Saat ini, aku ikut bersama Bude setelah Papa menikah lagi. Akhirnya, aku diambil Bude ikut dan tinggal di Semarang.

Aku tidak tahu, belum dua bulan kepergian mama. Papa, kembali menikah. Papa menikah, tanpa meminta persetujuan dariku dan tidak memberitahukan. Ada sedikit kecewa yang kurasakan, waktu tahu papa telah menikah lagi.

Saat ini aku berusia lima belas tahun, di usiaku yang sekarang ini, bukankah aku, sudah berhak untuk tahu dan berhak memutuskan? Akan tetapi, papa tidak pernah menganggap aku ada. Tanpa terasa air mataku jatuh di pipi.

“Andai mama masih bersamaku, mungkin ini tak ‘kan pernah terjadi.”

“Sabar Nak, sabar. Ada Bude Yati yang akan menemanimu.” Bude Yati, menghapus air mataku.

Hari-hariku kini, begitu sunyi.

“Mama, aku rindu Ma.” Kutatap foto Mama yang ada di tanganku.

Sebulan, sebelum kepergian mama, masih ada rasa bahagia yang kurasakan kala itu. Namun, karena penyakit kanker otak yang mama derita, selama enam bulan terakhir ini, menyebabkan mama akhirnya pergi untuk selama-lamanya.

“Hesti, sabar ya, Nak.”

Bude Yati duduk di sampingku.

“Bude, mengapa ini terjadi pada Hesti? Mengapa?”

“Nak, mungkin ini ujian dari Allah. InsyaAllah, Bude akan menganggapmu seperti anak Bude sendiri.”

Aku masih tidak mengerti, mengapa papa berbuat seperti ini. Saat ini, hanya air mata yang menjadi saksi kesedihan yang kurasakan.

Hanya air mata, yang menemani hari-hariku. Tiap tetesan air mata ini pun seakan ikut menjadi saksi bisu. Mengapa papa, dengan mudahnya melupakan mama? Mengapa papa, berbuat ini padaku? Mengapa?

Hatiku berontak, sejujurnya aku ingin berteriak untuk menghilangkan kekesalan hatiku. Papa, aku tidak mengerti mengapa secepat ini papa berubah.

Papa, bukan lagi papa yang kukenal dulu. Papa yang dulu penyayang. Namun, kini semua sifat papa berubah 180 derajat. Bisik batinku menangis.

Tak pernah terlintas dalam pikiranku, papa akan berbuat seperti ini. Bukan cuma itu, papa tidak ingin membawaku ikut tinggal bersama. Aku pun tak tahu, apa alasan papa, bisa sampai setega ini.

“Sayang sudahlah, jangan menangis lagi.”

“Bude, makasih karena Bude sudah- menganggap Hesti sebagai Anak Bude.”

“Nak, sampai kapan pun Bude nggak akan pernah meninggalkanmu. Bude, akan selalu ada untukmu Nak.”

Aku bersandar di bahu Bude Yati.

————–

Perlahan kesedihan mulai dapat kulupakan, aku pun mulai kembali melanjutkan studiku yang sempat terhenti.

Sekarang, aku tak peduli lagi. Bagiku, papa sudah kuanggap hilang dalam hidupku.

Meski tanpa papa, aku masih punya Bude yang menyayangiku dan beliau sudah menganggapku seperti anak sendiri.

Bude adalah pengganti mama, kasih-sayang beliau begitu tulus padaku. Bude selalu ada waktu untukku. Namun, bagaimana pun mama takkan pernah tergantikan di hati.

Akan tetapi, Bude dan mama, dua orang yang begitu berarti dalam hidupku. Disaat aku sedih, bude mampu menghapus kesedihanku dan dikala air mata ini berderai, Bude juga mampu menghapus air mataku.

Hingga satu hari, papa datang memintaku pada Bude Yati. Ia ingin agar aku ikut bersamanya. Karena kini, papa sadar semua kesalahan yang dilakukannya padaku.

Papa ingin menebus kesalahannya, karena telah menelantarkanku dulu. Kini papa menyesali semuanya. Namun, mengapa tidak dari dulu papa melakukannya?

Aku kecewa, kecewa karena setelah sekian lama baru papa mengambil keputusan ini. Setelah, hati ini terluka, papa baru mau menyadari semuanya.

“Hesti, maafkan Papa sayang.”

Aku hanya terdiam dan kurasakan hati ini kembali hancur. Seketika air mata ini kembali berderai di pipiku.

“Maaf Papa, maaf. Aku tidak bisa,” ujarku, tanpa melihatnya.

“Bukankah Papa, sudah meminta maaf Nak?”

“Iya, Hesti sudah memaafkan Papa. Namun, bukan berarti Hesti harus ikut Papa lagi.” Kuhapus air mataku.

“Nak, apa alasan kamu Nak?” Papa menatapku.

“Papa, Hesti kecewa karena mengapa baru sekarang, Papa baru menyadarinya? Maaf Papa, Hesti sudah memutuskan untuk tinggal bersama Bude Yati di sini.”

“Tolong, beri Papa kesempatan untuk menebus kesalahan Papa. Kamu, mau ikut bersama Papa, ‘kan Nak?”

Papa, terus memohon padaku.

“Tidak Pa, keputusan Hesti sudah bulat. Hesti, akan tetap tinggal bersama Bude di sini!” Aku meninggalkan Papa yang masih mematung di hadapanku.

Maaf Papa, sudah cukup penderitaan yang kurasakan, aku tidak ingin salah dalam mengambil keputusan.

Aku lebih baik memilih tetap tinggal bersama Bude Yati, ketimbang ikut Papa. Aku berujar lirih.

#Selesai