Cerpen

HIDUP TAK SELAMANYA PEDIH…

December 23, 2018

Keluarga Purnomo tinggal di Perumahan Bumi Permai Tugurejo Kediri itu saja kontrak , pak Pornoma sudah tak bekerja karenanya sudah tua, anak sulungnya laki-laki bernama Porwoko ada di Ponorogo sudah menikah tapi belum punya anak bekerja sebagai sales buku, anak keduanya perempuan bernama Anita ada di Blitar juga sudah menikah dan beranak satu suaminya jualan sandal, anak ketiganya Maria baru saja menikah dan masih tinggal bersama pak Purnomo karena suaminya belum dapat pekerjaan, sedangkan yang ke empat namanya Porwito dia belum mau menikah dan sekarang bekerja sebagai gojek di Kediri. Papahnya bertanya pada Porwito: ” Mengapa kamu tak mau menikah Wit..?” dan dijawabnya :” Kalau aku menikah aku akan ngasih istriku makan apa pah…? sekolahku hanya lulusan SMA dan semua kakakku tamatan SMA …aku ingin bekerja yang tetap tak ada lowongan yang membutuhkan aku….kemarin aku bekerja dicucian mobil…hasilnya tak seberapa hanya cukup untuk makanku dan transport. ” pak Pornomo meminta maaf karena bisanya memberikan pendidikan sampai SMA , itu saja kemarin amat payah sekali mendapatkan uang karena pak Pornomo hanya mengantar kue ke toko-toko dan gajinya cuma dapat untuk makan dan bayar listrik serta air saja, untung ibu Pornomo ikut bantu jualan kue bikinan sendiri…sehingga untuk biaya sekolah anak dan buku-bukunya menjadi urusan bu Pornomo dan itu sejak berumah tangga dilakukannya. ” Mamah kamu jualan kue…sambil jalan keliling tidak punya sepeda dan papah berangkat ke toko jalan kaki juga..kadang papah dan mamah jalan bareng sambil jualan kue dan untungnya untuk ditabung buat bayar sekolah kakakmu Porwoko, Maria dan Anita untung mereka kadang membantu muter kalau habis pulang sekolah dan yang sering muter kak Porwoko sedangkan kakakmu Maria dan Anita membantu buat jajanan untuk di jual dirumah dan untuk muter Porwoko, begitu sampai mereka lulus SMA dan menikah.

Mendengar cerita bapaknya , Porwito jadi sedih….dia keluar dengan motor kriditannya memakai helm dan menangis sejadi-jadinya di helm itu . ” Ya Allah mengapa Engkau jadikan aku sebagai anak orang miskin…dan ayah ibukupun miskin…hu..hu..hu..apakah aku juga akan Engkau jatah kemiskinan seperti ayah ibuku…? Ya Allah…berikanlah aku sedikit pencahayaan agar mendapat rizki lebih baik lagi…agar bisa membahagiakan kedua orang tuaku…. Ya Allah kabulkanlah doaku…amiin ” Porwito berhenti ketika ada pesan masuk dan meneleponnya untuk memastikan posisi penjemputannya. Ia usap air matanya dan berharap rizki sebanyak-banyaknya. Porwito menjemput pelanggannya dengan hati senang. Pak Pornomo mendapat telepon dari Anita kalau cucunya sakit dan meminta tolong ibunya ke Blitar karena dagangan suaminya ramai sekali jelang natal tahun ini. Sedangkan suami Maria , Dedi mendapat panggilan di pabrik sebagai driver jadi gak bisa ngantar. Akhirnya Maria dengan persetujuan suami dan papahnya mengantar mamahnya ke Blitar naik bus. Maria menemui kakaknya Anita dan menengok keponakan kecilnya menangis terus” Vincent sakit apa kak..?” dan Anita menangis ” Gak tahu Maria, yang jelas seharian nangis karena badannya panas..” Ibu Pornomo membuatkan juice melon dan menyuapinya sampai habis, ” Vincent harus banyak minum ini Nit…karena badannya panas” Ibu Por memberikan nasihat ke Anita. Maria lari ke apotik membelikan obat cacing kering biar panasnya cepet turun dan diberikan ke mamahnya. ” Mah ini obat diminumkan sesuai petunjuk dan gak boleh bolong ” Maria mengingatkan mamahnya, karena ia harus merawat papah yang sakit- sakitan juga Maria segera pamit. Anita akan mengantar ibu kalau pulang ke Kediri nantinya. Maria minta pamit pulang pada mamahnya dan Anita. Suami Anita minta Anita segera datang karena sudah ramai pembeli , ” Mah …, mas Danu minta Anita segera ke dagangannya karena ramai banget…mamah aku tinggal gak apa to…?” ” Yo wis kono ndang mangkat mumpong Vincent tidur.” Anita lega dan menstater motornya segera ke pasar Banjaran dan berpesan, ” Mah makanan sudah Anita siapkan di lemari makan cuma belum buat teh untuk mamah” dan dijawab mamahnya,” Gak apa-apa nanti mamah bikin sendiri ”

Bu Pornomo membenahi kamar anaknya dan membersihkan kotoran-kotoran disekitarnya. Pakaian kotor ia pisahkan dan merendamnya. lalu mencucinya karena sudah malam pakaian tersebut ia simpan di mesin cuci. Vincent masih tidur ia pegang dahinya sudah keluar keringatnya dan mulai dingin badannya. Terima kasih ya Allah Engkau telah menyembuhkan cucuku. Bu Por segera makan makanan yang disiapkan Anita dan membuat teh hangat. Ruang tamu sudah bersih dan sudah dipel lantainya sehingga tampak segar…jam 22.00 sudah malam Anita dan Danu belum sampai rumah hujan mengguyur Bu Por tak bisa tidur ia memasak air untuk membuatkan minuman jahe anget buat menantu dan anaknya, ” Wah segar sekali akan hangat dibadan kalau mereka meminumnya” ternyata ada yang bocor di dapur ibu menadahkan air agar tidak menggenangi yang lainnya. Maria menelepon mamahnya kalau sudah sampai di Kediri dan bapak sudah makan, mas Handoko sudah pulang juga dia digaji Mingguan untuk uang makannya dan gajinya sebulan Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah, Maria senang sekali mamahnya pun senang, apalagi pak Pornomo begitu bersukur mendengar kabar mantunya bekerja dan mendapat gaji dari pabrik, walaupun berangkatnya jam 04.30 dan pulang jam 20.00 tapi mereka bersyukur sekali mendapat pekerjaan yang tetap. Hujan deras Anita dan Danu sampai dirumah jam 23.30 memakai jas hujan dagangan di simpan di lapaknya, Anita langsung turun dan melihat Vincent ..mamahnya melarang menyentuhnya karena Anita masih kotor badannya. ” Bagaimana Vincent mah…kelihatannya tidurnya nyenyak sekali sampai mamah bisa bersih-bersih, terima kasih ya mah, untung mamah cepat sampai…lega rasanya melihat vincent tidur nyenyak.” Danu langsung ke kamar mandi dan melihat ibu menata waskom penadah air hujan, Danu sedikit sedih tapi langsung mandi, disusul Anita .

Mamah mencium bau sate ayam yang dibawa Anita dan mamah membukanya ditaruh di piring, ” Banyak banget kamu beli satenya Nit…?” “Mas Danu menyukainya Mah… gak apa…sekalian lontongnya diiris-iris tiga buah saja nanti biar diiris lagi kalau mas Danu nambah” Mamah tersenyum baunya sedep banget, jadi teringat suaminya pak Pornomo paling suka sate ayam . ” Mamah kita makan sate sama-sama…ayuk mah…” ajak Anita . “Tapi mamah barusan makan …mamah makan tanpa lontong ya…..” ” Boleh…mah..ayuk mas kita makan keburu dingin nanti satenya.” Vincent bangun ketika dengar suara mamahnya, Anita menggendongnya serta menciumnya,” anak mamah dah dingin badannya terima kasih eyang putri dan tante Maria..Vincent sudah sembuh” begitu Anita mencoba berbicara ala anak umur dua tahun. Vincent menunjuk ke sate..rupanya Vincent ingin makan apa yang dimakan orang tuanya. Anita memberikan sate yang berkecap…kelihatannya Vincent senang sekali dan habis tiga tusuk…” Ehh..suka…kamu nak…? besok mamah kasih lagi ya…tapi Vincent mau nambah lagi dan sate tersebut diumpetin bu Pornomo kasihan sudah malem…dan biar untuk besok pagi saja. Malam itu Vincent tak tidur dia asik main dan ibu Por membuatkan juice melon lagi ..karena kekenyangan Vincent tidur. Bu Por tidur di ruang tamu bersama Vincent pagi -pagi bu Por bangun dan melanjutkan cuciannya. dan membakar sate sisa semalem serta memberikan kecap manis yang disiapkan untuk Vincent tapi belum bangun padahal sudah jam 08.00. Pintu depan diketuk, kemungkinan ada tamu dan bu Por membukakan pintu, mereka pak Karno dan istrinya dan menanyakan Danu beserta istrinya i, ibu mempersilahkan mereka ibu melihat ke gorden kamar ternyata Anita sudah selesai mandi dan gantian dengan Danu. bu Por membuatkan teh hangat manis untuk tamu anaknya. Vincent bangun dan tidak menangis ia memanggil mamah…mamah…karena celananya basah. Pak Karno memanggil Vincent tapi Vincent lari ke arah eyangnya. Anita menghitung uang semalem untuk diserahkan ke pak Karno. Danu keluar dan mengganti pakaian karena ada pak Karno dan Ibu ia agak rapi dikit dengan memakai kaos oblong dan ngobrol..Anita memberikan uang untuk dihitung sebesar Tiga Juta Rupiah, Bu Karno mencatatnya dan menanyakan pesanannya lagi. ” Bu ini pada minta model sandal terbaru yang seperti selop baik laki maupun perempuan. dan sepatu anak-anak yang kelap-kelip ada lampunya. tolong ya buk ini sudah ada yang pesan tiga orang.” kata Anita. Ibu Pornomo mendengarkan pembicaraan mereka sambil menyuapin Vincent makan yang lahap sekali. Tamu segera pulang, dan Danu menceritakan pada Bu Por tentang usahanya.” Kalau tak ada Bu Karno saya gak tahu mah… mau aku apakan keluargaku makanya aku terus stor pendapatannya kepada mereka setiap mereka kirim barang selalu dihitung anggarannya dan mereka membelanjakan keperluannya kadang nungguin di lapak sekalian menyerahkan duwitnya, semalem karena ramai sekali jadi dia gak dapat narik dan minta pagi hari nagih ke rumah, alhamdulillah semalem untung berapa Nit…? dan dijawab Nita ” Lumayan mas ada Lima Ratus Ribu dengan pendapatan semalemRp 3.7555.700,- . Kita sudah gak hutang sama bu Karno mas, jadi keuntungan tersebut untuk kita tabung dan dagangan kita sudah penuh bermacam-macam stocknya.

Sudah seminggu Bu Pornomo di Blitar pak Por amat kangen masakan istrinya, dan pak Por menelepon istrinya, ” Papah sehat…? ini mamah pah…” Bu Por mengangkat ” Nopo pah…? kangen yoo…. sik delok engkas ngenteni Anita sukuran Si Vincent wis sehat… sabar sik yo pah ” Pak Por malah nangis.”yo wis mah…?!” telpon dimatikan pak Por membuat bu Por bingung, ” Wis ngene wae Nit…Vincent tak gowo ning Kediri wae ben kopen, awakmu ojo ngetheng-etheng anak mbok jak bakulan mengko ndak kesel malah keceklek barang…mesakke Vincent yen mbok jak bakulan ning pasar,..wis saiki terke mamah pulang di Kediri …papahmu itu sudah kangen sama mamah” bu Por meminta anaknya mengantar ke Kediri dan membawakan pakaian Vincent beserta keperluannya. Danu ikut mengantarkan mertuanya bersama Anita. Ibu menelepon pak Por siang ini berangkat diantar Danu dan Anita, hati pak Por senang sekali dan mengatakan sama Maria kalau mamah pulang sore ini. Sampai rumah bu Por disambut Anita dan Dedi menantunya . Pak Por dikursi dan tersenyum melihat istrinya pulang. Vincent di gendong Porwito yang pulang dari ngojek. Mereka kumpul semua dan Anita membawakan oleh-oleh sate madura untuk dimakan bersama, karena sebentar lagi Anita dan Danu akan pulang seminggu lagi akan menengok Vincent di Kediri lagi. Pak Por senang karena cucunya berada didekatnya dan akan menjaga Vincent dengan baik.