begitu saya juga mau ke Halmahera…” jawab bu Hanifah

” Iya bu boleh..” Yanti merasa aman dan amat senang karena ada ibu Hanifah menemaninya

” Ini kita sudah sampai ayuk kita turun ” Bu Hanifah mengajak turun dan Yanti mengikutinya.

“Ini kita turun disini ya bu Guru..?” tiba-tiba Baharudin berkata demikian kepada Yanti

Yanti diam saja, selagi Baharudin turun Yanti bilang sama bu Hanifah ” Bu tolong saya..orang ini selalu mengikuti saya..lindungi saya …saya mau pulang..”

Bu Hanifah, heran …ternyata bu Yanti diikuti orang laki-laki ini, masyaAllah…bu Hanafi segera mencari akal yang cepat. ” Bu mampir ke rumah Sabilla adik saya dulu monggo…?!”  Yanti menurut kepada Bu Hanifah

Sementara Yanti mengikuti bu Hanifah kemana dia pergi, Keringat dingin mengalir seluruh tubuhnya dan ketika sampai dirumah Sabilla adiknya bu Hanifah kepala Yanti menjadi pusing dan berkunang-kunang…., Yanti pingsan. Baharudin bingung dan ikut memegangi Yanti, suatu kesempatan Baharudin meraba seluruh tubuh Yanti dan Bu Hanifah melihatnya, spontan bu Hanifah marah ” Hee…anda itu siapa…?!! berani beraninya mengambil kesempatan saat orang sedang susah ”

” Saya ini temannya bu Guru Yanti..?!” Baharudin masih ngeyel

” Teman apa…!! mana KTP kamu..?” bu Hanifah meminta KTP Baharudin tapi Baharudin mengatakan tidak membawa KTP.

” Ya sudah bu saya mohon diri saja…maafkan bila membuat ibu marah” Baharudin langsung keluar dan mencari angkot.

Bu Hanifah jengkel sekali melihat laki-laki itu” Kasihan kamu Bu Yanti…kok bisa-bisanya diikuti orang gila macam itu” Yanti dimasukkan ke dalam rumah dan dikipasi juga diberi minyak telon. Adik bu Hanifah menanyakan kenapa sampai bisa seperti ini..? lalu bu Hanifah menceritakan pertemuannya dengan bu Yanti sampai bu Yanti bisa main  ke sini. ” Ya Allah…kasihan sekali bu Yanti…coba di telpon suaminya mbak Hanif ?” adiknya bu Hanifah mengingatkan.

” Sudah nggak usah…nanti saya antar saja kerumahnya naik angkot sekalian kamu ke rumahku ya…?” adiknya bu Hanifah menyetujuinya :” Ya sudah kita antar saja bu Yanti kerumahnya ”

 

 

Bersambung…..