Cerpen

I’m Alexander The Great

August 20, 2018

Hey kamu yang sedang membaca tulisan ini. Iya kamu…. Perkenalkan namaku Alexander. Dikalanganku, aku mungkin lebih dikenal dengan nama Alexander the Great.

kamu pasti kenal denganku kan? kalau kamu tidak kenal maka sudah pasti kamu bukan makhluk dari bumi!

Jangan takut, aku sudah mati. Oh maaf! aku mungkin malah membuatmu lebih takut sekarang.

Alasan kamu bisa mendengarku adalah karena aku telah mati dalam kobaran api kemuliaan. dan Tuhan berbaik hati padaku agar aku bisa menyampaikan pesan pada seseorang.

Sangat kusayangkan sekali kenapa aku bisa mati. tapi setelah kupikir lagi ya sudahlah, setidaknya aku mati dengan cara yang tangguh dan spektakuler.

jadi bagaimana aku bisa sampe mati? well, saat itu aku diserang ketika sedang lengah. Mereka menggunakan senjata kimia terbaru yang tidak kukenal. Aku rasa mereka menyebut senjata mereka “HIT”.

Setelah mereka menembakan senjata kimia tersebut. Aku jatuh terbaring di tanah dan mulutku mengeluarkan busa. Ketika aku mati, air mataku meneteskan tangis kemenangan.

Akan kuceritakan itu nanti karena tepat saat kejadian itu adalah momen yang paling aku banggakan.

oke singkatnya aku mati karena senjata kimia, senjata yang setiap hari merenggut nyawa bangsaku.

sekarang dengarkanlah pesan terakhirku.

—————————————-

aku punya saudara, saat itu dia terkena semprotan senjata kimia dengan tulisan “Natural Fragrance, Daya Tahan Lebih Lama”. Entah apa maksudnya itu aku sendiri tidak mengerti.

pada awalnya dia dengan gagah berani meloloskan diri masuk kedalam bunker. Dia bahkan sempat bercanda denganku.

“Huahaha, senjata mirip cairan pembersih sabun seperti itu mana mungkin dapat membunuhku! Hari ini aku seperti habis mandi! rasanya segar banget! kamu harus coba juga bro!”

tepat setelah dia mengucapkan hal itu. tiba2 wajahnya menjadi pucat. tubuhnya menggigil dan ucapannya jadi tidak jelas.

pada akhirnya, dia terbaring di tanah dan tidak bergerak sama sekali.

aku tepat disampingnya, namun yang kulakukan hanya menatap wajahnya dengan pandangan kosong. Tepat ketika maut akan mencabut nyawanya, dia tersenyum kepadaku. Dia terlihat tersiksa sekali.

Aku tidak akan pernah melupakan ekspresi senyum menahan kesakitan itu yang jelas terlihat diwajahnya. Hmm.. aku harus berhati-hati dengan senjata itu.

Oh ya, ekspresinya itu terus menerus menghantui mimpiku. “Kenapa! Kenapa kamu terus menghantuiku!” tepat saat dia sekarat baru aku sadar bahwa dia tersenyum bukan untuk mengatakan bahwa jangan takut pada kematian. Faktanya adalah dia sendiri sangat ketakutan saat itu.

Tapi ah sudahlah, aku sendiri juga sudah mati. Kenapa aku harus berduka untuknya.

Kenapa aku bisa mati? sejujurnya aku sendiri lah yang cari mati. Malam itu bulan tertutup awan namun cahaya di ruangan itu bersinar terang. Aku hanya berjalan – jalan didalam lemari yang gelap hingga kemudian tiba-tiba lemari itu terbuka. cahaya yang begitu terang langsung masuk kedalam lemari dan membuat mataku silau dan agak pusing.

Kemudian terdengar teriakan wanita yang memekakkan telinga yang hampir membuat jantungku copot. “AHHHH!! KECOAK!!”.

Sepertinya aku berhasil menakuti lagi wanita yang biasa kesebut “Tutuk” itu.

HAHA! tubuhnya itu sangat besar sampai – sampai air ludahnya saja bisa menenggelamkanku. Bagaimana dia bisa begitu takut melihatku? sunggu aku benar-benar kasihan padanya.

Tentu saja dia tidak butuh belas kasihanku, Suaminya “Buba” segera berlari menghampirinya. Suara Langit runtuh dan gempa bumi yang dasyat mengiringi langkah kakinya.

hal itu membuatku kaget untuk sementara waktu. Aku berusaha berlari kesana kemari melarikan diri dengan panik untuk bisa kembali ke bunker.

ketika aku mengintip keluar dari dalam bunker, Senjata Kimia itu muncul lagi di tangan seseorang. Ah Aku kenal tangan yang lembut itu…. itu pasti tangan si “Tutuk”

Ya kamu benar, senjata kimia itu adalah semprotan pembasmi kecoak yang pada akhirnya berhasil membunuhku.

“Buba” terlihat mengobrak – abrik isi lemari itu. Membuat gempa bumi hebat yang menggetarkan seluruh ruangan

Ah….dia memang tidak terlalu pintar. Aku sudah berjalan tepat didepannya beberapa kali, tapi dia tidak pernah memperhatikan.

“Buba” adalah sebutan yang keberikan padanya. Aku tak tahu namanya dan aku juga tidak terlalu mempedulikannya. Faktanya bangsa kami menyebut hampir seluruh manusia dengan sebutan “Buba” karena mereka punya banyak sekali bulu yang tumbuh di tubuh mereka khususnya dibagian kepala. Itu sangat menjijikan bagi kecoak sepertiku! kenapa mereka bisa punya bulu yang banyak dikepala?.

“Kecoa sangat menjijikkan!” Tutuk menggunakan nada suara yang agak centil untuk mengutuk kami! Itulah sebabnya aku memanggilnya Tutuk (tukang Kutuk). Tapi hari itu ketika aku mendengarkan dia berbicara lagi , aku jadi sangat tidak senang.

Aku jadi teringat saat ketika kakek dan aku sedang duduk di bunker melihat ke arah ke arah kucing yang sedang tidur nyenyak.

Kakek bersedih, “Keluarga kita telah berada di sini selama ribuan generasi. Sejak penjajah ini datang, dunia telah terbalik. Mereka membangun gedung pencakar langit ini, membunuh, melukai, dan memisahkan anggota keluarga kita. Oh! Untuk bertahan hidup, nenek moyang kita membuat kompromi. Mereka mengubah tubuh dan kebiasaan mereka dan perlahan beradaptasi dengan kegelapan.

tetapi mereka tidak menyadari bahwa orang-orang sekarang tidur semakin malam dan malam. Mereka bahkan tidak meninggalkan kegelapan kepada kita lagi! Ah! Masa depan kita benar-benar suram! ”Kakek terus meratapi,“ Mereka bahkan membawa semua jenis pembunuh. Kucing seberang kita itulah yang membunuh nenekmu! Cepat atau lambat, kita akan membalas dendam! ”

Suatu hari, kakek benar-benar menyerang kucing itu, tetapi dia juga mati di karena cakar kucing itu. Ketika aku memikirkan hal ini, aku sangat sedih sehingga aku mulai menangis!

Ini awalnya adalah wilayah kami.

Sekarang Kami harus bersembunyi di rumah kami sendiri. Betapa ironisnya itu! Lebih jauh lagi, mereka yang besar dan berbulu akan menemukan alasan untuk memulai konflik dengan kita.

Sejujurnya, tanpa konflik, hanya akan ada pembantaian karena kami telah mundur atau berlindung selama ini. Mereka mengarang alasan yang sangat menggelikan untuk membantai kami.

“Kecoak ini membawa banyak kuman dan segala macam parasit di tubuh mereka.” itu hanya omong kosong mereka saja.

Kenyataannya, makhluk bertubuh besar berbulu yang biasa disebut dengan kucing itu membawa puluhan ribu kali lebih banyak kuman daripada kami

Beberapa parasit di beberapa tubuh berbulu besar itu bahkan lebih besar dari kami!

Hari itu, ketika aku memikirkan ini, aku sedang dalam suasana hati yang marah.

Meskipun aku marah , aku dapat memastikan bahwa ini adalah buah pemikiranku saat ini yang nantinya akan membuatku bangga dikemudian hari.

berdiri dan berjalan keluar dari bunker. Aku berteriak dengan lantang, “Aku Alexander the Great (kecoa). INI ADALAH RUMAH KAMI! ”

Kucing yang membunuh kakek-nenekku  duduk di karpet dan menatapku dengan tercengang. Aku melotot marah padanya lalu berjalan melewatinya.

Dia tidak bergerak dan hanya duduk di sana dengan terpaku menatapku. Mungkin dia terintimidasi olehku, atau mungkin dia benar-benar merasa malu!

Sialnya, pada saat itu, awan asap kimia itu muncul secara tak terduga dan menghujaniku dari belakangku.

 

Aku mati.

 

sampai sekarang, Aku ingat ibu pernah berkata pada saat pertemuan keluarga tahunan, “Anak-anak, hidup itu bagai roller coaster…. ada saat kita diatas dan dibawah. Ketika meteorit menyerang Bumi lagi dan menghancurkan umat manusia, kita kecoa akan naik dan mendominasi Bumi!

“Ada beberapa puluh ribu saudara kandungku yang hadir pada waktu itu. Itu adalah pemandangan yang luar biasa, membuat kenangan yang berharga!”

Aku yakin suatu saat kami akan mendominasi bumi..