Cerbung

DERITA KEHIDUPAN -Episode 1- Pemulung

January 4, 2019

Mudhakir menghela napas panjang, merebahkan bahu di bangku panjangnya istrinya Yuni membuatkan kopi, ” Ingin aku membantu kamu mas…boleh gak..?” ” Apa kamu siap jalan pulang balik sampai rumah dik..? ” Akan aku coba …boleh ya…?” Mudhakir mengangguk dan Yuni mulai membawa plastik zak besar mencari apa yang bisa laku dijual, pagi itu Yuni melihat tempat hajatan nikahan dia kesana dan mengambil botol plastik tempat minum banyak sekali, Yuni senang karena orang yang punya hajat menyuruh membersihkan semua botol tempat minum dan dos-dos snecknya sekalian, setelah penuh ia mau pulang tapi diminta kembali sama pemilik rumah untuk datang kembali nanti , Yuni siap akan ketempat itu lagi dan dibawakan makanan dalam dos besar oleh ibu tersebut. Sampai rumah suaminya heran cepat sekali Yuni bekerja dan setelah dibuka memang berisi botol kosong dan dos sneck banyak banget. ” Mas aku akan kesana lagi disuruh ibuknya membantu membersihkan yang lainnya. ” Yuni amat semangat mengais rezeki dari Ibu Darmono yang punya hajatan mantu anak lelakinya. Yuni disuruh mencuci piring. dan membuang sampah yang sudah tak berguna. Suaminya melihat dos besar dan membukanya ternyata jajanan macem-macem ” Alhamdulillah…” Mudhakir membangunkan anaknya yang akan berangkat sekolah dan memandikannya. ” Ini Lee…makan jajanan dulu ibuk masih keluar nanti bapak antar ya…” Hanafi mengangguk setelah mandi dia diberesi Mudhakir dan memakaikan baju seragam sekolahnya. ” Pak ..ini ada lemper…Hanafi boleh makan pak…?” Mudhakir mengangguk ..Hanafi memakan lahap lemper dan tahu bakso, Mudhakir mengambilkan teh hangat yang sudah disiapkan Yuni. ” Hem enaknya tahu baksonya…Hanafi nanti minta lagi ya pak…?” Mudhakir tersenyum dan menjawab ” Iya semuanya untuk Hanafi…” ” La …ibuk sama bapak makan apa…? kok Hanafi semua…?” ” Iya …gak apa-apa nanti akan dapat lagi…ayuk kita berangkat sudah siang ini…” Mudhakir mengantar naik sepeda ke sekolahan Hanafi. dan melewati rumah bu Darmono dimana Yuni sedang memberesi ember plastik dan gelas-gelas yang sudah tak terpakai. Yuni melihat suaminya dan memanggilnya, Mudhakir berhenti dan Yuni menyuruh kalau nanti sepulang antar Hanafi datang ke bu Darmono membantunya membawa barang yang sudah tak terpakai. ” Iya nanti aku jemput kamu…dik aku brangkat dulu ya…” Mudhakir mengayuh sepedanya dengan senang hati. Yuni melihat suaminya dengan penuh do’a.

Mudhakir sudah sampai di rumah bu Darmono menjemput istrinya, dan membantu melilitkan tali pengikat agar tak tumpah bawaanya. Bu Darmono memberikan upah Rp 50.000,00 sebagai imbalan . Yuni sudah dipesan lagi disebelah rumah bu Darmono untuk membersihkan gudangnya besok pagi jam tujuh dan Yuni akan siap ke tempat bu Normala. Bu Darmono membawakan sayur sambel goreng rambak dan ayam goreng sisa pesta semalem tapi sudah dipanasi, juga sayur gudeg . ” Mbak Yuni rumahnya di mana sih….? kok bisa datang pagi…?” dan dijawab Yuni ” Saya di jalan Sawo bu gang sebelah ibu tapi paling belakang sendiri… di rumah pak Slamet bapak saya. ” OWH ..mbak Yuni putrane pak Slamet penjaga sekolahan SD Pancasila Sakti itu to…?” ” Inggih bu…pareng …matur nuwun bu sudah dikasih makan dan lain-lainnya ” Yuni pamit pada bu Darmono dan membalas ” Sama-sama mbak…hati-hati…” Karena bawaan berat Yuni disuruh jalan duluan dan Mudhakir mengayuh sepedanya pelan-pelan. Yuni mampir di warung membeli beras dan gula. Bawaan dari bu Darmono banyak banget alhamdulillah… bisa untuk besok juga makanan ini. Mudhakir segera memilihi barang-barang tersebut. Yuni sampai dan mengajak ke pengepul yang dekat rumah tempatnya pak Kromo tapi memberesinya dulu. Sampai ditempat pak Kromo langsung ditimbang dan dibayar barangnya sebesar Rp 300.000 ,- Yuni menerima uang tersebut dan segera pulang membonceng sepeda Mudhakir. Uang itu ia tabung dan selanjutnya esok hari kerumah bu Normala membersihkan gudangnya dibantu Mudhakir, ada barang pecah belah, buku-buku dan besi serta kawat dan pacul, semua disingkirkan mas…Yuni memasukkan barang yang sudah tak terpakai di zak besarnya. Bu Normala minta tolong Yuni untuk mengepel dan mencuci piring. Mudhakir disuruh memasang lantai ubin dan disuruh membeli semen dan pasir, karena gudang itu mau dibuat kamar kosan dan disuruh mengecatnya biar rapi. Yuni meminta izin untuk menjemput Hanafi dan nanti akan balik ke Bu Normala lagi. Bu Normala memperbolehkan asal nanti balik kesini lagi

Hanafi sudah berada di rumah bu Normala ternyata bu Normala kesepian suaminya sudah meninggal karena sakit suaminya sudah pensiun ketika kedua anaknya menikah , Rani yang sulung ada di Surabaya dan David ada di Balikpapan Kalimantan , keduanya belum dikaruniai anak jadi sepi sekali makanya ia buka kosan disebelahnya, karena gudang itu dulunya kamar pembantu , “Kalau mau istri pak Mudhakir setiap pagi mengepel dan mencuci serta menggosok dan lain-lain paling jam sembilan pagi sudah selesai, bagaimana pak selanjutnya bisa memulung lagi dan Hanafi biar dititipkan disini saja gak apa-apa” ” Terima kasih bu Normala…biar istri saya saja langsung yang menjawabnya”, lalu Mudhakir memanggil Yuni dan mengatakannya keinginan bu Normala. ” Maaf bu Normala kalau seminggu sekali ke sini saya bisa…. soalnya disini gak ada pekerjaan yang begitu berat dan saya kasihan sama suami saya yang sering kecapekan , pripun bu..?” ” Ya sudah gak apa seminggu sekali lebih baik tapi besok suami kamu masih harus mengecat dinding dan pasang plafon biar rapi dan bersih jadi kamu juga harus datang karena tak ada yang memasakkannya…ya..?” ” Injih bu…injih mboten napa-napa ..” jawab Yuni.

Tujuh tahun berlalu Hanafi sudah masuk SMP, syukur alhamdulillah selalu diberikan kesehatan dan rizki yang lancar juga sudah memiliki sepeda motor meskipun bekas juga rombong besar tempat wadah bawaan barang memulung. Hasil pemulung langsung disetorkan ke pak Kromo sehingga rumah Mudhakir bersih. Yuni hamil anak kedua bawaan Yuni rajin bekerja membuat Mudhakir kawatir kalau kelelahan , persiapan melahirkan sudah ada karena Hanafi mendapat Bea Siswa murid berprestasi setiap bulan mendapat dana dari Pemerintah sebesar Rp 300.000,- Kalau semester dua Hanafi peringkat satu lagi maka bea siswa akan berlanjut, Hanafi naik sepeda jika berangkat sekolah membuat tubuhnya sehat dan kuat. Kehamilan Yuni baik dan selalu periksa kesehatan setiap bulan sekali dan kini kehamilan sudah memasuki tujuh bulan Yuni harus periksa dua minggu sekali. Yuni tetap bekerja memulung menunggu Hanafi pulang sekolah untuk gantian memakai sepedanya. Kini setiap minggu sekali kehamilannya dicek karena jelang masa melahirkan , Yuni melahirkan bayinya di bidan dekat kelurahan Bangetayu dengan menggunakan BPJS persalinan tersebut tidak dikenakan biaya alias Gratis. Bayinya seorang wanita dan diberi nama Anisah , Mudhakir amat bahagia dan Hanafi masih bisa mempertahankan Bea Siswanya. Sampai lulus SMP Hanafi mempertahankan gelar di sekolahnya di SMP Pancasila Sakti. Ketika masuk SMK Hanafi menunjukkan surat prestasinya dan mendapat tambahan nilai dalam test masuk SMKN 1 Semarang . Mudhakir dengan sabar melalui kehidupannya walaupun sebagai pemulung istrinya menghargai usaha suaminya dan ikut membantunya, meskipun miskin dan hampir jarang masuk mall serta hiruk pikuknya itulah jalan hidup yang setiap saat ada perubahan sesuai dengan Takdir dan nasibnya….tak pernah menyerah…tak malu menghadapi kenyataan hidup ini . Hanafi adalah pandangan hidupnya saat ini mendapat Bea siswa ke Belanda karena pertukaran siswa berpotensi , dan Mudhakirpun hanya tersenyum karena nasib anakknya tergantung dengan kemauannya…orang tua hanya bisa memberikan apa yang ada dan tak muluk-muluk keinginannya, cerminan orang tua adalah tak pernah sombong…berserah diri pada Tuhannya, menerima dengan baik, memberikan contoh menghadapi masalah kehidupan secara nyata, tak mau menipu karena contoh jelek akan ditiru anaknya. Yuni istri yang sholekah, tak mau mulutnya nyenyer dan menghadapi hidup dilalui bersama penuh iklas. Anisah sudah kelas 6 SD kakeknya sudah jompo, Yuni menjaga orang tuanya dengan sabar sementara Mudhakir masih tetap menjadi pemulung karena sudah menjadi pilihan hidupnya , Hanafi menyandang gelar Sarjana Teknik dan lulusan Belanda dengan fokus ke Bangunan Air dan Bangunan Jalan. Karena keadaan orang tuanya yang hidup miskin selalu sebagai cermin agar Hanafi tetap sehat dengan rajin berpuasa, mengurangi hura-hura, makan makanan yang sehat dan tidak hidup berlebih-lebihan. Yuni dan Mudhakir selalu berangkat bersama mengais rezeki karena untuk biaya sekolah Anisa, dan Anisa tidak malu karena ibunya baik dan sholekah.

Besambung…