Cerpen

CINTAMU HANYA UNTUKKU

August 31, 2018

Hamandi hatinya bergoncang, air matanya tak kuat membendung perasaan yang begitu menyayat-nyayat hati…gadis pujaan yang selalu dirindu siang dan malam terpaksa harus lepas dari genggaman karena paksaan orang tuanya harus menikahi putra sahabat bapak ibunya. Hamandi pegawai kantor di perusahaan swasta di Makasar dan harus meninggalkan kampung halamannya di Ungaran karena dimutasi. Pacaran sudah tujuh tahun dan keluarganyapun tahu, kenapa tiba-tiba memberikan kabar di hapenya seperti ini ? Ketika di call balik hape sudah tidak aktif. Hatinya berkecamuk, bertanya-tanya..rasanya tak mungkin, kemarin kita masih ngobrol dan merencanakan hari depan..Haman menghubungi berkali-kali hape tidak aktif. Berhari, berminggu menjadi berbulan hape masih tidak aktif akhirnya Haman menjadi geram.., marah.., Dia ingin mengambil cuti untuk pulang..sebenanya apa yang sudah terjadi pada gadis pujaan hatinya..? Dia membaca kembali sms terakhir Lidia ” Mas aku sudah tidak kuat lagi dengan ancaman bapak/Ibu, kalau aku tidak menuruti keinginan mereka aku tidak diakui anaknya. Aku harus menikah dengan anak sahabat Ibu/Bapak yang barusan pulang dari Palembang..doakan ..dan iklaskan aku….serta maafkan aku untuk semua yang sudah kita lalui bersama ” Hatinya resah lagi, Tatapan mata Lidia yang membuat bahagia berubah dengan cucuran yang menyusutkan hati.

Lebih baik aku pulang saat pengambilan cuti bulan besok, toh tidak merubah keadaan jika aku buru-buru, begitu fikirnya. Akhirnya cuti dikabulkan, Haman segera menghubungi ibunya kalau bulan depan Ia akan pulang. Dia kangen sama ibunya begitu Haman mengatakan pada ibunya dan ibunyapun menyambut dengan penuh suka cita Jam 14.00 Haman sudah sampai Ahmad Yani Semarang, dan memesan ta

Pulang ke rumah Haman tidak mau menunjukkan wajah yang sedih, kasihan ibu jika melihat aku susah. Haman mampir ke kantor pusat sesuai perintah pak Handoko manager penghubung kantor Makasar.

” Hallo pak Hamandi, selamat datang di kantor pusat…waahh tepat sekali anda pulang sehingga saya tak perlu harus ke Makasar ” begitu sambutan pak Surahman selaku direktur perusahaan ” Pak Hamandi kan belum sampai rumah, lebih baik temui keluarga dulu selang sehari kesini lagi temui saya, biar persiapan lebih baik lagi”

” Inggih..inggih..iya pak sehari lagi saya ke sini lagi, terima kasih pak Surahman saya mohon pamit ” Haman meninggalkan ruangan direktur, dan diantar pulang oleh staff kantor. Ibu sudah menunggu di ruang tamu ketika Haman sampai rumah.” Nak, kamu sehat sehat saja kan …? begitu tanya Ibu

” Pangestu ibu Haman baik-baik saja” Haman memeluk Ibu yang sendirian selama setahun ini karena Ayahnya sudah meninggal ketika Haman lulus kuliah

” Pak saya langsung ke kantor lagi apa masih dibutuhkan disini ?” sopir kantor menanyakan pada Hamandi

” Oya pak Yusuf terima kasih saya di tinggal saja ” begitu jawab Haman singkat

Ibu menggandeng anaknya masuk, langsung di meja makan untuk menikmati hidangan yang sudah Ibu sediakan

Hamandi membicarakan soal Lidia, mulai dari sms yang aneh, sampai  geram hatinya. Ibunya pun juga heran, dia pergi dan gak pernah datang ke sini lagi,

” Tapi denger-denger dia menikah sama orang Batak beranak satu pilihan bapak/ibunya, bener itu Man ? ”

” Haman juga tidak tahu bu, siapa yang kasih kabar Haman, kan Haman jauh..”

” Ya sudah ..tak usah difikirin lagi Lidia…kan sudah pilihan orang tuanya, dan Ia mau menerima dengan iklas, jadi kamu ya….harus iklas”  Ibu mengernyitkan dahinya

Hape Haman berdering ternyata dari pak Surahman meminta Haman malam ini akan dijemput pak Yusuf ke kantor dan menyiapkan berkas titipan pak Handoko.

” Ibu Haman persiapan lagi akan dijemput pak Yusuf menghadap pak Direktur malam ini”

” Tapi malam ini tidur di rumah kan Man..?”

” Iya bu, cuma pulang nya jam brapa Haman gak tahu bu..”

Haman mandi begitu tergesa-gesa karena pak Yusuf sudah nyampai di depan rumah, Ibu sudah mempersilakan pak Yusuf masuk tapi memilih duduk di teras, Ibu  memberikan segelas minuman hangat dan membagi pisang goereng di atas meja untuk pak Yusuf. ” Sambil nunggu tolong incipin pisang goreng saya pak Yusuf” ibu menawarkan pisang goreng buatannya

” Inggih bu, matur nurun” pak Yusuf mengangguk senang diajak ngobrol ibunya Haman

Selang beberapa saat Haman sudah rapi, dan pamit sama ibu. Rumah itu kembali sunyi  ibu membersihkan ruang makan dan ruang tamu, juga mencuci piring , tapi tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Haman barusan pergi masak balik lagi kenapa ya..? ibu buru-buru menyelesaikan cucian piring dan bergegas menuju pintu, dan terdengar ketukan pintu. ” Iya sebentar ” sahut ibu  Ketika pintu terbuka ibu terkejut yang dihadapannya ternyata Lidia. ” Ibu…. maafkan Lidia…” sambil bersimpuh  Lidia tak berani melihat wajah ibu. Ibu mempersilakan Lidia masuk

” Kenapa kamu Lidia…? tak pernah kemari dan tak berkabar ? ayah ibu kamu sehat kan?” ibu hanya bertanya keheranan keadaan Lidia yang kini tambah kurus

” Ayah dan Ibu sehat, ibu saya dengar  mas Haman baru pulang…benarkah..?

” Iya benar, selanjutnya kamu mau apa Lidia ..kenapa hape kamu mati, sehingga membuat Haman menderita karena ulah kamu..?” ibu agak ketus

” Itulah yang hendak Lidia bahas sama mas Haman,bu..Lidia memang salah ..tapi Lidia tidak bisa begitu saja melawan keinginan ayah ibu, hape Lidia disita bapak ibu sampai saat ini karena Lidia tak mau menikah  selain dengan mas Haman.” Lidia melanjutkan ceritanya karena Ibu agak marah tadi. Kelihatannya ibu mulai ngantuk Lidia harus permisi dan esok pagi akan kesini lagi.

Haman pulang jam 01.00 sampai rumah, Ibu membukakan pintu dan Haman menguncinya  mereka segera istirahat dan tidur sampai pagi. Habis shollat subuh ibu mempersiapkan sarapan untuk anak semata wayangnya, persediaan di kulkas cuma tinggal telur ibu segera mencari mie goreng di dapurnya, Alhamdulillah masih ada dan ibu membuat mie goreng telur persediaan mendesak karena mbok sayur belum datang sepagi ini. Ibu menunggu Haman mandi karena akan membicarakan pertemuan Lidia semalam, sambil minum teh dan  roti  kering. “Bagaimana Bu, ada yang bisa Haman bantu..?” begitu tenangnya Haman memeluk ibunya sambil ibu menceriterakan kedatangan Lidia kerumah,

” Jadi Lidia ke rumah bu..?”

” Iya katanya sih pagi ini mau datang, tolong kamu tunggu ya..”

” Baiklah bu…akan saya tunggu kedatangannya, pagi ini Haman gak ke mana-mana, cuma siang nanti Haman harus keluar lagi ke kantor bu.”

” Syukurlah kalau begitu, ibu jadi lega.”

Sudah jam 07.00 kok Lidia belum datang, ibu mulai tidak tenang . Ketika terdengar suara motor masuk ke gerbang ibu lega karena Lidia sudah melayangkan senyumnya.

” Selamat pagi ibu…” sapa Lidia

” Bagi nak Lidia, ibu pikir tak jadi datang,” Lidia cuma senyum

” Mas Haman sudah bangun bu..?” tanya Lidia pelan

” Sudah, ayo masuk nak Lidia.” Ibu mengajak Lidia masuk sambil memegang tangan Lidia. ” Man ini ada yang mencari kamu…Lidia.” Haman yang tadi sedang minum teh berpindah ke ruang tamu yang jaraknya berdekatan maklum rumah tipe 21 hanya berbatas loster saja. ” Hai Lid ! apa kabar kamu..! waahh sudah nikah ya…” Haman mencoba bergurau agar tidak tegang .Lidia lansung mencium tangan Haman, ” Maaf kan Lidia mas Haman, ini bukan keinginan Lidia, Lidia diancam sama bapak dan ibu..hape di sita..pasti mas Haman kecewa sama Lidia, tapi Lidia menunggu kepulangan mas Haman lewat pak Yusuf, karena Pak Yusuf bertetangga dengan bibi di jalan Mulawarman, makanya Lidia tinggal bersama Bibi agar tahu kabar mas Haman,  Kini Bibi pun ikut terancam  fitnah dari Ayah.” Lidia menangis sesenggukan

Haman bingung campur kasihan ..kenapa begitu tega Ayah dan ibu Lidia memaksakan Lidia untuk menikah dengan orang yang tidak dikenal anaknya, tiba-tiba ada taksi berhenti di depan rumah.

” Itu Bibi Ambar, bibi Lidia yang di Mulawarwan mas Haman.” seru Lidia pada Haman dan benar Bibi Ambar segera menemui Lidia ” Lidia gawat !! bapak kamu akan membakar rumah bibi..bagaimana ini..”.

” Sekarang bapak dimana Bibi..?” Lidia cemas sekali

” Menuju Mulawarman… bibi takut, tapi bibi dah minta pak Yusuf mengamankan lingkungan dan menghubungi polisi…tapi bibi takuuutt..” Bibi Ambar gemetaran, Ibu Haman segera memberikan segelas air putih sambil mengajak bibi Ambar masuk rumah. Haman menanyakan  sebenarnya ayah Lidia mengapa begitu kejam sama keluarganya, dan Bibi Ambarpun bercerita : Ayahmu itu sebenarnya bukan ayah kandung dia menikahi ibu kamu ketika kamu masih bayi, Ayah kandung kamu meninggal karena kecelakaan setahun kemudian ibu kamu menyusul dan bibi yang menjaga kamu sampai kamu kelas lima dan ayakah tiri kamu menikah sama ibu Rima yang sekarang jadi ibu kamu, dan meminta kamu tinggal di rumah kamu karena ia menginginkan rumah ibu kandung kamu, bibi diancam agar menyerahkan kamu, tapi kamu sudah terbiasa sama bibi sehingga tidak betah berkumpul bersama mereka.”

“Tolong Haman lindungilah Lidia..hanya kamulah yang mampu menolong Lidia”. Haman memeluk Lidia…”betapa jahatnya aku sudah menuduh kamu yang tidak-tidak, Lidiaku sungguh malang perjalanan hidup kamu..maafkan aku…aku akan menjaga kamu selamanya.”

Bunyi klakson di luar mengagetkan  mereka yang sedang berkumpul di rumah itu. dan ternyata pak Yusuf mengabarkan kalau ayah tirinya Lidia sudah ditangkap polisi karena kejahatannya dan ibu Rima memalsukan dokumen ibunya Lidia

” Bu Ambar suami ibu ada bersama saya, dia terjatuh waktu berkelahi sama ayah tiri  Lidia.” pak Yusuf memberitahukan pada bu Ambar .  Pak Yusuf, Haman dan Lidia segera memapah paman Lidia masuk.

Karena sudah ada janji maka Haman segera besih-bersih badan dan berangkat bersama pak Yusuf. ” Ibu, Paman , Bibi, Lidia, kalian istirahatlah dulu saya ada pertemuan dengan  bapak Surahman nanti kita lanjutkan lagi, AsallamuAllaikum.”

” WaAllaikum salam,” mereka menjawab bersamaan

Tukang sayur menawarkan dagangannya, ibu Haman memanggilnya dan memborong belanja karena hari ini hari yang baik yang ditunggu-tunggu anaknya Hamandi, dan Keluarga Lidia. Menjelang sore Haman baru tiba dirumah dan menemui ibunya. Di meja sudah tersaji masakan siap disantap , malam itu ibu Haman meminta anaknya untuk melamar Lidia pada paman Lidia mumpung kumpul semua, dan paman Lidia menerima dengan tangan terbuka.

” Maaf paman mungkin ini akan kami perbaiki, karena ini belum resmi saya melamar Lidia paling tidak itu keinginan saya saat ini sudah terwujud dan kami akan melamar secara syah di rumah siapa ini Paman..?”

” Di rumah paman tidak  apa-apa, kan Lidia sudah yatim piatu jadi pamanlah yang mengangkat pernikahan Lidia, lagian Paman juga tidak punya keturunan,ini adalah suatu karunia”. Pak Yusuf yang dari tadi nungguin acara mereka menjadi senang karena dia akan diangkat menjadi sopirnya pak Hamandi dan Hamandi akan menceriterakan hasil pertemuan dengan pak Surahman. ” Ibu, Lidia, Paman dan Bibi saya sangat bersukur sekali hari ini,  pertama saya akan segera meminang Lidia, kedua Saya akan diangkat akhir bulan ini sebagai Manager di cabang baru di Yogyakarta, dan saya harus di Ungaran dulu mempelajari berkas selama tiga bulan dan saya ditemani pak Yusuf sebagai driver saya. Pak Yusuf menganggukkan kepala