Cerpen

AKIK BERTUAH DARI PACITAN

November 14, 2018

Salamun menerima tamu dari Semarang pak Iskandar namanya, priya paruh baya yang berkumis tebal dan berpenampilan tegang kurang senyum berkesan angker. Pak Salamun seorang duda beranak tiga anaknya masih kecil-kecil karena istrinya sudah meninggal terserang penyakit kronis kanker payudara, Salamun yang mengurus semua keperluan anak-anaknya, yang sulung kelas lima SD  bernama Marno , anak keduanya kelas tiga SD bernama Martani dan yang bungsu perempuan kelas satu bernama Rita, Salamun mendidik  anaknya semampunya sambil berjualan batu akik. tamu yang dari Semarang itu memesan batu akik kecubung tapi batu itu menghilang ketika hendak diberikan  kepada pak Iskandar akhirnya pak Iskandar memilih yang lainnya malah dia mendapatkan batu merah delima, batu itu ia beri harga 10 juta dan pak Salamun menerima pemberian pak Iskandar, Pak Salamun yang lugu tak pernah memberikan tarif harga batu akiknya bahkan dia tak mau menghafal nama-nama batu akiknya, silahkan pilih kalau suka dan bayarlah jerih payah saya semampu kamu.

Sederhana memang cara Ia menjual batu akiknya sehingga membuat takut orang yang beli untuk menipunya. Geli memang termasuk pak Iskandar, dia memilih kecubung tapi dapetnya merah delima dan pak Salamun berkata Batu kecubungnya tak mau ikut sampeyan pak, maka pilihlah yang lain. kejujuran pak Salamun membuat takut pak Iskandar ketika dia menemukan merah delima dan cuma membawa uang enam juta harus mengambil tambahan uang di ATM nya. agar bisa jangkep 10 juta. Pak Iskandar segera meninggalkan Pacitan  balik ke Semarang, Pak Iskandar menelepon teman-temannya pecinta batu akik kalau dia barusan mendapatkan batu merah delima  dari Pacitan dan batu itu besarnya sekepal tangan dewasa , amat besar tentunya bila dipakai di jari-jari  atau digunakan sebagai kalung , ia ingin membagi kepada teman-temannya apabila cocok harganya.

“Iya nanti malam kerumah saya sambil membawa alat untuk menilai kadar aslinya sesuai alat masing-masing. Jam 21 ya..jangan malem-malem aku capek pingin istirahat dulu ” begitu pak Iskandar mengatur pertemuan dengan temannya.

” Is aku di turahi yo akik mu merah delima  ben bisa sugih koyok awakmu .” kata Karmanto sahabat lamanya.

” Kowe ki ada-ada saja yen pingin  sugih yo kudu usaha ojo duwe pikiran sing ra masuk akal ” jawab Iskandar sambil nyetir.

” Watu sing kok gowo iku soko ngendi to…? bakule sopo…? aku cari di Pacitan gak ada batu yang sebagus milikmu”  sanggah Karmanto.

” Waaahhhh panjang ceritanya Kar…aku ketemu pak Salamun di pinggir laut dia barusan keluar dari goa dan ngobrol kalau dia punya batu bagus-bagus dan menunjukkan padaku batu-batu itu di rumahnya, tapi karena aku  tak membawa uang aku balik ke Semarang tapi karena batunya banyak dia memberiku batu akik kecil-kecil seperti yang aku tunjukkan pada kamu, dan aku akan kembali lagi satu bulan lagi memesan batu Kecubung. tapi aku malah dapet merah delima yo beneran iso tak pamerke karo sampeyan -sampeyan ” cerita pak Iskandar pada Pak Karmanto.

” Yo wis ko bengi tak ning omahmu ojo mbok tinggal lungo yo…?”

“Ora-ora kapan aku ngapusi awakmu..! tak tunggu ki aku tak leren sik ning warung, aku luwe banget ”

Pak Iskandar makan diwarung lesehan pnggir pantai, pingin lekas sampai rumah tapi masih harus nyetir tiga jam lagi sampai Semarang, capek rasanya mana sendiri lagi. Begitu kenyang pak Iskandar langsung ngebut lagi arah Semarang.

Salamun bingung dengan batu akik kecubung itu, dimana tadi ia meletakkannya kok tiba-tiba hilang… padahal tadi tak bawa menuju pak Iskandar kok tiba-tiba hilang. Salamun mengambil air untuk minum tapi dia heran kenapa batu kecubung itu berada di dalam gelasnya waktu makan tadi..tadi pagi? Salamun bingung tak ada orang di sini kecuali dia sendiri anaknya tadi masih sekolah semuanya, aahhhh…gak tahu …malah pusing nanti aku. Habis minum ia mencuci batu akik kecubungnya biar gak lari-lari lagi begitu fikirannya, batu akik kecubung itu mendadak gemerlap,  Salamun takut dan menyimpannya di bawah bantal tempat tidurnya.

Rita pulang dari Sekolah membawa kerupuk pesanan ayahnya, dan menaruhkan di gledeg lalu memasukkannya di kaleng krupuk, dan melihat bakul nasi masih penuh nasinya. Rita mengambil nasi lalu makan sama kerupuk dan sambal. Rita capek selanjutnya nyusul bapaknya tidur dikamar. Rita seperti orang bingung naik turun ranjang melihat tasnya dan menutupnya lagi, pak Salamun melihat Rita yang mirip ibunya kebingungan lalu pak Salamun bertanya

” Kena apa kamu kok kelihatan bingung…?”

” Anu …pak.. tas  Rita bodol…( Rita mengecek tasnya di depan mata pak Salamun ) pensil sama setip penghapuse ilang….( mata Rita berkaca-kaca dia ingat tadi ada orang yang ngingetin kalau ada barang yang jatuh dari tasnya tapi karena ia ingin segera sampai rumah Rita mengabaikannya ….Rita lapar..dia tak pernah diberi uang saku dan harus nunggu sampai rumah makannya )” Rita menangis lirih dan merajuk kepada bapaknya agar membelikan pensil dan penghapus baru karena ada PR.

” Ya mengko ngenteni mbakyumu Martani karo Marno masmu balik, kita tunggu mereka pulang ” begitu jawaban pak Salamun yang membuat Rita sayang dan mencium bapaknya.

” Matur nuwun yo pak, aku mau wis mangan…luwe banget kok pak, ”

” Y o ora popo, nganggo krupuk ro sambel to nduk..?”

” Gih pak…segone sih akeh kok pak yen bapak arep madang sik ”

” Bapak nanti saja nunggu Martani karo Marno nggowo sayure mbok Redjo ”

Bapak teringat batu akik kecubung dan ingin menyimpannya di dalam lemari pakaiannya,  Pak Salamun ngomong sendiri didepan akik itu sambil membersihkan akik kecubung  dan mengelus-elusnya ” Muga-moga permintaan anak-anakku bisa terkabul amiin Ya Robbal Allamin”  Tiba-tiba batu akik itu bergetar dan tangan pak Salamun pun ikut bergetar maka ia meletakkan batu itu di atas meja makan yang campur dengan ruang masak dan ruang makan. Pak Salamun bingung batu itu meloncat-loncat dan berputar-putar, untung pintunya ditutup sehingga Rita tak melihat keanehan itu karena Rita masih asik melihat-lihat tas bodolnya di ruang tamu tempat dagangan bapaknya.

Keanehan itu terjadi lagi yang dengan tiba-tiba diatas meja ada tas baru dan makanan yang sudah masak seperti ayam goreng, sayur sup, dan buah anggur. Pak Salamun matanya melotot penuh keheranan, dia hampir tak percaya melihat itu …disentuhnya makanan itu dan mencium masakannya serta mencicipi ayam gorengnya yang nikmat itu…” Ya Allah…ini apa …kalau boleh hamba ingin memakannya bersama anak-anakku.”  Pak Salamun shollat dzuhur dulu dan memohon ampun kepada Gusti Yang Maha Kuasa karena dia tak bisa masak tahu-tahu ada masakan dihadapannya dan perutnya melilit-lilit karena harumnya masakan itu. Pak Salamun ditemui seorang nenek dan berkata : “Salamun kamu tak usah heran aku ini nenek cubung yang tinggal di batu akikmu tolong rawatlah aku dan jangan sampai kamu menceritakan kejadian ini kepada siapa saja termasuk anak-anakmu  setiap hari aku akan melayanimu terus ”  Di Tengah jalan ketika Marno dan Martani menuju arah pulang didatangi perempuan tua dia berkata pada Martani

” Martani dan Marno ini pesan ayahmu kalian tak usah membeli masakan lagi karena ayahmu sudah menyuruhku agar mengirim masakan setiap hari jadi, kalian pulanglah”  Nenek itu langsung pamitan dan melanjutkan jalannya. Marno dan Martani diam saja karena bingung dan mereka berlari agar cepat sampai serta ingin membuktikan omongan nenek tadi.

” Rita….bapak ada di rumah ” kata Marno

” Iya ada..kenapa kak ..?” tanya Rita

” Tadi bapak ada tamu ya Nenek -nenek ” tanya Martani

” Rita gak tahu kak , karena Rita dimintain tolong Bu Yoyoh mengantar buburnya ke mbok Maryam ”

” Y a sudah ayuk kita pulang ketemu bapak, Kakak sudah lapar nih ” ajak Marno

Sesampai di rumah bapak sudah menunggu dan menyuruh mereka shollat dulu setelah itu baru makan siang, mereka shollat berjamaah Marno sebagai Imam dan segera menuju meja makan. Bau masakan dan ayam gorengnya begitu menggoda lapar dan pak Salamun tersenyum mengajak makan anak-anaknya

” Ayuk kita makan bersama, ayuk Rita makan lagi kamu , kamu kan tadi makan krupuk saja sekarang kita makan yang lezat kiriman nenek Cubung bibiknya babak yang tidak mau diganggu dan dia akan datang sendiri kalau mau.”

Mereka makan dengan lahabnya, masakan itu sungguh nikmat sekali, ayam gorengnya yang lezat dan supnya yang gurih, mengurangi rasa penat dan bergairah lagi..terima kasih nenek Cubung atas kebaikan kamu. Pak Salamun menunjukkan tas baru Rita dan penghapus serta pensil untuk mengganti yang lama Marno dan Martani menanyakan kapan tasnya diganti..? dan dijawab bapak: ” Kita beresin dulu piring-piring kotor dan kamar setelah itu kita berangkat sekarang ” Mereka bergembira karena bapaknya cerita kalau batu akiknya laku lumayan dan menabungnya juga.

 

Selesai.