Cerbung

DUNIA MISTERI – episode 1 – Jin wanita

February 16, 2020

Masrul pekerja yang gigih dia seorang wiraswasta yang sering luar kota dengan menghidupi empat orang anaknya, dengan mengorder kecap cap orang tua Masrul membantu memasarkan atau bawaan apa saja yang ia dapat dengan murah dia beli dan dijual ke daerah-daerah yang amat membutuhkan pelan tapi pasti Masrul mengais rezeki . Berbekal mobil pick up dari warisan mertua istri Masrul dan SIM yang ia miliki sewaktu bekerja sebagai sopir angkot, Masrul memutuskan usaha sendiri , Fatimah istrinya tak melarang karena suaminya selalu jujur , hasilnya lumayan pendapatannya tunai, kadang Masrul ndongkrok dari pasar ke pasar menjual ketela pohon atau sayuran yang Ia beli di Weleri dijualnya ke Semarang tepatnya dipasar Johar ditemani Iskandar keponakannya yang kadang membantu menjadi sopir jika Masrul capek. Iskandar keponakan dari istrinya sangat senang bekerja menemani pamannya yaitu Masrul. Bila hari Jum’at selalu shollat jum’at di masjid mana saja yang ditemuinya dan mengaji sambil istirahat, tidurnya di mobil kadang di losmen kalau keuntungannya banyak sebagai pembuang penat saja. Jika kecap dan jualannya habis mereka baru pulang. Istrinya Fatimah tak punya fikiran macam-macam jika uangnya habis dia mengambil di ATM yang selalu di isi Masrul tiap harinya . Dompet Masrul hanya berisi uang untuk makan dan membeli bbm saja , uang dagangan Ia taruh di jog tempat duduknya. Masrul dan Iskandar menikmati jerih payahnya dan menabung untuk bekal hidupnya.

Saat itu sore hujan rintuk-rintik Masrul mendapat dagangan rambutan dan durian yang didapatnya dari Gunungpati. Rambutannya manis dan tebal penjualnya seorang wanita cantik memakai jilbab Iskandar menggoda tapi wanita itu diam saja hanya mau bicara dengan Masrul, karena jengkel Iskandar mulai gemas dan mendekati wanita itu, ” Mbak jangan mahal-mahal dong jualannya?! ” suara Iskandar membuat mata wanita itu memerah dan menjawab, ” Ini gak seberapa mas, rambutan dan durian yang mas borong itu bisa mas jual berapa saja dan Lama habisnya sampai subuh habis daganganmu. Setelah Masrul membayar , durian dan rambutan itu tiba-tiba sudah berada di atas mobil pick up hampir memenuhi bak mobil tersebut . Wanita itu sudah menghilang naik angkutan yang lewat , karena hampir maghrib Iskandar di perintahkan menutup dengan terpal rambutan dan duriannya untuk melakukan shollat berjamaah. Setelah shollat Masrul dan Iskandar membuka dagangannya di pasar KarangAyu, karena durian dan rambutannya manis juga tebal banyak yang membelinya meskipun dijual per kilo 15 ribu rambutannya , mereka tak menawar langsung membelinya. Bahkan dimakan ditempat itu , mereka yang membeli rambutan ataupun durian dijual lagi dagangannya ditempat lain, yang anehnya rambutan Masrul itu tak habis-habis, juga duriannya yang dijual satu buah 50 ribu . Masrul heran rambutannya jumlahnya masih menggununng dan duriannya masih utuh 35 buah sementara jumlah uangnya sudah empat kali harga belinya sampai isyak pembelinya masih mengantri. Masrul menyuruh tukang becak yang mangkal di pasar KarangAyu untuk membantu Iskandar melayani pembeli dan Iskandar menggantikan Masrul menimbang dan menyimpan uangnya Masrul sendiri melakukan shollat isyak berjamaah di masjid dekat pasar. Selesai shollat gantian Iskandar yang ke masjid dan Masrul kembali ke posisi semula. Badrun si tukang becak itu seneng banget membantu Iskandar sambil makan rambutan yang manis dan tebal Ia juga mendapat uang 100 ribu dari Masrul

Masrul dan Iskandar menghitung pendapatan hasil jualannya, Masrul amat tercengang dengan pendapatannya yang begitu besar, tapi Masrul tersenyum dalam hatinya Masrul tertawa karena memang wanita yang memakai jilbab itu seorang jin, Badrun di tanya sama Masrul ” Berapa kali kamu melihat truk bermuatan rambutan dan durian itu menurunkan dagangannya mas Badrun ?” yang ditanya menunjukkan tempat truk mangkir ” Ada dua truk mangkir di dekat toko seberang dan disamping pick up ini satu truk berisi durian dan rambutan ada seorang wanita yang mengumpulkan uang dan ditaruh di dos itu mas, dan maaf saya diberi uang dalam amplop, ini amplopnya masih ada dan subuh tadi wanita itu pamit sama mas Masrul kan ?, mulanya saya mengira wanita itu istri mas tapi kok pulang sama truknya?! ” Masrul tertawa dan berkata ” Wanita itu namanya Sayekti istri sopir truk yang pertama dan semuanya yang membantu adalah keluarganya saat ini sedang panen durian dan rambutan, dan uang pemberian mbak Sayekti itu hak kamu tapi jangan lupa amalkan pemberiannya mas Badrun”. Badrun mengangguk-angguk tanda mengerti dan membuka amplopnya lalu menunjukkan uang yang berisi 500 ribu, Masrul menyuruh Badrun pulang untuk beristirahat. Badrun senang bukan main, dan mengayuh becaknya yang penuh rambutan dan tiga buah durian. Iskandar termangu mendengarkan perkataan Badrun dan pamannya, karena Iskandar tak melihat truk besar dan wanita , Iskandar hanya melihat mobil pick up ini gak habis-habis buahnya dan amat laris sampai Iskandar memberikan rambutan satu becak yang di beri alas terpalnya Badrun. Masrul menepuk bahu Iskandar agar segera pulang ke Weleri untuk beristirahat. ” Is, kamu gak usah heran, Sayekti itu jin dia amat baik hatinya tapi kita tak boleh menerima begitu saja pemberian jin karena kita tahu jin itu bukan kaum kita “. Sambil menyetir pick up Iskandar membicarakan kejadian dari maghrib sampai subuh sambil ngemil pisang goreng dan minum teh hangat yang dibungkus plastik. “

” Ini uang jerih payahmu Is, dan ini modal beserta keuntungan keluargaku sedangkan yang itu kita serahkan ke masjid atau di infaqkan atau juga kita sumbangkan ke yatim piatu atau juga orang fakir miskin” Masrul sudah selesai menghitung dan memisahkan uang-uang tersebut. Iskandar menerima uang satu juta, girang sekali karena semalaman gak tidur dan buahnya laku keras. Jam delapan pagi mereka sampai ke Pasar Mangkang , Iskandar dan Masrul sarapan sambil mengirimkan uang untuk istrinya di Bank BRI . Masrul menelepon istrinya kalau uang sudah ditransfer dan gak usah ambil uang dulu karena sudah disisihkan tunai , Fatimah menurut saja dan menawarkan kacang panjangnya kek Amrun yang akan panen nunggu Masrul sampai rumah untuk nego harga. Masrul setuju sambil jalan menuju rumah , Masrul ke Kaliwungu dulu untuk memberikan santunan ke yatim piatu sekalian mengambil kecap dan menyetorkan hasil kecap kemarin , sampai di Cepiring mereka istirahat di SPBU sambil isi bbm karena ngantuk Masrul dan Iskandar tidur sebentar , sampai Kendal Masrul membelikan seperangkat alat shollat untuk istrinya dan Umiyatul putrinya juga membelikan baju koko untuk kedua anak lelakinya Umar dan Sholikin dan juga Ahmad putra bontotnya, sampai Weleri Masrul menyerahkan santunan ke pondoknya sambil membagikan sodakoh ke kaum duafa sekalian shollat dzuhur berjamaah , Kyai Haji Tantowi sangat senang bertemu dengan santrinya dan berterima kasih atas semua bantuannya yang akan dibelikan karpet masjid dan sajadah panjang . Santriwati sudah menyiapkan makan siang dan mereka makan siang bersama.

Jelang ashar Masrul sampai rumah, Fatimah sudah menunggunya dan membantu Masrul mengangkat bawaan untuk anak-anaknya. Sholikin anak keduanya dan Umiyatul anak ketiganya membantu ibunya meneliti barang bawaan Masrul sementara Ia mandi . Iskandar dijemput Yatemi adiknya, ” Kang, Mak-e ro Pak-e sudah nunggu dirumah mau diajak ngomong banyak” begitu kata Yatemi sama kakaknya . Fatimah menyuruh masuk Yatemi sambil memilih jilbab dan sandal yang dibelikan Iskandar untuk ibunya dan Yatemi. Masrul selesai mandi dan menyuruh istrinya membuka barang titipan Iskandar di jepitan tas plastik campur dengan baju kokonya anak-anak Masrul, ” O…. ini too, wah bagus kokonya bapakmu Yat” kata Fatimah. ” Iya dhe… bagus kokonya” Iskandar memang belum memeriksa pemberian Masrul karena baru selesai mandi, setelah semua bawaan sudah diambil Yatemi mereka pulang pamit sama paman dan bibinya. Anak Masrul yang sulung dan ragilnya belum kelihatan, “Kok Umar sama Ahmad belum pulang bune…? ” Tanya Masrul pada istrinya Fatimah. ” Mereka masih di madrasah pak nanti pulangnya habis maghrib, Umar sedang pemantapan mengajar di sekolahnya Ahmad sore ini ” Masrul mendengarkan cerita istrinya tentang kegigihan Ahmad si kecil pingin melihat Umar kakaknya mengajar di madrasahnya langsung.

Bersambung..