Cerbung

JURAGAN UNTIR-UNTIR KEPUNTIR CINTA episode 1

May 11, 2019

Ramli menatap sepeda motornya dengan tajam, ia heran kenapa ban motornya kempes padahal baru saja dipompakan, terpaksa ia mendorongnya sampai ketemu tempat tambal ban. Gandum 2 zak yang diatas sedel ia turunkan disamping keranjang yang berisi gula pasir, telur dan daun pisang. ” Kenapa mas motornya?” tanya tukang tambal ban”. ” Ini kenapa ban motor saya kok kempes lagi padahal baru saja dipompakan ” jawab Ramli, dan pak tambal ban memeriksa ban sepeda motor Ramli. “Mas ini bannya kempes karena ada yang bocor, coba saya pereksa kebocorannya ” Tukang ban memeriksanya ternyata ada dua kebocoran di ban motornya. Ramli duduk di kursi kayu dan menelepon ibunya,” Buk , Ramli akan telat sampai tumah” ” laaaah kenapa … apa yang terjadi nak..?” tanya ibunya setengah kecewa. ” Ban motornya bocor harus ditambal dulu. ” “kira-kira kapan selesainya…?” tanya bu Ramli minta kepastian, Ramli tanya pada tukang ban tersebut dan dijawab satu setengah jam ” Buk kira-kira jam 10.00 baru nyampai rumah ” ” Ya sudah cepet nyampainya ya, ibu akan olah yang lainnya” ” Iya buk beres. ” Ramli melihat-lihat disekitarnya, ternyata tukang tambal ini namanya pak Ramelan, lima puluh meter dari sini ada orang jualan nasi bungkus Ramli pamit sebentar untuk beli sarapan. ” Mbok Lami nasi bungkusnya berapa – an” tanya Ramli pada mbok Lami yang namanya tertera di dinding papan kayu. ” Tiga ribuan mas tinggal pilih saja” jawab mbok Lami, ” Kalau jajanan ini berapaan ?” lanjutnya ” Jajanan yang sebelah sana seribuan, yang itu seribu lima ratusan yang depan itu dua ribuan dan yang ini dua ribu lima ratusan” demikian mbok Lami menjelaskan . Ramli makan disitu dan mengamati jenis makanan yang dijual. ” Mbok kok disini gak ada gorengan macam gelek, bolang-baling, untir-untir ” ” Waaahhh makanan itu sulit carinya disini lagian gak ada yang antar kemari” jawab mbok Lami cepat ” Kalau aku kirim bagaimana mbok ” Kelihatannya mbok Lami setuju dengan harganya dan minta dikirim dua puluh untuk uji jualannya. Ramli makan dengan lahab, hatinya begitu berbunga mendapatkan pelanggan baru untuk ibuknya.

” Pak Ramelan ini nasi bungkus untuk bapak dan alhamdulillah motornya sudah jadi saya segera pulang pak” Ramli menstater motornya pak Ramelan gak mau dibayar dan sudah dibelikan nasi bungkus plus teh hangat manis. Sampai rumah Ramli segera menurunkan gandum dan lainnya, ibuknya datang membantu juga mbah Kromo neneknya. Ibu langsung mengolah terigu untuk adonan bolang-baling, dan untir-untir, nenek membersihkan daun pisang untuk adonan pasung, Ramli sendiri membuat santan dan memisahkan yang kental dan yang encer untuk adonan apem dan pasung. ” Ramli itu sarapanmu belum kau makan, makan dulu biar ibu yang memeras santannya” begitu ibu menyuruh anaknya sarapan. ” Buk, Ramli sudah sarapan waktu nungguin tambal ban tadi” jawab Ramli cepat. ” Ya sudah kalau begitu tolong itu santan kasihkan nenekmu biar diaduk” . Telepon genggam berdering bu Sarwo ibuknya Ramli mengangkatnya,” Yo pak napo..?” suara telepon genggam itu dibuat kenceng biar semua bisa mendengarkan. ” Bune..ni ada pesanan nagasari tak ambil gak jumlahnya 100 biji untuk besok sore” dan langsung dijawab ” Bisa pak, harga sudah cocok ? ” ” Beras bu” ” Ndang bali pak gelek,untir-untir sama bolang-baling sudah siap untuk digoreng” ” Yo iki arep bali ” telpon sudah mati. Ramli menceritakan langganan barunya dekat pasar Peterongan mbok Lami namanya , dia minta pagi sudah dianter ke dagangannya karena jam 12.00 sudah tutup dan ibunya menyetujui asalkan Ramli gak capek, karena pukul tiga sore harus jualan di pasar Peterongan dengan suami dan neneknya dibantu dua adiknya Lusi dan Ambar, mereka masih sekolah SMA dan Mts . Ramli sendiri seharusnya kuliah tapi ia menundanya karena bapaknya di PHK dan tahum ini tahun pertama mereka membanting setir dibantu neneknya yang mantan juragan makanan kecil dan mengalami kebangkrutan karena kakeknya sakit dan meninggal dunia, usaha itu dilanjutkan Ramli sebagai penanggung jawab , serta pengaturan operasionalnya. Ramli diberikan alamat pelanggan yang dulu pernah ikut memajukan usaha kakek dan neneknya tapi mereka sudah pada tutup karena kakek Ramli meninggal dunia dan membuat usaha mereka oleng juga. Ramli mengatakan kalau ia yang melanjutkan bisnis usaha keluarganya . Sebagian pelanggan mengambil di rumahnya di Kretek Bugel Peterongan karena demi mengejar omset dan adiknya harus melanjutkan sekolah akhirnya membuka lapak di Pasar Peterongan , Ramli terus mencari pelanggan sehingga adiknya bisa masuk sekolah. Rumah neneknya dikontrakkan untuk membeli sepeda motor dan modal kerja. Setiap hari selalu mengumpulkan uang untuk mengembalikan uang neneknya yang ia pinjam dari kontrakan tersebut meskipun neneknya iklas tapi Ramli tetap memacu usaha tertsebut dan menggantinya. Uang capek juga ia berikan kepada bapak, ibu serta neneknya agar mereka bisa menikmati hasil jerih payahnya bekerja sampai Ramli lupa dengan keadaan dirinya kalau dia sudah berumur 19 tahun karena mendapat pesan dari sahabat SMA nya Wayan yang mengajak ketemuan di Simpang Lima waktu jalan sehat Minggu dini hari. ” Kapan kau kuliah man..?” Wayan membuka pembicaraan sambil merangkul sahabatnya ” insyaAllah tahum depan Yan” “Waaahh telat doong…Ram…” celetuk Wayan “Akan kau kemanakan Erlita, ntar direbut orang looo…?” tambahnya “Tugasku masih banyak…aku harus kumpulin uang dulu kan…” jawab Ramli resah. Mereka makan nasi ayam sesekali tertawa lebar yang membuat Ramli bahagia ketemu Wayan. ” Erlita kami disini…” teriak Wayan memanggil cewek cantik tersebut, dan yang dipanggil menoleh menangkap suara tersebut. ” Apakabar kalian….” Erlita menjabat tangan Wayan dan Ramli. “Baik” jawab Wayan dan Ramli bersamaan. “Waaah…kompak banget..kenalkan ini adikku…Laras namanya” Mereka berkenalan dan mengobrol, Erlita mengambil AKBID sedangkan Wayan sastra Belanda. ” Kamu jadi ikut tantemu ke Belanda” tanya Ramli serius. ” Tentulah..kesempatan mumpung ada harus kuambil…bener ‘gak ?” ” So okey., sukses saja deh umtuk kamu Yan ” Ramli senang melihat keadaan sahabatnya. ” Kak Ramli ambil fakultas apa ..?” celetuk Laras tiba-tiba yang membuat Ramli agak kaget. ” Kakak ambil Olah Raga ya.?” karena bingung mikir Ramli jawab sekenanya ” Kok tahu…?” dan tanpa malu Laras mengatakan “Badan kak Ramli atletis..seksi pisan !” membuat Erlita malu dan mencubit adiknya. Yang dicubit pun kesakitan.Melihat situasi seperti ini Ramli menjelaskan pada mereka berdua, ” Nih lihat lenganku mantapkan..? Ini setiap hari yang aku lakukan membanting bolang-baling dan tiap hari aku mengangkat barbel 25 kg maka terjadilah ini…ha.ha..ha..” Ramli pamer tubuhnya tanpa malu lagi karena terpaksa. Laras tak jadi marah sama kakaknya dan Erlitapun mengamati tubuh Ramli yang seksi dalam hatinya takjub dengan penampilan Ramli yang saat ini dengan memakai pakaian Olah Raga bercelana pendek dengan warna putih sepadan dengan kaos dan sepatunya. Hand phone Ramli bergetar terus ia tahu ibunya membutuhkannya. Ramli harus mengolah tugas hariannya dan mohon diri untuk cabut. Laras meminta nomor hape Ramli dan Wayan mereka menuju arah parkir dan segera pulang.

Ramli menelepon ibunya dan meminta maaf karena sedang ngobrol dengan sahabat SMA nya dan saat ini sedang menuju rumah, dia tak sadar kalau sedang diuntit mobil dan mulai memepetmya, ketika belok arah Sriwijaya mobil itu menyalipnya dan menyuruh Ramli berhenti. Ramli heran siapa orang kurang ajar ini begitu fikitnya. Turun laki-laki paruh baya dan seorang wanita cantik menyapanya. ” Maaf mas perkenalkan kami dari ini sambil menyerahkan kartu nama dan Ramli membacanya. ” Apa maksud bapak pada saya.? ” ” Mas tadi yang makan nasi ayam di simpang lima kan..” kata wanita cantik ini. ” Iya lalu apa keperluan nona menghentikan motor saya?” kata Ramli sedikit marah karena kaget. Wanita itu berulang meminta maaf dan mau mengajak bicara baik-baik, tapi Ramli menolaknya dan memaafkan kejadian tersebut. Wanita dan laki-laki tersebut ngeyel ingin bicara kalau tidak sekarang ya nanti tak apa, dan menyuruh menelepon nomor di kartu nama tersebut dan berkenalan saja akhirnya Ramli melaju sampai di pasar Peterongan langsung menuju kretek Bugel lurus saja menuju rumahnya, Lusi dan Ambar masih membentuk adonan untir-untir, adonan bolang-balingnya sudah siap di goremg tinggal nunggu Ramli untuk menggorengnya. Dengan memakai sarung tangan dan pakaian penggorengan lengkap dengan maskernya Ramli siap bekerja. Menggunakan pengerekan Ramli menurunkan wajan besar pelan-pelan dan menuangkan minyak goreng dua bleck untuk menggoreng 500 biji , sekali goreng satu loyang berisi 50 biji bolang-baling yang sudah mengembang, sebelum memasukkannya Ramli mengecek suhu panasnya minyak goreng agar rata matangnya, pengaduknya alias susruk sangat besar , seroknyapun besar pula buat menampung makanan yang sudah matang. Dilanjut menggoreng untir-untir. Lusi dan Ambar memisahkan makanan tersebut dengan kantong plastik berisi 25 buah per plastiknya. Ramli menghidupkan tungku satunya untuk mengadang pasung sama nagasari. Ibu, nenek, Lusi dan Ambar memasukkan nagasari ke dalam dandang besar yang berlapis 5 sab ibu dan nenek ikut membantu sebentar. Jam14.00 Ibu dan bapak membuka lapak sambil membawa Bolang-baling menuju lapak di Peterongan. Nenek menemani Ambar di dapur kerja menunggu nagasari dan pasung matang sambil membuat apem di tungku kecil.Setelah mandi Ramli dan Lusi berangkat sambil membawa untir-untir dan sisa bolang-baling dalam plastik besar. Sampai di pasar Peterongan bapak ikut membantu Lusi sedangkan Ramli membantu ibu menyelesaikan pesanan dan membayar titipan kue-kue dari beberapa pelanggam, ibu melayani pembeli. Ramli mendapat telpon dari Laras dan menanyakan keadaan Ramli, ” Mas jangan telpon dulu ini setoran saya bagaimana…?” Ramli terpaksa minta Laras menghubungi nanti saja karena ini jam sibuk, akhirnya Laras mematikan telponnya dan Ramli bisa melanjutkan pekerjaannya. Baru berhenti sesaat hapenya berdering lagi…Ramli diamkan dulu sampai orderan masuk semua dan menyelesaikan pembayaran titipan sneck dari pelanggan tetapnya. Hape berdering terus sampai 3 kali akhirnya Ramli mengangkatnya ternyata mbak Sisca dari Rani Intertain ” Maaf …, sibuk ya….ini Bos Rani mau ajak ketemuan bagaimana ?” ” Kalau saat ini saya masih sibuk ..sebentar nanti saya hubungi kepastiannya” Ramli minta Lusi membantunya dan bapak membantu ibu melayani pembeli. Ramli menelepon Sisca cukup lama telepon itu dan bapak mengamatinya kelihatannya penting sekali telepon itu , Ramli minta izin bapaknya kalau nanti jam 19.00 akan ketemuan dengan temannya, pak Sarwo memperbolehkan asal jangan lama-lama ninggalin lapak karena jam 21.00 harus sudah tutup. Ramli menyanggupinya dan segera pulang untuk mandi.

Bersambung……