Cerbung

KONTRAKAN KAMPUNG LEYANGAN episode 6

August 9, 2020

Susiati membersihkan motornya bersama sugeng sepulang berbelanja pada hari Minggu , motor suaminya dipinjam mas Pandu untuk ngojek karena motor mas Pandu remnya blong sedangkan pelanggan sudah menungguinya maklum tetangga sendiri yang dianter yaitu mas Abbas yang mau beli pewangi pakaian, motor Abbas dipakai pak Rodiat dan istri kondangan dan belum pulang-pulang , sedangkan Angga main ketempat Arnold sambil membantu memasukkan kacang dalam kemasan. Kedua anak itu senang sekali karena tak ada yang mengganggu dan mbak Yeti orangnya tak banyak ngomong lagipula masih asik bikin arem-arem. Susiati memberikan belanjaannya pada mbak Yeti karena mau sukuran dan menyiapkan nasi kuning . Telur dadarnya banyak sekali dan juga abon juga kering tempe yang manis apalagi nasi kuningnya gurih banget. Sukuran Susi sederhana saja tapi nikmat sekali. Olahan mbak Yeti mendapat acungan jempol , Susi ikut mengolah menurut arahan mbak Yeti, ” Mbak Susi sekarang ulang tahun yang keberapa lilinnya mana mbak ? ” mbak Yeti meminta lilin ulang tahunnya. ” Oh iya sebentar ” buru-buru Susi mengambil lilinnya. Angka dililin itu menunjukkan 25 tahun. Yaaa…Susi memang masih sangat muda tapi hidupnya sederhana dan suaminya Sugeng selalu mengingatkan agar hidup tidak boros dan jangan suka pamer. Susi merasa orang kecil, pegawai swasta yang tak memiliki pensiun lain dengan ayahnya yang pensiunan Perhutani sampai saat ini masih menerima gaji pensiunan dan Susi dituntut mandiri tak ingin menyusahkan orang tuanya. Jam 12 siang masakan sudah siap tetangga kontrakan sudah pada datang . Memberikan doa kepada istrinya Sugeng agar dilancarkan rezekinya dan dimudahkan dari kesulitan , lalu mereka menikmati dan mengucapkan selamat ulang tahun. Pak Rodiat dan bu Alfiah menyusul ikut mengucapkan, Angga juga ikut mengucapkan . ” Kue tartnya lezat ya buk “, begitu Angga menikmatinya . Bu Alfiah senang kini Angga sudah berani mengucapkan penilaian secara langsung dan mulai rajin berjalan meskipun pelan.Seminggu kemudian Susiati dipanggil pak Andrean untuk merencanakan sesuatu bersama bu Paula dan pengacaranya lalu segera meeting dengan pegawai stafnya.Susiati kini diangkat menjadi Sekretaris pak Andrean, bu Paula sebagai komisaris dan pak Andrean sebagai direktur dihadapan notaris dan pengacaranya dilakukan perubahan akte perusahaan dan Susiati diberikan hak untuk mengatur manajemen perusahaan . Susiati sebenarnya amat takut dengan tugasnya tapi pak Andrean dan bu Paula alias Cik Lan sangat mempercayainya .

Satu tahun kemudian produksi tepung tapioka Melati meningkat karena banyak yang membutuhkan dari daerah daerah untuk membuat kerupuk, yang memakai bahan tepung tapioka. Susiati bersama pak Andrean menuju daerah penghasil kerupuk tersebut sekitaran Purwodadi, Blora dan Cepu sambil mencari bahan baku singkong yang mulai langka. Mereka ada yang beralih ke gandum karena tapioka melangka dan ini amat merugikan pabrik Tepung tapioka Melati . Susi mulai mengurangi karyawan yang kurang efektif yang sudah mulai menua dan mencari tenaga yang muda. Susiati berfikir memeras otak untuk menambah penghasilan pabrik . Suaminya Sugeng mendampingi istrinya dan bertanya ” Dik, kapan ya kita punya momongan, pingin banget rasanya …itu Zuraida( Rida ) sudah hampir masuk paud dan mbak Farida lagi hamil muda”. Susi memandangi Zuraida dan memanggilnya agar mau masuk ke kontrakannya sambil mengacungkan coklat wafer dan Rida menuju ke Susi hendak mengambil wafer tersebut. ” Rida ayo sini wafernya enak sekali “. Rida mendekat dan Susi mendekapnya lalu menggendong Rida. ” Mas sebenarnya aku juga pingiiin banget punya momongan , kapan ya Allah mengabulkan permintaan kita ?”. Air mata Susi mengalir , Ia kepingin cuti tapi perusahaan amat membutuhkan dirinya apalagi sekarang lebih dipercaya mengelola lahan tanaman karena sulit mendapatkan ketela pohon sebagai bahan tepung tapioka. Ketika ada pohon singkong yang siap panen Susi melakukan pendekatan, ternyata kebun itu sudah ditebas pembuat getuk goreng khas Banjarnegara , seluruh wilayah Purwodadi ternyata dikuwasai gethuk goreng mendem roso . Susi amat kecewa demikian juga pak Andrean. Tiba-tiba Susi menemukan ide malahan lebih dekat dengan pabrik di Leyangan Semarang, Susi minta pulang saat itu juga dan pak Andrean menyetujuinya. Sampai rumah Susi memberikan pengumuman kepada masyarakat tentang budidaya singkong dan esok harinya diadakan musyawarah desa membahas budidaya singkong.

Minat masyarakat untuk mengikuti anjuran pak Lurah membantu peluang pabrik pak Andrean karyawan yang sudah purna tugas mengolah lahannya ditanami singkong dan hasilnya dijual ke pabrik sedang anak-anak mereka bekerja ada yang bekerja di pabrik sambil bertani, mbak Rosa begitu gencar mendidik putra-putri Leyangan untuk meningkatkan mutu daerahnya dan mengurangi pengangguran.Mbak Rosa yang diangkat menjadi humas pabrik tepung tapioka Melati sering berhubungan dengan pak Lurah yang sangat membantu langkah pak Andrean dan bu Paula. Ketika jalan rusak dan jembatan putus pabrik Tepung Tapioka Melati membantu memperbaiki sampai selesai. Susiati dan Rosa bekerjasama memajukan pabrik dan didukung pak Lurah Hamidi. Dari pembicaraan Susi dan Rosa, membuat pak Lurah Hamidi ternganga betapa cerdiknya kedua wanita tersebut yang berkeinginan menaikkan taraf hidup masyarakat penduduk Leyangan. Rosa dan Susi segera pulang ke pabrik saat istirahat dan menemui pak Andrean sambil memberikan plakat ucapan terimakasih Kelurahan Leyangan atas bantuan Pabrik Tepung Tapioka yang ikut mengembangkan Sumber Daya Manusia sehingga berwawasan luas dan manaikkan pendapatan Kelurahan Leyangan.

Bahan baku tepung tapioka mendapatkan stock yang aman buat satu tahun dan seterusnya. Hal ini membuat jengkel Suharno bagian logistik Gethuk Goreng mendem roso karena ingin menguasai angsa pasar gethuk goreng se Banjarnegara dia merayu penduduk agar dijual padanya dengan harga tinggi tiga kali lipat yang membuat tergiur hati penduduk namun Siman seorang petani yang jujur dan berhati-hati, dia diam-diam lari menuju kelurahan dan melapor pada sekretaris desa. : ” Pak Sekdes bagaimana ini ada orang dari Banjarnegara mau membeli ketela pohon tiga kali lipat harganya dari biasanya”. Pak Sekdes Maimun menenangkan pak Siman, ” Saya maupun pak Kades percaya masyarakat tak akan goyah tentang harga, terima kasih masukannya pak Siman dan tolong awasi orang pengganggu tersebut ” Tak lama Suharno menemui pak Sekdes Maimun dan meminta tolong masukkannya. ” Begini mas Harno, pabrik tepung tapioka melati ini sudah 15 tahun berdiri dan mulai berkembang 5 tahunan. Bukan kami melarang mas Harno memanen hasil kebun masyarakat tapi karena ini merupakan sumber pendapatan rakyat Leyangan dan dikerjakan penduduk setempat.Kami harus menjaga dan menstabilkan pendapatan rakyat agar makmur “. Mas Harno meminta data daerah penanam singkong tapi pak Sekdes tidak memilikinya untuk kelurahan lain pak Sekdes hanya mengamankan stock Leyangan. ” Mas Harno Banjarnegara amat luas dibanding Leyangan, kami bisa menjaga stock wilayah kecil kenapa mas Harno tidak bisa bekerja sama dengan staf kelurahan?”. Mas Harno diam dan manggut-manggut.Pak Sekdes Maimun menelepon Susiati dan menceritakan masalah Mas Harno, Susi minta Mas Harno menghadap ke Pabrik Tepung Tapioka sekarang juga dan menemuinya diikuti pak Sekdes Maimun. Dalam pembicaraan tersebut Susi bersama Rosa menjelaskan masih ada kebun hari ini yang siap di panen sedangkan kebutuhan untuk tepung sudah surplus dan Harno mencoba menawarkan harga tiga kali lipat dan plus kesejahteraan karyawan. Susi dan Rosa mempersilahkan mas Harno istirahat bersama pak sekdes . Susi dan Rosa menuju ruangan pak Andrean untuk konsultasi. ” Ya silahkan saja asal bahan baku kita tak keteteran “. Maka dibuatlah MOU kerjasama Pabrik Tepung Tapioka Melati dan Gethuk Goreng Mendem Roso dan daerah yang akan dipergunakan adalah Desa Beji sebulan tiga kali mereka memanen singkong daerah Beji mulai esok hari dan dua minggu kedepan.

Pak Andrean bangga memiliki dua wanita yang hebat dalam bekerja minggu ini transferan perusahaan melebihi pemasukan dan pak Andrean memberikan beasiswa untuk Susi dan Rosa menimba ilmu pendidikan di perguruan tinggi kelas sore beserta bonus . Pak Sekdes diberikan sepeda motor atas perhatiannya pada pabrik. Karyawan diberikan bonus dan berpiknik. Susi mengajukan cuti tahunan sekalian kuliah sore dan selalu konsen pabrik setiap hari. Susi cuti sebulan kemudian hamil, tapi kata dokter hati-hati karena Susi ingin kuliah, menghadapi masalah ini akhirnya Susiati mengurungkan niatnya untuk kuliah dan tetapcuti agar janin sehat.

Bersambung…