Cerbung

JURAGAN UNTIR-UNTIR KEPUNTIR CINTA episode 6

October 11, 2019

Bos Sriti Kosmetik pak Andreas memberikan bingkisan kecil pada Ramli karena perusahaan kosmetiknya laku keras dan selanjutnya membicarakan sesuatu pada ibu Rani disusul pak Nanang mengikuti pembicaraan karena bu Rani tak bisa memutuskan sendiri permintaan pak Andreas. Ramli sedang dirias Ivan sambil melihat gambar foto ksatria Baja hitam dan benar-benar mirip banget, Ramli bergaya di depan pak Andreas bak Ksatria Baja Hitam beneran dengan memakai pedang mataharinya serasa kuat, perkasa dan tangkas pak Andreas bertepuk tangan dan memperhatikan kostum Yang sempurna ukurannya pas banget. Pak Andreas berbicara pada Ivan tentang kosmetik sritinya Dan kelihatannya amat puas dengan jawaban Ivan dan minta di foto bersama crew Rani Intertain. ” Oke mas Ramli saya tunggu jawabannya Yang akan disampaikan ibu Rani ” kata pak Andreas sambil berjabat tangan karena segera berangkat ke Singapore malam ini. Pak Andreas sudah pulang kini bu Rani rapat berlima membicarakan hasil perundingan dengan pak Andreas dan pak Nanang. Bu Rani memberikan kabar kalau Sriti Kosmetik sedang diundang di Singapore dalam rangka peluncuran kosmetik pertama di Hotel Patrajasa mendapat perhatian dan tawaran kerja sama dari Singapore dan Hongkong sebagai kosmetik Asia yang nyaman dipakai dikulit. Dan mereka menginginkan model Ramli memperagakan kosmetiknya, juga Ivan dan Sisca yang kompak memberikan masukan pada Ramli maka doakan semoga pak Andreas bisa memenangkan dan mendapat kesempatan bercokol di kancah Asia. Dan kita siap-siap menentukan hari terutama Ramli, Yang sedang kuliah harus bisa menentukan dan menghitung hari yang tepat kita ke kancah International mereka bertepuk tangan semua menanti kabar pak Andreas. Sementara Ramli berdoa semoga Semesteran didahulukan sebelum menginjak kancah International. Ramli menghitung tanggal dilaksanakan smesteran yang ternyata kurang Lima belas hari lagi. Bu Rani minta tolong Ramli menjemput anaknya Saraswati, dan bisa langsung pulang kalau sudah selesai. Ramli segera berangkat sementara bu Rani bersungut-sungut menerima telpon dari Saraswati anaknya karena masih ada keperluan dengan Ramli. Ivan memberesi paralatan kosmetiknya, hati Ivan dongkol karena Saraswati memanfaatkan ibunya untuk mengajak Ramli jalan, padahal Ramli ada janji sama Ivan dan Sisca untuk makan malam dengan adik-adikmya di Gelael. Ramli sudah sampai di rumah praktek dr. Saraswati di Gajahmada tapi disana masih banyak pasien, Ramli menelepon dr.Saraswati , Ramli disuruh nenunggu pasien keluar dulu dan dan Roni memanggil Ramli Sarwo Edy memasuki ruang praktek. Para pasien melihat hadirnya Ramli pada minta jabat tangan ” Mas Ramli ternyata pasien dokter Saraswati…?” celetuk salah satu pasien dan Ramli mengangguk dengan sopannya. Dokter Saraswati menyambut tangan Ramli dan membawanya masuk. ” Pacarnyakah…?” guman pasien yang saling berpandangan dan pada bertanya sama mas Roni asisten pasien dr. Saraswati. ” Maaf bu, pak, mbak saya kurang tahu..beliaunya baru tadi sore sudah bersama dan keluar lagi dan sekarang balik lagi…maaf saya kurang tahu…” Jawaban mas Roni kurang memuaskan hati pasien lalu mereka pada iseng mendengarkan pembicaraan mereka, saat itu Ramli tengah mendapat telepon dari Laras adik Erlita, ” Iya Ras kenapa…? besok pagi kita sama-sama ke kampus ya…jam lima pagi aku dah sampai rumah. ” penguping itu manggut-manggut. Suara dokter Saraswati terdengar” Baiklah kalau begitu aku tunggu kamu disini sampai kamu jemput. ” Penguping itu kembali ke tempat duduk mendengar sepatu mendekati pintu kaca. Dokter Saraswati mengantar keluar Ramli sampai mobil jalan. Dokter masuk lagi dengan senyum cantiknya, mas Roni melanjutkan memanggil nama pasien lagi.

Ramli menelepon Lusi agar siap di lantai satu bersama adiknya Ambar, lalu menelepon Sisca dan Ivan. Ramli melaju ke Peterongan lantai satu yang sudah ditunggu adik-adiknya juga pak Sarwo. ” Jangan malam-malam Ram nanti ibumu sendirian gak ada anak-anaknya”. Tapi dijawab ketus Ambar: ” Kan ada bapak yang nemenin….?!” Pak Sarwo baru sadar kalau anak-anaknya sudah mulai membutuhkan kegiatan yang lainnya pula. sambil melambaikan tangannya pak Sarwo bilang ” Hati-hati” dan kembali naik ke lantai dua melayani pelanggan. Di Gelael Thamrin lantai dua mereka makan KFC kali ini yang traktir Sisca, ketika hendak makan Ramli melihat dosennya Bu Ariyanti bersama anak gadisnya sedang memesan makanan , Ambar meminta Sisca membelikan minuman ice cream karena bosen dengan minuman sprite. Ramli mengantarkan Ambar membelikan ice cream dan bu Ariyanti melihat Ramli lalu mencubitmya. ” aow…” Ramli kaget dan membalikkan tubuhnya. Bu Ariyanti tersenyum dan berkata ” Sama siapa mas Ramli..?” Ramli yang gak begitu kaget langsung menyapa, ” OOOhh malem buk….ini sama adik-adik dan temen kantor, ibuk sama siapa..?” ” Ibu sama Niken anak sulung ibuk , kenalkan ini Niken..” Niken memandang Ramli dan bersalaman , Ambar membayar dan mengajak kakaknya duduk lagi. Bu Ariyanti mengikuti Ramli dari belakang diikti Niken dan duduk di kursi samping meja Ramli yang masih kosong. Ivan kasihan melihat Ramli yang sedikit sekali makannya kerena sambil ngobrol sama dosen dan Niken, Ivan membelikan satu mug buat oleh-oleh Ramli biar dimakan di rumah. Dokter Saraswati menelepon Ramli ” Iya bagaimana dokter ?” Saraswati tidak jadi minta di jemput karena calon tunangannya dokter Punto sudah menjemput.” Oh ya..baik…baik dokter selamat beristirahat, selamat malam ” Ramli amat lega mendengar kabar baik ini. Niken minta berfoto bareng sama Ramli sambil makan KFC , Bu Ariyanti senang Niken anaknya sudah mau bicara lagi dan mengobrol dengan Ramli dan dirinya. Mereka pulang bareng dipintu keluar Niken sekali lagi minta di fotoin sama Ramli dan Ibuknya dan Lusi membantunya, Mereka pisah di parkiran. Ramli mengantar Ivan dan Sisca di kantor karena mobilmya di kantor dan memberikan satu mug KFC untuk yang dirimah. ” Makasih Sis , makasih Van KFCnya dan traktiran buat kluargaku ” ” Sama-sama Bro..lain waktu gantian lagi ya…?” sahut Ivan ” Tentu sob tak usah khawatir bye….” Ramli menunggu pak Kasan membukakan pintu dan sekalian berpamitan. Ivan dan Sisca juga langsung pamitan karena sudah malam. Sampai rumah ibu menunggu kepulangan Ramli dan adik-adiknya . ” Buk.. ini KFC untuk ibuk, bapak, dan nenek .”. Ambar meletakkan di meja makan, dan memberikan ice cream pada bapaknya. ” Trima kasih anak manja bapak..” bapak menggoda Ambar yang langsung meminta buku keuangan dan langsung dikerjakan bersama Lusi kakaknya. Ramli mendapat telpon dari bu Rani dia bergegas ke teras agar tak berisik.

Bu Rani mengabarkan kalau pak Andreas terpilih sebagai pesaing yang ulet dan berhak tahun ini mengembangkan sayap International dalam masa uji coba kelayakan bisnis. ” Minggu depan kita diundang ke Singapore oleh Mister Porlanto ketua asosiasi bisnis kecantikan tolong kabari Sisca dan Ivan karena mereka sekarang harus mengawasi kamu secara ketat dan kamu harus lebih rapi serta selektif dengan baju yang kamu kenakan setiap saat, okey Ramli semoga kita lebih sukses dari yang sekarang.” begitu kabar baik yang didengar dari bu Rani dan Ramli langsung sujud syukur mencium lantai teras rumahnya. Ibu yang mencari Ramli melihat anaknya bersujud langsung masuk ke dalam lagi menanti reaksi Ramli selanjutnya. Ramli menelepon Sisca lalu Ivan, Ramli sangat senang mereka rupanya menunggu telepon yang akan memberikan tanggung jawab lebih pada dirinya dan perusahaannya. Ibu menuju ke Ramli dan Ramli memeluk ibunya matanya berkaca-kaca ..” Ibu…doakan Ramli lancar usaha dan kuliah Ramli aman sampai lulus” Ibu mendekap anaknya dan membelai tambut Ramli.” Setiap saat ibu selalu berdoa untuk anak-anak ibu dan keluarga ” Ibu membawa masuk Ramli dan menyuruh menceritaka apa yang barusan ia alami. ” Seminggu lagi Ramli akan ke Singapore pak, doakan kakak sukses ya…” Ramli memeluk Ambar yang begitu senang mendengar kabar tersebut . “Ambar besok-besok diajak ke Singapore ya kak..” ” Tentu semua akan kakak ajak ” Ramli memberikan perhatiannya pada keluarga juga. Jam 04.30 selesai shollat subuh Ramli minta izin ibu dan neneknya untuk ke Banyumanik mengantar sepatu Erlita yang ketinggalan, dan langsung ke kampus karena Ramli meminta dispensasi ujian semester diajukan dan tak menunggu hari tenang mumpung Bu Ariyanti sebagai dekan menyetujuinya. Laras sudah menunggu di depan rumah ketika klakson dibunyikan dia kegirangan dan memanggil ibunya, ibu Laras mengucapkan terima kasih atas bantuan Ramli, dan mengijinkan Laras ikut sekalian berangkat sekolah.

Bersambung…